Menyesap Selang Demi Setetes Air, Potret Ketangguhan Warga Bantul Bertahan Saat Kemarau

Warga Kalidadap, Bantul, bertahan saat kemarau dengan menyedot ujung selang manual dari Sendang Wonosari demi mengalirkan air ke rumah tanpa pompa listrik.

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 06 Agustus 2026 | 15:12 WIB
Menyesap Selang Demi Setetes Air, Potret Ketangguhan Warga Bantul Bertahan Saat Kemarau
Seorang warga menyesap selang dari sumber mata air agar air mengalir menuju rumahnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Sendang Wonosari, Dusun Kalidadap I, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (29/7/2026). [ANTARA/Agung Dwi Prakoso]
Baca 10 detik
  • Ratusan warga Dusun Kalidadap di Bantul bertahan dari kemarau panjang dengan menyedot selang air secara manual.
  • Tradisi tanpa mesin sejak era 1970-an ini memanfaatkan prinsip gravitasi untuk mengalirkan air dari Sendang Wonosari.
  • Warga mematuhi aturan pembagian waktu dan melestarikan lingkungan demi menjaga keberlanjutan sumber air bersih tersebut.

SuaraJogja.id - Menyesap Selang Demi Setetes Air, Potret Ketangguhan Warga Bantul Bertahan Saat Kemarau

Ketika sebagian besar masyarakat cukup memutar keran untuk mendapatkan air bersih, ratusan warga di lereng perbukitan Imogiri, Kabupaten Bantul, masih harus "menghidupkan" aliran air dengan cara yang tak lazim: menyedot ujung selang menggunakan mulut.

Tradisi sederhana itu bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan cara bertahan hidup yang telah dijalani puluhan tahun.

Di tengah kemarau yang semakin panjang, setiap tetes air dari Sendang Wonosari menjadi harapan bagi sekitar 600 kepala keluarga di Dusun Kalidadap I dan Kalidadap II.

Baca Juga:Ramai-ramai Pasang Pagar Tinggi, Pakuwon Mall Jogja Tepis Isu demi Keamanan

Pemandangan itu langsung menyita perhatian saat memasuki dusun yang berada di Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri.

Ratusan selang plastik berwarna-warni menjuntai mengikuti alur parit yang mengering, membelah kebun dan pematang sawah hingga ratusan meter.

Dari kejauhan, hamparan selang itu tampak seperti urat nadi yang menghubungkan sumber kehidupan dengan rumah-rumah warga.

Semua selang bermuara di Sendang Wonosari, mata air alami yang tak pernah benar-benar berhenti mengalir, bahkan ketika musim kemarau melanda wilayah lain.

Di bibir bak penampungan berukuran sekitar 5 x 5 meter, ratusan ujung selang menggantung.

Baca Juga:GPFE 2026: Perkuat Kolaborasi Pengadaan, Dorong TKDN, dan Dukung Program Prioritas Nasional

Sebagian sengaja ditindih batu kapur agar tetap berada di dasar bak dan tidak mengambang saat permukaan air berubah.

Di sinilah rutinitas unik itu dimulai.

Pagi itu, Sagi (72) berjalan perlahan menyusuri parit sambil membongkar tumpukan selang yang saling bertumpuk.

Sesekali ia turun ke dasar parit, mengurai lilitan demi menemukan selang miliknya.

"Wo, iki selangku ketemu (Oh, ini selang saya sudah ketemu)," ujarnya sambil tersenyum kepada warga lain yang melakukan hal serupa.

Begitu menemukan selangnya, ia segera melepas sambungan, lalu menyesap ujung selang beberapa kali. Tak lama berselang, air jernih mulai mengalir.

Gemericik kecil yang terdengar dari dalam selang menjadi pertanda bahwa kebutuhan air di rumahnya kembali terpenuhi.

Bagi Sagi, ritual itu harus dilakukan hingga tiga kali setiap hari.

Ketika ujung selang terangkat dari dasar bak atau permukaan air menurun karena dipakai mengairi sawah, aliran otomatis terputus dan harus diaktifkan kembali dengan cara disedot.

"Jadi kami harus memastikan ujung selang tetap tercelup ke dalam air. Kalau terangkat atau air surut, kami harus menyedotnya lagi," katanya.

