"Jadi kita pakai EWS yang sederhana cuma kalau ada tarikan geseran apa tanah dia akan bunyi. Jadi pakai EWS sederhanalah. Sementara untuk perwakilan yang daerah itu kita ada 3 (EWS) yang pakai telemetri," ungkapnya.
Joko memastikan pihaknya sudah siap dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem di Bumi Sembada. Selain dengan mempersiapkan Tim Reaksi Cepat (TRC), relawan di masing-masing wilayah pun turut digerakkan.
"Ya kita sudah siap. Untuk relawan di tingkatan Kabupaten BPBD, TRC juga sudah persiapkan semuanya ya karena peralatan kita juga sudah ready. Terus peralatan lain-lainnya itu temen-temen kedaruratan sudah siap karena ini sudah masuk musim penghujan," tegasnya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengimbau masyarakat terkait dengan cuaca ekstrem yang bakal terjadi memasuki awal musim penghujan di wilayah DIY. Musim pancaroba itu diperkirakan bakal terjadi pada pertengahan hingga akhir Oktober ini.
Baca Juga:Antisipasi Banjir Lahar, BPBD Sleman Pasang Sensor Baru Peringatan Dini di Kali Boyong
"Masyarakat tetap diimbau tetap waspada, hati-hati saat memasuki awal musim penghujan 2021-2022 ini karena potensi terjadi cuaca ekstrem masih bisa terjadi," kata Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Yogyakarta, Reni Kraningtyas.
Reni menyebut bahwa puncak musim hujan di wilayah DIY sendiri baru akan terjadi pada awal tahun 2022 mendatang. Tepatnya ketika memasuki Januari hingga ke Februari mendatang.
Kendati demikian, potensi cuaca ekstrem bisa saja terjadi pada musim pancaroba atau awal musim penghujan. Tidak semerta-merta hanya pada puncak musim penghujan saja.
"Namun potensi terjadinya cuaca ekstrem di masa pancaroba pun bisa terjadi saat ini, masuk awal musim hujan pun bisa terjadi. Cuma puncaknya musim hujan itu akumulasi intensitas curah hujan dalam satu bulan kita prediksikan yang paling tinggi adalah di bulan Januari," terangnya.