Bahas Radikalisme, Guru Besar UGM Sebut Pendidikan Agama Kurang Perhatikan Spiritualisme

Prof Subandi mengandaikan, agama tanpa spiritualitas bagaikan sebuah wadah tanpa isi.

Eleonora PEW
Kamis, 25 November 2021 | 19:19 WIB
Bahas Radikalisme, Guru Besar UGM Sebut Pendidikan Agama Kurang Perhatikan Spiritualisme
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta - (Antara/Rizky)

SuaraJogja.id - Guru Besar Psikologi UGM, Prof Subandi, mengatakan bahwa radikalisme tersebut menandakan kurangnya pendidikan spiritualisme di Indonesia.

Pernyataan tersebut ia sampaikan sebagai tanggapan untuk hasil survei yang diterbitkan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2018 lalu, yang menunjukkan bahwa pada level sikap/opini, siswa, dan mahasiswa Indonesia yang memiliki pandangan keagamaan nan cenderung radikal mencapai angka 58,5%.

“Kita lebih memfokuskan pada (pendidikan) agama, tapi kurang memperhatikan faktor spiritualitas (di dalamnya),” tutur Prof Subandi dalam webinar ‘Pemikiran Guru Besar Universitas Gadjah Mada: Menuju Indonesia Maju 2045 Bidang Sosial Humaniora’ yang disiarkan melalui kanal Youtube Universitas Gadjah Mada pada Senin, (22/11).

Prof Subandi menjelaskan, agama dan spiritualitas sebetulnya adalah dua hal yang berbeda, walau memiliki ketersinggungan yang sangat dekat.

Baca Juga:Jelang Moto GP 2022 di Mandalika, Pemerintah Lombok Tengah Waspadai Ancaman Paham Radikal

Dalam kehidupan rohani seseorang, agama adalah bagian luar yang terlihat (eksoteris, lahiriah), sedangkan spiritualitas adalah bagian dalam (esoteris, batiniah). Agama disini dapat berupa praktik peribadatan/ritual, ajaran benar dan salah, dan lain sebagainya.

Sedangkan spiritualitas adalah pengalaman subjektif individu terkait kesucian atau pencarian makna keberadaan manusia di dunia. Bagi Prof Subandi, spiritualitas tersebut lebih tepatnya adalah sebuah kesadaran.

Prof Subandi mengatakan terdapat empat komponen dari spiritualitas atau kesadaran tersebut, yaitu kesadaran ketuhanan, kesadaran diri, kesadaran kemanusiaan, dan kesadaran alam.

Pertama adalah kesadaran Ketuhanan. Kesadaran ketuhanan adalah pengalaman individu dalam “terhubung” (terkoneksi) dengan Eksistensi Yang Maha (Tuhan), atau bagaimana individu dalam merasakan “kebersamaan” dengan Tuhan. Prof Subandi menegaskan kesadaran ketuhanan ini menjadi fondasi serta melingkupi semua bentuk kesadaran sehingga terhubung dan terintegrasi.

Kesadaran kedua adalah kesadaran diri. Kesadaran diri disini memiliki arti sebagai keterhubungan manusia dengan eksistensi dirinya sendiri, baik eksistensi terhadap yang ada luar dirinya (kognitif), maupun kesadaran diri yang lebih dalam seperti hakikat dirinya: siapa dan darimana asalnya dan apa tujuan hidupnya.

Baca Juga:Wakil Ketua MPR: MUI Seharusnya Berfungsi Menderadilkalisasi, Malah Tersusupi Radikalisme

Ketiga ialah kesadaran kemanusiaan. Kesadaran kemanusiaan tidak lain adalah kesadaran bahwa manusia itu saling terkait antar satu dengan yang lain, dan lalu memiliki aneka ragam agama, budaya, ras suku, etnis, bahkan karakter pribadi yang berbeda. Hal ini kemudian mengacu kepada hakekat manusia sebagai satu keluarga yang harus saling mendukung, saling menolong, serta saling mengasihi.

Terakhir terdapat komponen kesadaran alam. Kesadaran alam adalah kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari kehidupan di alam, baik dengan alam yang tampak di sekitarnya, maupun alam semesta nan luas (kesadaran kosmos).

Prof Subandi berharap, pendidikan spiritual dapat dilakukan sejalan dengan pendidikan agama. Selama ini, pendidikan spiritualitas sering terabaikan sehingga agama hanya menjadi bentuk dogma dan ritual-ritual dalam masyarakat.

Prof Subandi mengandaikan, agama tanpa spiritualitas bagaikan sebuah wadah tanpa isi. Sebaliknya kalau spiritualitas tanpa agama adalah isi yang tidak ditutupi oleh wadah.

“Karena spiritualitas itu kurang diperhatikan, maka agama cenderung bisa menjadi radikal, (sehingga) ini menjadikan potensi konflik SARA di Indonesia menjadi tinggi…… (pendidikan) spiritualitas bisa menjadi solusi yang bisa (dilakukan),” pungkas Prof Subandi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak