alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kematian Meningkat, Satgas Desa Ikut Bantu Pemakaman dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Hiskia Andika Weadcaksana Jum'at, 23 Juli 2021 | 18:45 WIB

Kematian Meningkat, Satgas Desa Ikut Bantu Pemakaman dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19
[ILUSTRASI] Pemakaman jenazah  Covid-19 di Salatiga [Suara.com/Dafi Yusuf]

Menurut Indram dalam kondisi saat ini Satgas Desa harus berperan aktif mempunyai tim pemulasaraan dan pemakaman jenazah.

SuaraJogja.id - Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (TRC BPBD) DIY mencatat kasus kematian pasien Covid-19 meningkat dalam sebulan terakhir. Tercatat sudah 2.126 orang meninggal dunia terhitung mulai dari 20 Juni hingga 21 Juli 2021.

"Tingkat kematian total pun jauh lonjakannya dibanding Juni kemarin. Juni itu 525 kasus. Juli ada 2.126 kasus yang kita makamkan dengan protokol Covid-19. Dengan 400-500 di antaranya saat menjalani isoman," kata Wakil Komandan TRC BPBD DIY Indrayanto saat ditemui awak media di BPBD DIY, Jumat (23/7/2021).

Hal itu berpengaruh kepada ketersediaan tim yang harus bertugas melakukan pemulasaraan jenazah hingga pemakaman.

Mengantisipasi hal tersebut, Indra menyebut telah membagi peran dengan seluruh kabupaten/kota yang ada. Termasuk dengan penambahan sejumlah tim relawan yang turut bergabung.

Baca Juga: Kisah Sarjono, Kades Pertama di Sukoharjo yang Jadi Relawan Tim Pemakaman Jenazah Covid-19

"Kami membagi peran dengan kabupaten kota. Kabupaten Kota mendirikam tim untuk pemakaman dan pemulasaran. Sleman ada 8 tim, di Kota ada 6 regu, Kulon Progo ada, Bantul ada," ungkapnya.

Selain itu, Indra menyebut kelompok masyarakat atau Satgas Covid-19 tingkat desa pun turut digandeng guna membantu kinerja di lapangan. Menurutnya dalam kondisi saat ini Satgas Desa harus berperan aktif mempunyai tim pemulasaraan dan pemakaman jenazah.

"Kita sudah memulai memberdayakan Satgas Desa. Kita meminta semua Satgas Desa yang sudah aktif itu harus mempunyai tim pemulasaraan sama pemakaman. Itu tim yang kita siapkan untuk mendukung upaya-upaya percepatan ini karena kalau tidak begitu ora rampung," tuturnya.

Pihaknya juga belajar dari pengalaman yang sempat terjadi di RSUP Dr Sardjito ketika mengalami lonjakan kasus kematian yang cukup tinggi beberapa waktu lalu. Saat itu tim yang ada tidak cukup menangani atau mengurus jenazah hanya dalam satu hari.

"Kami belajar pengalaman Sardjito yang ledakan 63 jiwa itu. Untuk mengurai itu 1 hari itu cuma dapat 46 dari pagi sampai sore. Begitu menginjak malam kami harus mengeluarkan sisanya, akhrinya harus dua hari," terangnya.

Baca Juga: Petugas dan Relawan Pemakaman Jenazah Covid-19 di Jember Dikeroyok Warga, Mayatnya Direbut

Antrean jenazah untuk dimakamkan pun sering terjadi atau ditemui dalam beberapa kesempatan. Salah satu faktor yang menimbulkan antrean itu tidak lain dari belum siapnya keluarga terkait persoalan ketersediaan makam.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait