- Sutradara Angga Dwimas Sasongko menyambut baik transformasi LSF menjadi lembaga klasifikasi film di Yogyakarta, Sabtu (29/11/2025).
- Angga menilai perubahan ini mengakhiri praktik sensor yang dianggap mengekang kreativitas sineas selama puluhan tahun.
- Ia mengusulkan pemerintah fokus pada penataan ekosistem dan menginvestasikan pajak film untuk pendidikan film daerah.
Lebih dari itu, ini adalah kesempatan membangun budaya menonton yang sehat, sekaligus memulihkan kepercayaan terhadap profesi pembuat film yang selama ini kerap merasa dipasung.
Dalam iklim baru ini, film dapat dinilai sebagaimana adanya, tanpa distorsi sensor yang menabrak makna. Penonton diberi otonomi, sineas diberi ruang, dan negara tetap berada pada porsi yang tepat: menjamin regulasi dan menumbuhkan pendidikan.
Setelah puluhan tahun praktik pemotongan dan pemburaman yang melemahkan kualitas pengalaman menonton, langkah ini menjadi sinyal kuat bila Indonesia siap bergerak menuju industri film modern. Tak hanya menghargai kreativitas, namun juga kecerdasan publik, dan integritas karya.
"Biarkan itu jadi. Biarkan ekosistemnya hidup sendiri," imbuhnya.
Baca Juga:Refleksi Film Jumbo, Psikolog Tekankan Pentingnya Kehadiran Orang Tua dalam Tumbuh Kembang Anak
Kontributor : Putu Ayu Palupi