Tanpa pompa listrik dan tanpa mesin, warga sepenuhnya mengandalkan prinsip gravitasi.

Setelah udara di dalam selang tersedot keluar, air akan mengalir sendiri menuju rumah-rumah yang berada lebih rendah dari posisi mata air.

Rumah Sagi berjarak sekitar 500 meter dari sendang. Untuk mengalirkan air hingga ke rumah, ia membutuhkan lima gulung selang, masing-masing sepanjang sekitar 100 meter.

"Saya hanya pasang sekitar lima gulung selang," ujarnya.

Bagi warga yang tinggal lebih jauh, perjuangannya tentu lebih berat.

Parinah (67), misalnya, harus memasang hingga 11 gulung selang agar air bisa mencapai rumahnya yang berjarak sekitar satu kilometer. Setiap hari ia juga berjalan bolak-balik ke sendang hingga tiga kali hanya untuk memastikan air tetap mengalir.

Air itu menjadi penopang seluruh aktivitas rumah tangga, mulai dari memasak, mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan hingga kebutuhan minum keluarga.

"Saya menghabiskan 11 gulung selang. Masing-masing panjangnya sekitar 100 meter," katanya.

Cara sederhana itu ternyata telah diwariskan lintas generasi. Menurut Sagi, sistem distribusi air menggunakan selang telah digunakan warga sejak era 1970-an.

Dibanding harus memikul ember atau jeriken setiap hari dari mata air ke rumah, memasang selang dianggap jauh lebih ringan, meski tetap membutuhkan kedisiplinan untuk menjaga aliran air tetap hidup.

Namun, ada aturan yang dipatuhi bersama. Warga hanya boleh menyedot selang hingga sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah pukul 15.00 WIB, aliran dari sendang dialihkan untuk mengairi sawah melalui pipa yang lebih besar.

Kesepakatan itu tidak pernah tertulis, tetapi ditaati seluruh warga selama puluhan tahun sebagai bentuk saling menjaga.

Di balik kesederhanaan itu, tersimpan kesadaran ekologis yang kuat.

Masyarakat sengaja tidak menggunakan pompa air karena khawatir penyedotan berlebihan akan menguras debit mata air. Mereka memilih cara manual agar air terbagi merata dan sumber kehidupan itu tetap lestari.

Selain mengendalikan pemanfaatan air, warga juga rutin menjaga kawasan sendang. Pohon-pohon berakar kuat seperti beringin ditanam untuk mempertahankan cadangan air tanah. Area sekitar mata air dibersihkan secara berkala, sementara pembangunan di sekitar sendang lebih banyak menggunakan susunan batu dibanding semen agar tidak mengganggu resapan alami.

Kesadaran kolektif itu membuat Sendang Wonosari tetap bertahan menjadi penyangga kehidupan ratusan keluarga.

"Alhamdulillah, sumber ini belum pernah kering," kata Parinah.

Kepala Dusun Kalidadap II, Suroso, mengatakan sekitar 330 kepala keluarga di wilayahnya masih bergantung pada Sendang Wonosari. Sebagian lainnya memanfaatkan sumur dangkal yang dibuat secara mandiri.

Menurut dia, pemerintah sebenarnya pernah membangun dua sumur bor sebagai alternatif sumber air bersih. Namun, keduanya kini tidak lagi berfungsi karena pompa rusak akibat intensitas penggunaan yang tinggi, sementara anggaran perbaikan telah habis.

Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mulai memetakan berbagai sumber mata air yang masih potensial dimanfaatkan, terutama di wilayah rawan kekeringan seperti Imogiri.

Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin mengatakan setiap kegiatan distribusi air bersih kini sekaligus dimanfaatkan untuk mengidentifikasi keberadaan mata air baru yang bisa dikembangkan sebagai sumber air masyarakat.

Potensi setiap mata air, termasuk Sendang Wonosari, akan terus dikaji agar mampu menjadi solusi jangka panjang menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Di tengah kemajuan teknologi dan modernisasi, warga Kalidadap mengajarkan satu hal sederhana: air bukan sekadar kebutuhan, melainkan warisan yang harus dijaga bersama. Selama Sendang Wonosari tetap mengalir, mereka akan terus menyusuri parit, mencari selang masing-masing, lalu menyesapnya—demi menghadirkan kehidupan di setiap rumah. [ANTARA]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak