SuaraJogja.id - Tragedi berdarah 30 September 1965 menyisakan sejumlah kenangan kelam dalam sejarah Indonesia. Lubang berbentuk persegi panjang yang berada di salah satu sudut Yogyakarta turut menjadi saksi bisu pertumpahan darah kala itu.
Lubang persegi panjang dengan kedalaman sekitar 70 centimeter itu lebih dikenal dengan istilah lubang buaya. Laiknya yang ada di Jakarta, lubang buaya yang berlokasi di Desa Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman itu juga menjadi bagian dalam sejarah.
Berada di dalam Kompleks Batalyon 403. Lubang buaya itu menjadi kuburan sementara dua pimpinan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta Brigjen (anumerta) Katamso Darmokusumo dan Kolonel (anumerta) Sugiyono sebelum akhirnya berhasil ditemukan dan dievakuasi.
![Museum Monumen Pahlawan Pancasila di Kentungan, Sleman. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/09/29/67791-museum-monumen-pahlawan-pancasila-di-kentungan-sleman.jpg)
Saat ini 'Lubang Buaya Yogyakarta' tersebut sudah dijadikan sebuah museum. Diberi nama Museum Monumen Pahlawan Pancasila, saksi bisu tragedi 65 itu masih dirawat dengan baik hingga sekarang.
Baca Juga:Tabrak Pikap, Pemotor di Underpass Kentungan Tewas Terlindas Truk Tronton
Saat SuaraJogja.id mengunjungi museum tersebut hanya ada dua penjaga yang tengah membersihkan area sekitar. Sepi, tidak ada pengunjung saat itu.
Dari luar kompleks sebenarnya sudah terlihat sejumlah mobil atau kendaraan yang informasinya dulu digunakan saat peristiwa 30 September 1965 meletus. Begitu juga dengan bangunan semacam pendopo dengan arsitektur Jawa.
"Museum ini menceritakan sejarah PKI waktu itu tahun '65 yang di Yogyakarta. Pahlawannya ada dua saat itu Pak Katamso sebagai Danrem dan Pak Sugiono menjabat Kasrem," kata Pengelola Museum Pahlawan Pancasila, Malis Ari Julianto saat ditemui di Museum Monumen Pahlawan Pancasila beberapa waktu lalu.
Malis menceritakan dulunya kompleks Batalyon 403 ini masih disebut sebagai Batalyon L. Tepatnya tanggal 30 September 1965, Brigjen Katamso menjadi orang pertama yang diculik saat tengah berada di kediamannya.
"Kalau Pak Katamso itu di depan markas Korem yang sekaranv menjadi museum TNI AD. Beliau di sana diculik dibawa ke Batalyon L dibawa dengan mobil yang ada di sana (museum) tadi," ucapnya.
Baca Juga:Prihatin pada Kondisi Underpass Kentungan, Anggota JCW Mandi Kembang di Jalan
Saat itu, Brigjen Katamso disiksa oleh markas komando ini. Lalu tak lama berselang Kolonel Sugiyono juga ikut diculik. Saat itu Sugiyono baru saja pulang dari Semarang. Penyiksaan juga dialami Kolonel Sugiyono saat itu.