4.664 Kasus Perceraian di DIY, Trauma Anak Jadi Luka yang Jarang Dibahas

Kalis Mardiasih menyoroti dampak trauma antargenerasi pada anak korban perceraian yang angka kasusnya meningkat signifikan di Indonesia.

Tasmalinda
Minggu, 21 Juni 2026 | 19:37 WIB
4.664 Kasus Perceraian di DIY, Trauma Anak Jadi Luka yang Jarang Dibahas
Aktivis perempuan dan penulis, Kalis Mardiasih memaparkan tentang trauma generasional Yogyakarta, Minggu (21/66/2026).(Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Kalis Mardiasih menyoroti dampak trauma antargenerasi pada anak korban perceraian yang angka kasusnya meningkat signifikan di Indonesia.
  • Banyak anak memikul beban emosional berat akibat perceraian orang tua yang sering dianggap aib oleh masyarakat luas.
  • Penting bagi masyarakat untuk terbuka membahas trauma keluarga agar luka masa lalu tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Ruang Aman

Kalis juga menyoroti perbedaan cara pandang antara generasi orang tua dan anak-anak masa kini yang sering kali memicu jarak emosional dalam keluarga.

Perbedaan cara memandang pekerjaan, status sosial, pendidikan, hingga cara meraih mimpi dapat menciptakan ketegangan yang tidak selalu terlihat dari luar.

Bahkan, menurutnya, tidak sedikit orang yang akhirnya menemukan rasa aman di luar lingkungan keluarga inti.

Baca Juga:Tempat Hiburan di Jogja Ludes Terbakar, Owner Soroti Pemadaman Listrik Berulang

"Kita satu darah, dibesarkan bersama-sama, tetapi kadang justru menjadi tidak dekat karena menemukan ruang aman baru di luar keluarga," katanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan keluarga yang terlihat baik-baik saja dari luar belum tentu terbebas dari persoalan emosional yang mendalam.

Luka Tak Harus Diwariskan

Sementara itu, Editor Siramedia, Puput Alvia, berharap semakin banyak orang yang berani membicarakan pengalaman masa lalu mereka sebagai bagian dari proses pemulihan.

Menurutnya, kesadaran terhadap trauma keluarga penting agar luka yang sama tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga:Seniman ARTJOG Lapor ke LBH, Soroti Dugaan Represi di Ruang Seni Yogyakarta

"Harapannya, mereka yang merasa relate bisa memahami bahwa pengalaman itu tidak boleh dituangkan kepada generasi yang lebih muda," ujarnya.

Kalis menegaskan bahwa penyembuhan bukan berarti menghapus masa lalu, melainkan memahami pengalaman yang pernah terjadi agar tidak terus memengaruhi kehidupan di masa depan.

Di tengah meningkatnya angka perceraian, perhatian terhadap kesehatan mental anak dan trauma keluarga menjadi isu penting yang perlu mendapat ruang lebih besar dalam diskusi publik. Sebab, tidak semua luka terlihat, dan tidak semua anak korban perceraian mampu menyuarakan apa yang mereka rasakan.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak