Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan

Suhu global capai 1,55C pada 2024, melampaui batas aman Paris. Krisis iklim kini nyata, picu cuaca ekstrem dan "bumi mendidih". Mitigasi emisi dan adaptasi segera diperlukan.

Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:46 WIB
Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan
Ilustrasi kekeringan akibat krisis Iklim yang mengakibatkan inflasi pangan (Pixabay)
Baca 10 detik
  • Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan suhu global 2024 mencapai 1,55 derajat Celsius, melampaui ambang batas Perjanjian Paris.
  • Krisis iklim global kini memicu cuaca ekstrem, badai tidak lazim di Indonesia, serta ancaman kenaikan suhu jangka panjang.
  • Dampak krisis iklim mencakup kekeringan, kenaikan muka air laut, hingga gangguan sektor pangan dan kesehatan masyarakat dunia.

SuaraJogja.id - Suhu udara yang semakin panas saat ini, termasuk di Yogyakarta bukan tanpa alasan. Fenomena ini terjadi akibat ancaman krisis iklim yang mulai terjadi.

"Data dasar yang digunakan adalah suhu global pada periode 1850 sampai 1900. Kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, suhu permukaan bumi terus mengalami kenaikan dan puncaknya terjadi pada tahun 2024 mencapai 1,55 derajat Celsius," papar mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam seminar sinergi UGM-Kagama "20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa" di UGM, Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026).

Menurut Rita-sapaan Dwikorita, angka tersebut melampaui target Perjanjian Paris yang menetapkan batas aman kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,5 derajat Celsius dan tidak lebih dari 2 derajat Celcius untuk menghindari dampak perubahan iklim yang lebih parah.

Saat  dunia menyepakati pembatasan kenaikan suhu global tersebut, banyak pihak memperkirakan ambang batas tersebut baru akan tercapai menjelang akhir abad ini. Namun kenyataannya, angka itu justru telah terlampaui pada 2024 lalu.

Baca Juga:Dugaan Korupsi Tiga Mantan Pengurus BUKP Tempel Sleman, Negara Rugi Rp2,1 Miliar

Kondisi tersebut menjadi peringatan serius krisis iklim yang selama ini dianggap ancaman masa depan sesungguhnya sudah berlangsung saat ini. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan subtropis, tetapi juga semakin nyata di Indonesia.

"Cuaca ekstrem, hujan berintensitas tinggi, musim yang sulit diprediksi hingga kemunculan badai yang bergerak di luar pola normal dampak akibat krisis iklim," tandasnya.

Rita menyebut, sejumlah ilmuwan bahkan mulai menggunakan istilah global boiling atau bumi mendidih untuk menggambarkan kondisi pemanasan global yang semakin ekstrem saat ini.

Meski pada 2025 terjadi sedikit penurunan suhu global menjadi sekitar 1,45 hingga 1,5 derajat Celsius, kondisi itu tidak bisa dianggap sebagai tanda membaiknya iklim dunia.

Yang lebih mengkhawatirkan, berbagai model iklim menunjukkan dunia masih berada pada jalur yang berbahaya. Persoalan itu terjadi apabila upaya pengurangan emisi gas rumah kaca gagal dilakukan secara signifikan. 

Baca Juga:Siap Lari di Mandiri Jogja Marathon 2026? Marriott Yogyakarta Hadirkan Paket Race & Rest Bagi Pelari

"Berdasarkan proyeksi yang dikutip dari analisis BMKG, dalam skenario terburuk kenaikan suhu global pada tahun 2100 dapat mencapai 3 hingga 3,5 derajat Celsius," ungkapnya.

Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam seminar sinergi UGM-Kagama  di UGM, Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026).(Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam seminar sinergi UGM-Kagama di UGM, Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026).(Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)

Kenaikan tersebut jauh melampaui target internasional dan berpotensi memicu dampak yang lebih luas. Diantaranya terjadi gelombang panas ekstrem, kenaikan muka air laut, kekeringan berkepanjangan hingga meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi.

"Kita perlu memahami bahwa ini bukan ramalan, tetapi skenario. Skenario itu terjadi jika manusia gagal mengendalikan laju kenaikan suhu global," katanya.

Menurutnya, kondisi bumi saat ini sebenarnya sudah menunjukkan berbagai gejala yang berkaitan dengan perubahan iklim. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah munculnya badai tropis yang bergerak tidak sesuai pola normal di kawasan Indonesia dan sekitarnya.

Ia mencontohkan kejadian badai yang berdampak pada Aceh, Sumatera Utara hingga wilayah Selat Malaka. Fenomena tersebut dinilai tidak lazim karena sistem badai mampu bertahan lebih lama dan bergerak melintasi wilayah yang selama ini dianggap sebagai penghalang alami.

Secara teori, badai tropis biasanya akan mengalami pelemahan ketika mendekati wilayah tertentu akibat pengaruh rotasi bumi dan efek gaya Coriolis. Namun dalam beberapa kejadian terakhir, pola tersebut tidak sepenuhnya terjadi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak