facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Tunggu Motor Diservis, Anak Pengacara Jadi Korban Kerusuhan di Babarsari

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Selasa, 05 Juli 2022 | 15:09 WIB

Tunggu Motor Diservis, Anak Pengacara Jadi Korban Kerusuhan di Babarsari
Kondisi kantor Firma DHEN & Partners yang berada Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, masih terlihat tutup, Selasa (5/7/2022). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

anak pengacara turut jadi korban dalam kerusuhan di Babarsari

SuaraJogja.id - Seorang anak pengacara berinisial KP (18) turut menjadi korban dalam kerusuhan yang terjadi di Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (4/7/2022) siang kemarin. Ia terluka setelah terkena lemparan batu sekelompok orang yang diduga terlibat dalam perusakan sejumlah ruko dan motor tersebut. 

Ayah korban, Heru Nugroho (45) mengungkapkan peristiwa tersebut bermula saat anaknya berada di kantornya yakni Firma DHEN & Partners. Diketahui bahwa kantor itu berada di deretan ruko atau kompleks Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, yang dilakukan perusakan tersebut pada Senin sekitar pukul 11.30 WIB.

"Dia kan sebenarnya servis motor di sebelahnya Superindo Babarsari. Itu kan sama kantor dekat karena motornya antre servis di situ, kan lama. Jadilah saya minta dia tunggu di kantor saja. Baru sampai kantor, baru berapa lama, belum setengah jam terus dia WA. Ini ada rusuh-rusuh di sekitar kantor," kata Heru saat dihubungi awak media, Selasa (5/7/2022).

Heru yang saat itu tidak berada di lokasi meminta anaknya untuk diam di dalam ruangan saja. Namun kerusuhan saat itu semakin memanas dengan sejumlah benda yang dibakar.

Baca Juga: Pemkab Sleman dan Para Sesepuh Kelompok Jalani Mediasi Pascakerusuhan di Babarsari

"Saya bingung, apa disuruh keluar atau di dalam saja. Baru berpikir itu, saya telepon lagi, saya bilang ada di mana. Dia sudah duluan kena," ujarnya.

Ketika itu, kata Heru, berdasarkan keterangan dari anaknya kaca kantor sudah dihancurkan. Lemparan batu pun sudah masuk hingga ke dalam kantor.

"Mau lari keluar, dia kena batu, pecahan kaca itu. Nggak bisa akses keluar akhirnya," ucapnya.

Tidak berhenti sampai di situ, Heru melanjutkan rombongan massa bahkan sempat merangsek masuk ke kantor. Bahkan sejumlah orang dari rombongan itu juga sempat mengancam anaknya dengan senjata tajam.

"Mereka merusak (dalam kantor) sambil mengancam pedang di lehernya anak saya. Padahal dia posisi terluka di tangan, kena pecahan kaca, beberapa titik di dada sama perutnya juga sudah kena batu besar-besar itu kan," jelasnya.

Baca Juga: Sampai Bawa Sajam, Ini Fakta Lainnya soal Kerusuhan di Babarsari

Disampaikan Heru, kondisi mencekam itu membuat KP shock dan memohon kepada massa untuk dibebaskan. Beruntung masih ada satu orang dari massa yang membantu anaknya KP untuk keluar dari situasi tersebut. 

"Untung ada yang baik dari mereka. Ada juga yang menyelamatkan. Sudah lari saja. Ada satu orang yang seperti itu. Dia (KP) nunduk-nunduk sampai ampun gitu. Hampir dikeroyok 5-10 orang," terangnya.

KP yang berhasil keluar dari kantor tersebut lalu dibawa seseorang ke lokasi lebih aman. Sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit JIH untuk mendapatkan pertolongan medis.

Saat ini, disebutkan Heru, anaknya masih mengalami trauma atas peristiwa kerusuhan tersebut. Walaupun memang sudah tidak berada di rumah sakit untuk perawatan.

"Semalam sudah saya bawa pulang. Karena, kan, boleh rawat jalan. Terus kemudian kondisi sesaknya masih ada. Kemudian bangun tidur masih susah. Karena kan mungkin memar di dada dan rusuknya. Dia juga konsumsi obat dari dokter," paparnya.

Heru menuturkan akibat kerusuhan itu kantornya mengalami sejumlah kerusakan. Sedangkan kerugian sendiri ditaksir hingga Rp40 juta.   

Ditambahkan Heru, ia telah melaporkan peristiwa yang menimpa anaknya tersebut ke Polda DIY pada Senin (4/6/2022) sore kemarin. Pihaknya berharap kasus ini dapat ditangani secara tuntas oleh kepolisian.

"Saya berharap aparat penegak hukum bisa mengusut tuntas kasus ini. Jujur saya prihatin dan kecewa dengan perilaku sejumlah oknum kelompok masyarakat ini, karena sangat merugikan kami yang sama sekali tidak tahu menahu akan persoalan mereka," pungkasnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait