- Seorang bocah berusia delapan tahun hilang terseret ombak saat mencari kepiting di Pantai Gua Cemara, Bantul, Minggu (5/7/2026).
- Tim SAR gabungan melakukan operasi pencarian di sekitar lokasi kejadian namun korban belum ditemukan hingga hari pertama berakhir.
- SAR Yogyakarta mengimbau wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengawasi anak-anak secara ketat di kawasan pantai selatan yang berbahaya.
SuaraJogja.id - Musim libur sekolah yang mendorong lonjakan kunjungan wisata ke pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali diwarnai kecelakaan laut. Seorang bocah berusia delapan tahun dilaporkan hilang setelah terseret ombak di Pantai Gua Cemara, Bantul, Minggu (5/7/2026), memicu peringatan keras dari Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Yogyakarta agar wisatawan tidak mengabaikan bahaya ombak dan arus laut.
Kepala Kantor SAR Yogyakarta Rio Banupanitis mengatakan pantai selatan DIY memiliki karakter ombak besar dan arus yang kuat sehingga tetap berbahaya meski terlihat tenang.
"Kami imbau masyarakat dan wisatawan agar selalu meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan pantai, terutama sepanjang pantai selatan DIY yang memiliki karakter ombak kuat dan arus berbahaya," katanya.
Menurut Rio, keselamatan harus menjadi prioritas utama, terutama pada masa libur sekolah ketika aktivitas wisata keluarga di kawasan pantai meningkat signifikan.
Baca Juga:Mafia Tanah Kas Desa di DIY Menggila, Sultan HB X: Saya Sendiri yang Meminta Mereka Diproses Hukum!
"Karena itu keselamatan harus menjadi prioritas utama," ujarnya.
Korban diketahui bernama Muhammad Bara Rizki Wardana (8), warga Banguntapan, Kabupaten Bantul. Berdasarkan laporan yang diterima SAR Yogyakarta, korban tiba di Pantai Gua Cemara sekitar pukul 12.00 WIB bersama ayah dan adiknya untuk mencari kepiting di tepi pantai.
Namun sekitar pukul 13.27 WIB, ombak besar tiba-tiba datang dan menyeret kedua anak tersebut. Sang ayah berhasil menyelamatkan adik korban, tetapi Muhammad Bara terseret arus hingga akhirnya dilaporkan hilang.
Menerima laporan tersebut, Tim SAR gabungan bersama relawan langsung melakukan operasi pencarian dengan membagi personel ke dua sektor penyisiran.
"Pada operasi hari pertama, SRU (Search Rescue Unit) satu melakukan penyisiran ke arah timur sejauh kurang lebih 500 meter dari lokasi kejadian, sedangkan SRU dua menyisir ke arah barat sejauh 500 meter," kata Rio.
Baca Juga:Unik! Mahasiswa UGM Ciptakan Camilan untuk Bantu Cegah Gangguan Kecemasan
Hingga pencarian hari pertama dihentikan pada pukul 17.00 WIB, korban belum berhasil ditemukan. Operasi pencarian akan dilanjutkan pada Senin (6/7/2026) dengan evaluasi serta penyesuaian strategi berdasarkan kondisi di lapangan.
SAR Yogyakarta mengimbau seluruh wisatawan agar tidak bermain terlalu dekat dengan bibir pantai, selalu mematuhi peringatan petugas, dan mengawasi anak-anak secara ketat selama beraktivitas di kawasan pantai selatan yang dikenal memiliki arus balik (rip current) dan gelombang tinggi yang dapat menyeret korban dalam hitungan detik.