"Mulai saat itu kita mengajukan ke Keraton untuk dijadikan tempat ibadah. Sekitar tahun 1965 kita mendapat izin dan bekerja bakti untuk memfungsikan masjid itu," katanya.
Terletak lebih rendah dari bangunan rumah milik warga. Masjid Sela kerap kebanjiran saat hujan deras, warga biasanya harus berjaga-jaga agar air tidak masuk sampai ke serambi masjid.
Solusi pun dicari agar banjir itu tak merusak bangunan di dalam masjid. Tidak jauh setelah masjid difungsikan sebagai tempat ibadah, sumur resapan akhirnya dibuat. Ada sekitar dua sumur yang disediakan warga.
Dibangun sejak 1709 Tahun Saka atau sekitar 1789 Masehi, bangunan atap masjid masih asli sejak didirikan. Pihak takmir hanya mengecat agar warna tak memudar.
Baca Juga:Kuburan di Kabupaten Bogor Kelak Tak Lagi Angker dan Horor, Ini yang Akan Dilakukan Pemkab
Selama Ramadhan kali ini, pihaknya tetap menyediakan takjil berbuka. Namun mengingat kondisi Covid-19 meski tidak setinggi tahun lalu, jemaah dibagikan takjil seusai salat maghrib
"Aktivitas sekarang lebih banyak juga, ceramah dan salat tarawih sudah kita gelar. Tapi untuk buka bersama masih kami batasi. Salat lima waktu dan juga Salat Jumat kita gelar juga di sini," kata dia.
![jemaah muslim bergegas pulang usai menjalankan salat dzuhur di Masjid Sela atau Masjid Batu di RT 41/RW 11, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Jogja, Minggu (17/4/2022). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/04/17/59217-masjid-sela.jpg)
Harapannya sebagai salah satu baitullah, Masjid Sela menjadi tempat warga Panembahan mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan penuh berkah ini. Bukan hanya untuk diri sendiri, aktivitas di Masjid Sela bisa ikut menularkan ke muslim lainnya.
"Ke depan kita terus melakukan kegiatan yang bermanfaat harapan kita di akhir Ramadhan kita meraih kemenangan bersama-sama itu yang kita harapkan," terang dia.
Baca Juga:Viral Toilet Salah Salah Mall di Medan Disebut Angker, Ini Penjelasan Manajemen