Ketika Sawit Sekadar Soal Untung, Pakar Sebut Potensi Besar Pakan Ternak jadi Terabaikan

Integrasi sawit-ternak di lahan sawit bisa tekan biaya pakan impor, suburkan tanah, & dukung pangan berkelanjutan, meski perusahaan sering abaikan potensi ini.

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 15 Januari 2026 | 06:53 WIB
Ketika Sawit Sekadar Soal Untung, Pakar Sebut Potensi Besar Pakan Ternak jadi Terabaikan
Ilustrasi kebun sawit dan peternakan. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Pakar UGM menyoroti potensi 15 juta hektare sawit untuk pakan ternak, namun sering terabaikan orientasi keuntungan perusahaan.
  • Integrasi ternak di bawah tegakan sawit dapat menekan biaya pakan, menyuburkan tanah, serta menciptakan sistem pertanian berkelanjutan.
  • Untuk efektivitas, integrasi perlu didukung pengembangan varietas pakan unggul dan pemanfaatan limbah sawit guna menekan impor.

SuaraJogja.id - Di tengah tingginya biaya pakan ternak dan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku pakan saat ini, 15 juta hektare perkebunan kelapa sawit di negara ini sebenarnya menyimpan potensi besar.

Namun sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal karena banyak perusahaan sawit hanya berorientasi pada keuntungan semata.

Pakar peternakan UGM, Bambang Suhartanto menyatakan, di bawah tegakan tanaman sawit, di antara barisan batang yang rapi dan kanopi daun yang kian menutup, sebenarnya terdapat ruang ekologis yang bisa menjadi sumber hijauan pakan ternak

"Sayangnya, ruang itu selama ini lebih sering dipandang sebagai sekadar area gulma yang harus dibersihkan alih-alih bagian dari sistem produksi pangan yang terintegrasi," ungkap Bambang di Yogyakarta, Rabu (14/1/2026). 

Baca Juga:Sororti Gajah Bantu Bersihkan Sisa Bencana, Guru Besar UGM Sebut Berisiko pada Kesehatan Satwa

Menurut guru besar Fakultas Peternakan tersebut, orientasi sebagian besar perusahaan sawit masih sangat berpusat pada keuntungan jangka pendek dari produksi tandan buah segar semata. Perspektif ini membuat potensi integrasi antara perkebunan dan peternakan terabaikan. 

Padahal integrasi tersebut dapat memberi manfaat ekonomi sekaligus ekologis. Apalagi keterbatasan lahan hijauan pakan menjadi persoalan struktural peternakan Indonesia. 

"Perusahaan sawit selama ini fokus pada hasil sawitnya saja. Yang di bawahnya dianggap sebagai beban biaya, gulma yang harus dibersihkan. Padahal, di situ ada peluang untuk memproduksi pakan ternak, menekan biaya peternakan, sekaligus mengembalikan unsur hara ke dalam tanah," tandasnya.

Berbeda dengan negara-negara yang memiliki padang penggembalaan luas, Indonesia harus berhadapan dengan kompetisi penggunaan lahan antara pangan, permukiman dan industri. Akibatnya biaya pakan menjadi mahal dan harga produk ternak pun ikut terdorong naik.

Karenanya perkebunan sawit seharusnya diposisikan bukan hanya sebagai mesin produksi komoditas ekspor. Namun lebih dari itu sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu yang berkelanjutan.

Baca Juga:Pakar UGM: Prioritaskan Kebutuhan Dasar dan Dukungan Psikososial Penyintas Banjir Sumatera

"Kalau kita bicara harga daging atau susu mahal, itu ujungnya selalu kembali ke pakan. Pakan itu komponen biaya terbesar. Selama kita tidak menyelesaikan persoalan pakan, kita akan terus tergantung pada impor dan harga akan selalu tinggi," ungkapnya.

 Pakar peternakan UGM, Bambang Suhartanto menyampaikan tentang potensi sawit sebagai pakan ternak di Yogyakarta, Rabu (14/1/2026). [Suara.com/Putu]
Pakar peternakan UGM, Bambang Suhartanto menyampaikan tentang potensi sawit sebagai pakan ternak di Yogyakarta, Rabu (14/1/2026). [Suara.com/Putu]

Namun dengan mengintegrasikan ternak ke dalam sistem perkebunan, maka sapi dapat digembalakan di bawah tegakan sawit untuk memakan gulma. Sedankan kotoran dan urin ternak akan menjadi pupuk alami yang mengembalikan nutrien ke dalam tanah.

"Ini bukan konsep baru, tapi implementasinya belum luas. Kalau diatur dengan baik, sapi membantu mengendalikan gulma, perusahaan menghemat biaya penyiangan, peternak dapat pakan murah. Tanah sawit tetap subur, ini jadi simbiosis," jelasnya.

Integrasi tersebut, lanjut Bambang bukan hanya persoalan efisiensi ekonomi, tetapi juga keberlanjutan ekologi. Dengan mengembalikan bahan organik ke tanah melalui kotoran ternak, maka siklus hara dapat terjaga.

Kesuburan tanah pun tidak bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia. Dengan demikian sistem produksi menjadi lebih resilien dalam jangka panjang.

"Ini sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan, bahkan biodinamik. Tanah bukan sekadar media tanam, tapi ekosistem hidup yang harus dijaga keseimbangannya," ungkapnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak