“Butuh peran dan kebesaran hati orang tua yang mendapatkan hak asuh anak agar proses transisi ini berjalan lancar pasca-perceraian dan anak tidak membenci orang tuanya,” tutur Samanta.
Hal senada juga dikatakan oleh Vera. Ketika orang tua saling tidak berhenti menjelekkan satu sama lain, yang terjadi justru muncul kebingungan dan kemuakan pada diri anak karena merasa orangtuanya tak kunjung dewasa dalam menghadapi masalah.
“Pertikaian berkepanjangan hanya akan menambah beban kecemasan pada anak,” ujar Vera.
Ketika orang tua bercerai, anak dapat mengalami serangkaian emosi yang bisa berubah-ubah mulai dari kemarahan, kesedihan, kebingungan, kecemasan, tidak percaya diri dan merasa dirinya tak berharga, menyalahkan diri sendiri, hingga trauma dan takut menjalin relasi di masa dewasa.
Baca Juga:4 Cara agar Anak Tidak Trauma Menghadapi Bencana, Ajari Mereka Mencintai Lingkungan
Samanta mengatakan trauma pasca-perceraian bisa memberikan efek berbeda bergantung pada usia anak saat perceraian terjadi, kedekatan anak dengan orang tua, serta seberat apa konflik yang dihadapi orang tua.
Bagi anak yang memiliki orang tuanya yang selalu terlihat harmonis, lanjut Samanta, mereka akan cenderung lebih berat dalam penyesuaian pasca-perceraian. Selain itu, bagi anak di bawah usia 3 tahun umumnya belum terlalu memahami mengenai apa yang sesungguhnya terjadi, namun tidak menutup kemungkinan memiliki dampak psikologis di kemudian hari. [ANTARA]