Diungkapkan Pipit, sebenarnya sebelum lulus SMP ia sangat ingin untuk masuk ke SMA Taruna Nusantara. Ia menganggap waktu itu jika bisa masuk ke SMA Taruna Nusantara masa depannya terjamin.
"Bisa dapat beasiswa, ada asrama, tegas gitu kan pikiran kebanyakan anak yang waktu itu memang seperti itu bahwa jadi idola itu adalah seperti tentara, itu sebelum sadar. Itu ya masa masa-masa gelap menurutku jadinya karena belum tahu itu," terangnya.
Pipit mulai tahu sedikit demi sedikit masa lalu orang tuanya ketika masuk SMA. Bukan dari kedua orang tuanya langsung melainkan dari cerita teman-teman bapak dan ibunya yang sering datang ke rumah.
Termasuk juga ia mendengar cerita tentang penahanan bapak ibunya. Namun saat itu ia belum bertanya secara langsung kepada kedua orangnya untuk memastikan kebenaran itu.
Baca Juga:Alasan TVRI Tak Tayangkan Film Pengkhianatan G30S PKI
Kenangan mata pelajaran PMP di SMP itu kemudian muncul kembali. Dulu yang ia merasa iba dengan anak yang kisahnya dijadikan bahan pelajaran, kini Pipit sendiri yang mulai sadar bahwa kondisnya tidak jauh berbeda dari cerita itu
"Kemudian ketika tahu itu ya sempat marah, benci. Maksudnya karena selama sebelum aku tahu itu banyak, beberapa kali kejadian yang tanpa kusadari bahwa aku itu ternyata juga bagian dari itu," ungkapnya.
Kemarahan Pipit kepada kedua orang tuanya sempat membuat kondisinya drop. Padahal saat itu ia harus menghadapi ujian kelulusan SMA.
"Aku merasa buat apa sih aku susah-susah sekolah nanti aku lulus terus aku tidak bisa memilih menjadi apa. Karena itu sudah digariskan, kemudian karena aku ingat banget dengan cerita di SMP itu semua anak keturunannya tidak akan bisa menjadi pegawai negeri enggak bisa menjadi tentara, enggak bisa terjadi apa-apa yang ada hubungannya dengan pemerintah, waktu itu ketika mendengar bahwa bapakku ternyata begitu itu aku sudah merasa, hancur ini sudah. Aku enggak bisa menjadi sesuatu yang aku inginkan di Indonesia ini," ujarnya.
Namun saat itu Pipit tetap bertekad untuk menyelesaikan sekolahnya di SMA hingga ia kemudian memilih memupus impiannya jadi tentara dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan.
Baca Juga:1 Oktober 2021, Hari Kesaktian Pancasila atau Hari Lahir Pancasila? Cek Bedanya di Sini
Ingin Jadi Anak Pak Harto