- Komunitas Petani Punk Gunungkidul siap menyuplai program Makan Bergizi Gratis melalui integrasi Lumbung Mataraman.
- Integrasi ini bertujuan memotong rantai distribusi panjang, menjadikan pemerintah sebagai pembeli resmi hasil panen.
- Sistem monitoring digital SIMETRIS akan diterapkan, serta standar kualitas pangan akan ditetapkan bersama BGN.
SuaraJogja.id - Komunitas Petani Punk Gunungkidul menyatakan kesiapan untuk menyuplai kebutuhan bahan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu akan dilakukan melalui integrasi dengan program Lumbung Mataraman.
Perwakilan Petani Punk Gunungkidul, Patrisna, atau yang akrab disapa Mas Sibagz, menilai kehadiran Dapur MBG sebagai solusi konkret atas masalah pemasaran yang selama ini mencekik petani muda di Gunungkidul.
"Selama ini hasil pertanian sayur di Gunungkidul luar biasa, namun terkadang bingung untuk pemasaran dan harus bergantung pada pengepul," kata Mas SiBagz, dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026).
Ia berharap langkah ini dapat memotong rantai distribusi panjang yang selama ini menghambat kesejahteraan petani lokal di wilayah tersebut.
Baca Juga:DIY Jadi Pilot Project Nasional, Lumbung Mataraman Terintegrasi Topang Program Makan Bergizi Gratis
"Dengan adanya Dapur MBG, kami berharap petani lokal termasuk potensi petani milenial atau Gen Z, bisa langsung menyuplai kebutuhan bahan pangan tanpa melalui rantai distribusi yang panjang," ujarnya.
Digitalisasi Monitoring Pangan
Saat ini, RM Wahyono Bimarso dari Yayasan Biijana Paksi Sitengsu (Sampeyan Dalem Trah Sultan Hamengkubuwono I) bilang bahwa proyek percontohan (prototype) integrasi Lumbung Mataraman dan BGN direncanakan menyasar 10 kapanewon di Kabupaten Gunungkidul dan 5 kecamatan di Kabupaten Tangerang. Program ini menempatkan pemerintah sebagai off-taker resmi hasil panen lokal.
"Sinergi ini memastikan bahwa petani muda dan petani Punk di Gunungkidul tidak lagi kesulitan dalam pemasaran, karena hasil panen mereka langsung diserap oleh program MBG sebagai off-taker resmi," kata Wahyono.
Untuk menjamin kepastian stok, Wahyono menyampaikan akan diperkenalkan Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi Ketahanan Pangan Strategis (SIMETRIS).
Baca Juga:Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unisa Yogyakarta Bedah Program MBG Lewat Pameran Seni
Sistem ini mengintegrasikan data stok dari Lumbung Mataraman secara real-time dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur sehat di tingkat lokal.
Ia mengungkapkan bahwa koordinasi intensif dengan Badan Gizi Nasional (BGN) saat ini telah memasuki tahap pematangan standar kualitas.
"Dalam upaya menyelaraskan hasil panen petani lokal dengan kebutuhan nasional, Yayasan Biijana bersama BGN menetapkan standar nutrisi dan higienitas yang ketat. Produk pertanian dari komunitas, termasuk Petani Punk Gunungkidul, harus memenuhi kriteria tinggi untuk menu harian siswa," tegasnya.
Penguatan Kelompok Tani
Sementara itu, Lurah Ngleri, Kapanewon Playen, Gunungkidul Supardal, menegaskan bahwa wilayahnya telah menyiapkan infrastruktur pendukung untuk menyokong dapur MBG.
Pemerintah Kalurahan telah membangun 12 sumur tegalan dan akses jalan usaha tani. Tujuannya guna memastikan kelancaran produksi dan distribusi hasil panen.
Ia menambahkan perlunya pendampingan pemerintah pusat dan daerah terkait akses bibit, pupuk, dan lahan.
"Selain itu penguatan kelompok tani di setiap dusun, termasuk kelompok tani milenial dan kelompok tani wanita. Kita mendorong petani untuk berinovasi melalui penanaman berbagai jenis tanaman hortikultura (sayur-mayur) sesuai musim agar pasokan bahan baku tetap stabil," ucap Supardal.