Dia kemudian berlari menuju ke lantai 2 tempat atap tersebut runtuh. Saat itu, ia melihat para siswa ada yang menyelamatkan diri di bawah meja. Ia menyebut satu anak yang mengalami kritis tersebut terjepit baja ringan dan juga tumpukan besi.
"Kondisinya itu semaput [pingsan]. Semoga segera sadar karena anak itu kasihan, kemarin bapaknya meninggal," kata dia.
Diapun langsung bergegas berusaha menyelamatkan para siswa. Ia kemudian melakukan evakuasi menggunakan kendaraan pribadi. Dia juga mengumumkan melalui pengeras suara masjid dekat SD untuk meminta warga datang membantu evakuasi.
"Saya umumkan lewat pengeras suara masjid untuk bantu evakuasi. Kalau tidak salah ada 10 anak yang saya angkut robek bagian kepala dan banyak darahnya," ujar dia.
Jumirin pun mengungkapkan jika warga sekitar sudah sempat menegur sekolah. Sebab warga mengkhawatirkan kondisi bangunan sekolah, meski temboknya kokoh namun atapnya tidak standar. Di mana rangka atap terbuat dari baja ringan namun gentengnya menggunakan genteng press.
Baca Juga:Atap SD Muhammadiyah di Gunungkidul Ambrol, Satu Orang Kritis Usai Tertimpa Baja Ringan
"Sebenanrya bangunan sendiri sudah berdiri sejak lima tahun silam. Tapi kalau baja ringan sebagai penopang atap ia nilai tidak kokoh. Kemudian kalau baja ringan harusnya pake genteng khusus bukan genteng press. Apalagi pemasangannya kayaknya tidak standar. Karena pemasangannya tidak rapet, baja ringannya satu meter satu, akhirnya dikasih genteng, genteng press tidak kuat," kata Jumiran, di lokasi kejadian.
Kontributor : Julianto