PAD Mandek, Belanja Membengkak: Bantul Cari Jurus Jitu Atasi Defisit 2026

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menegaskan pihaknya tetap optimistis program strategis di tahun depan dapat berjalan sesuai rencana.

Muhammad Ilham Baktora
Rabu, 20 Agustus 2025 | 22:50 WIB
PAD Mandek, Belanja Membengkak: Bantul Cari Jurus Jitu Atasi Defisit 2026
Bupati Bantul petahana Abdul Halim Muslih sebut salah satu nominator bacawabup pasangannya di Pilkada Bantul mendatang, Minggu (18/8/2024). [Kontributor/Julianto]

SuaraJogja.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul tengah menghadapi tantangan defisit anggaran dalam rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2026.

Meski demikian, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menegaskan pihaknya tetap optimistis program strategis di tahun depan dapat berjalan sesuai rencana.

Salah satu fokus utama adalah kebijakan pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk sawah produktif berkelanjutan.

"Pada 2026 kami ingin meringankan beban petani dengan membebaskan PBB sawah produktif berkelanjutan," ujar Halim dikutip dari Harianjogja.com, Rabu (20/8/2025).

Baca Juga:Bantul 'Perang' Lawan Sampah: Strategi Jitu DLH Dongkrak Kapasitas Pengolahan

Namun, Pemkab Bantul juga menghadapi tantangan lain berupa meningkatnya kebutuhan belanja daerah sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih cenderung stagnan.

Kondisi ini memberi tekanan pada sektor pendapatan.

"Tetap ada optimisme karena masih ada sumber pendapatan lain yang bisa dioptimalkan," tambah Halim.

Untuk mengantisipasi dampak defisit, Pemkab Bantul mengambil langkah efisiensi dengan memangkas beberapa pos anggaran yang dianggap tidak mendesak. Kebijakan ini dilakukan agar beban keuangan daerah tidak semakin berat.

Berdasarkan rancangan KUA-PPAS 2026 yang sudah disampaikan ke DPRD Bantul, proyeksi pendapatan daerah ditetapkan sebesar Rp2,131 triliun, dengan PAD diperkirakan mencapai Rp760 miliar.

Baca Juga:Dinkes Bantul Jemput Bola, Siswa SD & SMP Dapat Layanan Kesehatan Gratis di Sekolah

Adapun rincian dana perimbangan masih mengacu pada tahun anggaran 2025, dan akan disesuaikan setelah terbit surat resmi dari Kementerian Keuangan terkait transfer ke daerah serta dana desa 2026.

Sementara itu, kebutuhan belanja daerah diproyeksikan sebesar Rp2,406 triliun yang dialokasikan untuk mendukung program strategis pemerintah pusat maupun daerah.

Dengan demikian, terjadi potensi defisit sekitar Rp275 miliar.

"Defisit ini masih bersifat sementara dan masih mungkin berubah dalam proses pembahasan, karena nantinya akan diantisipasi melalui kebijakan pembiayaan daerah," jelas Halim.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini