- Warga melakukan protes di lokasi Daycare Little Aresha, Yogyakarta, atas dugaan kasus kekerasan fisik terhadap anak-anak.
- Psikolog menegaskan tindakan mengikat anak bukan metode pengasuhan yang dibenarkan dalam budaya maupun ilmu psikologi anak.
- Kasus ini memicu dampak psikologis negatif pada anak sehingga memerlukan pendampingan orang tua serta penanganan profesional.
Karena itu diharapkan penanganan kasus kekerasan terhadap anak tidak hanya fokus pada proses hukum. Namun juga mencakup pemeriksaan psikologis bagi anak.
"Edukasi bagi orang tua terkait pola pendampingan yang tepat juga perlu dilakukan," ungkapnya.
Sementara itu Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Restu Gunawan, menilai kasus di Daycare Little Aresha menjadi pengingat pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam pendidikan dan pengasuhan anak.
Sebab praktik kekerasan terhadap anak tidak hanya persoalan hukum atau pengawasan lembaga pendidikan. Lebih dari itu berkaitan dengan melemahnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi dasar perilaku dalam keluarga maupun lembaga pengasuhan.
Baca Juga:Daycare Little Aresha Dicoret-coret, Dua Motor Disiram Cat Hitam, Satpol PP Disiagakan Jaga Lokasi
"Budaya kita sebenarnya mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat kuat. Dalam berbagai tradisi lokal, anak selalu ditempatkan sebagai generasi yang harus dijaga, dihormati, dan dididik dengan penuh kasih," paparnya.
Ia mencontohkan berbagai kearifan lokal yang sejak lama menekankan pembentukan karakter melalui keseimbangan antara olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga sebagaimana diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun manusia yang berkarakter dan berempati.
Peristiwa kekerasan di lembaga pengasuhan anak seperti Little Arsha pun harus menjadi alarm sistem pendidikan dan pengasuhan modern kerap kehilangan akar nilai yang selama ini hidup dalam tradisi masyarakat.
Padahal dalam berbagai tradisi Nusantara, relasi antara orang dewasa dan anak selalu dibangun atas dasar tanggung jawab moral dan keteladanan.
"Ketika kita berbicara perlindungan anak, sebenarnya budaya kita sudah menyediakan nilai-nilai yang sangat kuat. Tantangannya adalah bagaimana nilai itu kembali dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari," imbuhnya.
Baca Juga:Wali Kota Yogyakarta Identifikasi Belasan Daycare Layak untuk Relokasi Korban Little Aresha
Kontributor : Putu Ayu Palupi