Belajar dari Gempa 2006, Jogja Memang Istimewa dalam Menangani Bencana

Gempa Yogyakarta menjadi rujukan penanganan bencana di Indonesia berkat kekuatan gotong royong dan solidaritas masyarakat, yang kini jadi modal penting untuk mitigasi bencana

Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:33 WIB
Belajar dari Gempa 2006, Jogja Memang Istimewa dalam Menangani Bencana
Seminar sinergi UGM-Kagama "20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa" di UGM, Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026)(Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Gempa bumi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006 menyebabkan ribuan rumah rusak dan menelan ribuan korban jiwa.
  • Semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat Yogyakarta menjadi kunci utama dalam mempercepat proses pemulihan pasca bencana tersebut.
  • Pengalaman gempa 2006 mendorong penguatan kapasitas masyarakat serta kelembagaan dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di Indonesia.

Selain membangun kesadaran masyarakat, pengalaman Gempa Yogyakarta 2006 juga menjadi pelajaran penting bagi Muhammadiyah untuk memperkuat ketangguhan lembaga pendidikan.

Saat gempa terjadi, sekitar 250 sekolah dan madrasah Muhammadiyah mengalami kerusakan dengan total kerugian mencapai Rp153 miliar. Karena itu Muhammadiyah terus mendorong penerapan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang memiliki tiga pilar utama, yakni fasilitas sekolah yang aman, manajemen kebencanaan di sekolah, dan pendidikan kebencanaan.

"Muhammadiyah juga mengembangkan program Masyarakat Tangguh Bencana dan Masjid Tangguh Bencana.

Sementara Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin mengatakan dirinya juga merupakan korban Gempa Yogyakarta 2006. Peristiwa tersebut juga memperlihatkan kekuatan masyarakat Yogyakarta yang mampu bangkit bersama dari keterpurukan.

Baca Juga:Siap Lari di Mandiri Jogja Marathon 2026? Marriott Yogyakarta Hadirkan Paket Race & Rest Bagi Pelari

"Salah satu pelajaran terbesar bagi kami adalah pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat," ujarnya.

Menurut Mujahid, budaya gotong royong, keberadaan tokoh masyarakat, tokoh agama, relawan dan pemuda menjadi faktor penting yang mempercepat proses pemulihan pascagempa.

Belajar dari pengalaman 2006, BPBD Bantul kini terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana, terutama potensi tsunami di pesisir selatan.

Berbagai program telah dikembangkan. Sebut saja pembentukan komunitas siaga tsunami, penyediaan jalur evakuasi hingga pembangunan sistem peringatan dini.

"Kami juga melakukan simulasi kebencanaan yang melibatkan masyarakat secara langsung," jelasnya.

Baca Juga:Jalan Damai 57 Biksu Tembus Panas dan Luka, Yogyakarta Jadi Titik Istimewa Menuju Borobudur

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak