Jogja Mulai Jenuh oleh Event Sport Tourism, Sinkronisasi Program Pariwisata Dinilai Mendesak

Ledakan sport tourism di DIY berisiko sebabkan kejenuhan akibat event menumpuk. Perlu sinkronisasi kalender event & tema agar kualitas wisata & ekonomi daerah meningkat.

Budi Arista Romadhoni
Senin, 09 Februari 2026 | 08:38 WIB
Jogja Mulai Jenuh oleh Event Sport Tourism, Sinkronisasi Program Pariwisata Dinilai Mendesak
Potret Jogja dari foto angkasa. (Twitter)
Baca 10 detik
  • Ledakan sport tourism di DIY menimbulkan potensi kejenuhan akibat kepadatan agenda yang tidak tersinkronisasi antar penyelenggara.
  • Kementerian Pariwisata mendorong sinkronisasi kalender dan pengembangan event tematik untuk distribusi waktu dan wilayah lebih merata.
  • Event Coast to Coast Night Trail Ultra 2026 menjadi contoh penyelenggaraan berkelanjutan dengan karakter jelas, melibatkan 5.800 peserta internasional.

SuaraJogja.id - Ledakan event sport tourism atau wisata olahraga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa tahun terakhir mulai memunculkan persoalan baru.

Alih-alih hanya membawa dampak positif, kepadatan agenda yang tidak tersinkronisasi dinilai berpotensi menimbulkan kejenuhan, baik bagi wisatawan, masyarakat lokal, maupun ekosistem penyelenggara event itu sendiri.

"Penyakit orang indonesia itu kan fomo (fear of missing out-red), istilahnya melu-melu (ikut-ikutan-red), nah ini yang bahaya bisa membuat kejenuhan seperti menumpuknya event sport tourism," papar Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Harfianisa Bimatar disela road Coast to Coast Night Trail Ultra 2026 (CTC 2026) di Yogyakarta, Minggu (8/2/2026).

Tren sport tourism yang kian masif, menurut Harfi bisa membuat banyak pihak bisa kewalahan. Contohnya bila sejumlah acara sport tourism yang massal digelar dalam waktu dan tempat yang sama, maka pengawalan acara tersebut sulit dilakukan secara optimal.

Baca Juga:Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan

Tanpa penataan yang matang, tren tersebut justru berisiko menurunkan kualitas pengalaman wisata. Apalagi dampak dari sport tourism belum bisa dipastkan berdampak signifikan pada meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Kalau semua event hadir di waktu dan lokasi yang berdekatan, kejenuhan itu tidak terhindarkan," ungkapnya.

Karena itu sinkronisasi program pariwisata yang lebih kuat, terutama melalui pengembangan event tematik yang saling melengkapi alih-alih saling menumpuk coba dilakukan Kementerian Pariwisata. Pendekatan pariwisata berbasis event diarahkan menjadi strategi jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap tren sesaat.

Kementerian Pariwisata saat ini tengah mendorong penyelarasan kalender event, khususnya yang dikelola oleh pemerintah daerah. Sinkronisasi tersebut penting agar distribusi event lebih merata, baik secara waktu maupun wilayah.

Pendekatan berbasis tema juga akan membantu promosi pariwisata Indonesia ke pasar internasional. Event tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi pintu masuk untuk mengenalkan destinasi, budaya, dan produk lokal secara lebih terukur.

Baca Juga:Gempa Pacitan Guncang DIY: 40 Warga Dirawat Medis, Kerusakan Terkonsentrasi di Bantul

"Sport tourism itu efektif menggerakkan ekonomi, tapi harus ditempatkan dalam kerangka tematik. Jangan sampai dalam satu wilayah dan satu waktu ada terlalu banyak event dengan karakter serupa. Ini bukan hanya soal wisatawan, tapi juga soal kesiapan petugas, relawan, dan masyarakat," ungkapnya.

Sementara Race Director CTC 2026, Roostian Gamananda, CTC 2026 jadi salah satu sport tourism yang dikembangkan secara berkelanjutan. Event yang akan digelar 14–15 Februari 2026 di pesisir pantai selatan Bantul ini merupakan penyelenggaraan ke-10 atau satu dekade sejak pertama kali digelar oleh Komunitas Trail Runners Yogyakarta (TRY).

"CTC tidak lahir dari euforia tren. Kami tumbuh bersama komunitas. Justru karena itu kami sangat sadar event tidak boleh saling bertabrakan dan harus punya karakter yang jelas," jelasnya.

Sejak awal CTC dirancang sebagai pertemuan komunitas alih-alih sekedar lomba. Konsep tersebut dipertahankan hingga kini, meski skala event terus berkembang secara internasional.

Tahun ini, CTC 2026 mencatatkan lebih dari 5.800 peserta dari 23 negara, menjadikannya salah satu event trail running terbesar di Indonesia. Negara peserta antara lain Rusia, Australia, Jepang, China, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, hingga Aljazair dan Kazakhstan.

Berbeda dengan event lari lainnya, CTC diselenggarakan pada malam hari dengan rute ultra (lebih dari 42 kilometer) menyusuri pesisir pantai selatan. Enam kategori dipertandingkan, mulai dari 7K Cross Country, 15K, 30K, 50K, 80K, 100K Relay of 4, hingga 100K Full Course.
Inklusif, Internasional, dan Berbasis Lokal

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak