- Bermula dari problema internal, AVMS Indonesia menemukan beragam kasus kecideraan hak dan tanggung jawab dalam industri fesyen.
- AVMS Indonesia menggandeng Candramawa & Co. selaku kuasa hukum dalam menyelesaikan permasalahan internal perusahaan sekaligus mempersiapkan wadah advokasi dalam perbaikan ekosistem industri fesyen.
- Bersama Candramawa, Arby Vembria selaku founder AVMS Indonesia siap mendirikan yayasan untuk melindungi para pekerja industri fesyen.
SuaraJogja.id - Yogyakarta, 1 Juli 2026 - CV Arby Vembria Indonesia, induk dari AVMS (Arby Vembria Modelling School) Indonesia siap mendirikan yayasan perlindungan dan advokasi para pekerja di industri fesyen.
Inisiasi tersebut muncul sebagai respons atas beragam problema di industri fesyen yang ditemukan dan kerapkali diabaikan.
Sekaligus bertolak dari problema internal di perusahaan yang sempat dijaga rapat selama bertahun-tahun, sebelum dipublikasikan secara resmi dengan pendampingan hukum dari Candramawa & Co.
Problema yang dimaksud berkutat pada persoalan manajemen hingga pencemaran nama baik. Menariknya, problema yang pelik tersebut justru menjadi obor semangat bagi AVMS Indonesia untuk peduli terhadap sesama.
Baca Juga:BRI Perkuat UMKM, TSDC Bali Olah Serat Alam Jadi Produk Fashion Global
"Ini bukan tentang saya," ujar Arby Vembria, founder AVMS Indonesia kepada Suara.com.
Sebagai seseorang dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia fesyen, Arby menolak untuk menutup mata.
Bersama AVMS dan perusahaan yang membawahinya, Arby mulai mengadvokasi problema seputar hak upah bagi model dan plagiarisme karya.
Dua problema tersebut memang tidak berkaitan dengan AVMS Indonesia dan diterima lewat aduan dari pihak eksternal. Namun bagi Arby, permasalahan mereka menyiratkan sistem di industri fesyen yang perlu dibenahi.
Selaras dengannya, Dipta Yudha Krisnanda selaku kuasa hukum dari Candramawa & Co. menjelaskan bahwa tidak semua budaya kerja itu perlu dipertahankan.
Baca Juga:JFW 2026 Targetkan Transaksi Rp2,5 Miliar, Siap Jadi Pengungkit Ekosistem Fashion Global
Termasuk persoalan di mana model yang tampil di peragaan fesyen berakhir membayar, bukan dibayar.
"Itu kultur. Kalau kulturnya buruk, berarti harus dibenahi," ujar Dipta kepada Suara.com.

Sayangnya, tidak ada aturan di Indonesia yang secara khusus menaungi/memberikan perlindungan berkaitan dengan profesi model.
Meski begitu, harapan muncul bersama dengan rencana pendirian yayasan oleh AVMS Indonesia yang dinamakan Arby Vembria Foundation.
Rencananya, yayasan ini akan diresmikan pada November 2026 mendatang dengan pendampingan oleh Candrmawa & Co.
Posisinya semakin dibutuhkan ketika fakta menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki yayasan serupa. Bahkan hanya ada 2-3 yayasan pelindung pekerja industri fesyen di Amerika Serikat.