alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pameran Karya Seni Ponpes Al Fatah Jogja, Gebrakan Transpuan Melebur ke Masyarakat

Eleonora PEW | Muhammad Ilham Baktora Jum'at, 12 November 2021 | 15:25 WIB

Pameran Karya Seni Ponpes Al Fatah Jogja, Gebrakan Transpuan Melebur ke Masyarakat
Sejumlah transpuan menunjukkan hasil karya mereka saat pameran dan peringatan Transgender Day of Remembrance (TDOR) di Ponpes Waria Al-Fatah, Banguntapan, Bantul, Kamis (11/11/2021). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Pameran ini untuk memperingati Transgender Day of Remembrance (TDOR).

SuaraJogja.id - Deretan batik jenis shibori tertata di sebuah meja panjang bertaplak putih. Beberapa kain batik buatan tangan juga menggantung di sekitar ruangan di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta, Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Tidak hanya kain-kain yang dipamerkan, kerajinan tangan dari sisa plastik juga dimanfaatkan dan dibuat menjadi wayang. Selain itu, sejumlah foto kegiatan transpuan beberapa tahun terakhir dipamerkan juga di dalam ponpes tersebut.

Bukan tanpa alasan pondok pesantren yang didirikan sejak 2014 ini menggelar pameran karya seni dan kerajinan tangan. Acara ini bertujuan untuk memperingati Transgender Day of Remembrance (TDOR).

Shinta Ratri menunjukkan dokumentasi kegiatan para transpuan saat pameran dan peringatan Transgender Day of Remembrance (TDOR) di Ponpes Waria Al-Fatah, Banguntapan, Bantul, Kamis (11/11/2021). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Shinta Ratri menunjukkan dokumentasi kegiatan para transpuan saat pameran dan peringatan Transgender Day of Remembrance (TDOR) di Ponpes Waria Al-Fatah, Banguntapan, Bantul, Kamis (11/11/2021). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Kegiatan tersebut merupakan serangkaian acara yang dibuka pada Rabu (10/11/2021) dan ditutup pada Sabtu (20/11/2021) depan. Puncak acara akan digelar pemutaran film bersama di ponpes setempat. Kegiatan juga dihadiri oleh sejumlah transpuan yang berada di wilayah Jogja hingga luar kota.

Baca Juga: KaIND Hadirkan Batik Scarf Bernuansa Modern, Pakai Pewarna dari Ampas Kopi

"Di samping memperingati TDOR, kegiatan ini adalah bentuk evaluasi kami selama menjalankan sekolah sore dan juga aktivitas yang dijadwalkan di Ponpes Al-Fatah," kata Ketua Ponpes Waria Al-Fatah Yogyakarta, Shinta Ratri ditemui Suarajogja.id, Kamis (11/11/2021).

Puluhan pameran karya itu ada yang dijual dan dijadikan sebagai potret bagaimana perjalanan transpuan di Kota Pelajar. Adapun makna yang ingin diberikan, bahwa kegiatan-kegiatan tersebut merupakan upaya untuk mengadvokasi penerimaan transpuan dalam kebijakan, kebudayaan dan hal lain yang ada di tengah kehidupan masyarakat.

"Jadi kami ikut berjuang di dalam berbagai lini, baik itu spiritual, ekonomi, peningkatan kesejahteraan, kesehatan dan paling penting adalah mendapatkan rasa aman. Karena itu hak setiap warga negara," terang Shinta yang merupakan alumni Universitas Gadjah Mada.

Dalam advokasi yang dilakukan transpuan berjumlah lebih kurang 62 orang itu juga menggandeng sejumlah lembaga sosial dan pendidikan sebagai jejaringnya. Sehingga masyarakat tidak melulu memandang sebelah mata dengan kehadiran transpuan.

"Artinya ada pesan untuk menunjukkan bahwa kami ada dan merupakan bagian dari lingkungan juga. Sehingga cara-cara ini yang kami buat agar terlihat bagaimana transpuan ikut bersosialisasi," terang dia.

Baca Juga: Bosan Kondangan Pakai Batik, Rombongan Tamu Ini Nekat Pakai Kostum Tak Terduga

Kondisi saat ini, lanjut Shinta berbeda dengan pada tahun 2008 silam, dimana waria pada saat itu masih selalu dilibatkan dalam kegiatan bersama. Menurutnya berkembangnya zaman, politik dan pemikiran masyarakat seakan dikucilkan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait