- Ledakan sport tourism di DIY menimbulkan potensi kejenuhan akibat kepadatan agenda yang tidak tersinkronisasi antar penyelenggara.
- Kementerian Pariwisata mendorong sinkronisasi kalender dan pengembangan event tematik untuk distribusi waktu dan wilayah lebih merata.
- Event Coast to Coast Night Trail Ultra 2026 menjadi contoh penyelenggaraan berkelanjutan dengan karakter jelas, melibatkan 5.800 peserta internasional.
SuaraJogja.id - Ledakan event sport tourism atau wisata olahraga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa tahun terakhir mulai memunculkan persoalan baru.
Alih-alih hanya membawa dampak positif, kepadatan agenda yang tidak tersinkronisasi dinilai berpotensi menimbulkan kejenuhan, baik bagi wisatawan, masyarakat lokal, maupun ekosistem penyelenggara event itu sendiri.
"Penyakit orang indonesia itu kan fomo (fear of missing out-red), istilahnya melu-melu (ikut-ikutan-red), nah ini yang bahaya bisa membuat kejenuhan seperti menumpuknya event sport tourism," papar Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Harfianisa Bimatar disela road Coast to Coast Night Trail Ultra 2026 (CTC 2026) di Yogyakarta, Minggu (8/2/2026).
Tren sport tourism yang kian masif, menurut Harfi bisa membuat banyak pihak bisa kewalahan. Contohnya bila sejumlah acara sport tourism yang massal digelar dalam waktu dan tempat yang sama, maka pengawalan acara tersebut sulit dilakukan secara optimal.
Baca Juga:Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
Tanpa penataan yang matang, tren tersebut justru berisiko menurunkan kualitas pengalaman wisata. Apalagi dampak dari sport tourism belum bisa dipastkan berdampak signifikan pada meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Kalau semua event hadir di waktu dan lokasi yang berdekatan, kejenuhan itu tidak terhindarkan," ungkapnya.
Karena itu sinkronisasi program pariwisata yang lebih kuat, terutama melalui pengembangan event tematik yang saling melengkapi alih-alih saling menumpuk coba dilakukan Kementerian Pariwisata. Pendekatan pariwisata berbasis event diarahkan menjadi strategi jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap tren sesaat.
Kementerian Pariwisata saat ini tengah mendorong penyelarasan kalender event, khususnya yang dikelola oleh pemerintah daerah. Sinkronisasi tersebut penting agar distribusi event lebih merata, baik secara waktu maupun wilayah.
Pendekatan berbasis tema juga akan membantu promosi pariwisata Indonesia ke pasar internasional. Event tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi pintu masuk untuk mengenalkan destinasi, budaya, dan produk lokal secara lebih terukur.
Baca Juga:Gempa Pacitan Guncang DIY: 40 Warga Dirawat Medis, Kerusakan Terkonsentrasi di Bantul
"Sport tourism itu efektif menggerakkan ekonomi, tapi harus ditempatkan dalam kerangka tematik. Jangan sampai dalam satu wilayah dan satu waktu ada terlalu banyak event dengan karakter serupa. Ini bukan hanya soal wisatawan, tapi juga soal kesiapan petugas, relawan, dan masyarakat," ungkapnya.
Sementara Race Director CTC 2026, Roostian Gamananda, CTC 2026 jadi salah satu sport tourism yang dikembangkan secara berkelanjutan. Event yang akan digelar 14–15 Februari 2026 di pesisir pantai selatan Bantul ini merupakan penyelenggaraan ke-10 atau satu dekade sejak pertama kali digelar oleh Komunitas Trail Runners Yogyakarta (TRY).
"CTC tidak lahir dari euforia tren. Kami tumbuh bersama komunitas. Justru karena itu kami sangat sadar event tidak boleh saling bertabrakan dan harus punya karakter yang jelas," jelasnya.
Sejak awal CTC dirancang sebagai pertemuan komunitas alih-alih sekedar lomba. Konsep tersebut dipertahankan hingga kini, meski skala event terus berkembang secara internasional.
Tahun ini, CTC 2026 mencatatkan lebih dari 5.800 peserta dari 23 negara, menjadikannya salah satu event trail running terbesar di Indonesia. Negara peserta antara lain Rusia, Australia, Jepang, China, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, hingga Aljazair dan Kazakhstan.
Berbeda dengan event lari lainnya, CTC diselenggarakan pada malam hari dengan rute ultra (lebih dari 42 kilometer) menyusuri pesisir pantai selatan. Enam kategori dipertandingkan, mulai dari 7K Cross Country, 15K, 30K, 50K, 80K, 100K Relay of 4, hingga 100K Full Course.
Inklusif, Internasional, dan Berbasis Lokal