- Kebijakan pengurangan dana transfer pusat menyebabkan Pemda DIY membatasi berbagai agenda seni dan festival budaya selama 2026.
- Dinas Kebudayaan DIY melakukan efisiensi anggaran dengan menyederhanakan konsep kegiatan serta memprioritaskan program mandatori dari pemerintah pusat.
- Para seniman lokal di Yogyakarta kini didorong untuk kembali mandiri di tengah terbatasnya dukungan fasilitas dan pendanaan pemerintah.
Meski demikian, berkurangnya festival dan ruang tampil tetap menjadi pukulan bagi pekerja seni. Sebab bagi banyak seniman di Yogyakarta, panggung budaya bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi juga sumber penghidupan.
"Kami tetap minta kerja sama dari teman-teman di Dinas Kebudayaan kabupaten/kota dan juga komunitas-komunitas untuk tetap bisa melaksanakan banyak kegiatan ini," paparnya.
Terkait GBN kali ini, Disbud berharap banyak generasi muda usia 16-23 tahun yang ikut serta. Seleksi dilakukan pada 29 Mei hingga 6 Juli 2026 mendatang.
"Kami seleksi untuk kategori suara sopran, alto, bas dan tenor. Mereka yang lolos akan dikirim tampil dalam peringatan HUT RI ke-81 di Jakarta," jelasnya
Baca Juga:Dua Dekade Gempa Jogja, Ancaman Megathrust dan Pentingnya Klaster Bencana
Sementara salah satu peserta seleksi GBN 2026 tingkat DIY, Axel, siswa salah satu SMA Negeri di Kota Yogyakarta berharap kegiatan seni dan kebudayaan di DIY tetap dilaksanakan. Pelajar kelas 2 SMA itu mengaku tertarik mengikuti beragam kegiatan seni, termauk GBN karena ingin merasakan pengalaman yang lebih serius di dunia paduan suara.
"Saya berharap bisa mendapatkan pengalaman baru karena ini pengalaman pertama saya ikut GBN. Saya ingin mengasah skill lebih lagi dan mengerti lebih dalam tentang dunia paduan suara," paparnya.
Axel mengaku selama ini belum pernah berkecimpung di dunia paduan suara profesional. Meski pernah mengikuti ajang Pesparawi pada 2018 dan 2020, menurutnya atmosfer seleksi GBN jauh lebih ketat.
Namun minimnya dukungan kegiatan seni di sekolah umum juga menjadi tantangan tersendiri. Axel menyebut minat seni suara di SMA negeri tidak terlalu besar sehingga ia lebih banyak belajar secara mandiri.
"Kalau di SMA negeri itu biasa saja sebenarnya. Cuma karena saya dari kecil sudah senang nyanyi, jadi gampang tertarik sama hal-hal yang berbau tarik suara," paparnya.
Baca Juga:Dampak Konflik Geopolitik: Shamsi Ali Ungkap Bahaya Retorika Trump bagi Komunitas Muslim di Amerika
Untuk latihan, ia hanya melakukan pemanasan vokal setiap hari dan meningkatkan intensitas latihan ketika ada perlombaan. Bahkan untuk mengikuti GBN, ia datang sendiri tanpa teman satu sekolah.
"Saya mandiri ikut seleksi ini," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi