- Kepala BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata menyatakan status siaga darurat kekeringan diperpanjang hingga akhir November 2026.
- BMKG memprediksi wilayah DIY mengalami Hari Tanpa Hujan terlama hingga mencapai 141 hari akibat El Nino.
- BPBD DIY mencatat 369 kejadian kebakaran yang menimbulkan kerugian material mencapai Rp7,35 miliar di berbagai wilayah.
SuaraJogja.id - DIY saat ini tengah menghadapi periode kekeringan yang berkepanjangan. Fenomena ekuinoks dan pengaruh El Nino membuat periode Hari Tanpa Hujan (HTH) diprediksi masih akan terjadi hingga November 2026 mendatang.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), DIY bahkan diperkirakan mengalami HTH terlama hingga mencapai 141 hari. Kondisi ini membuat empat kabupaten di DIY semakin rentan kekurangan air sekaligus kebakaran lahan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Agustinus Ruruh Haryata di Yogyakarta, Rabu (30/9/2026) menyatakan kondisi kekeringan paling terasa di sejumlah titik Gunungkidul seperti di Tepus dan Rongkop, kemudian mulai menyusul Ngedangsari.
Sementara di Kulon Progo, menurut Ruruh, BPBD DIY baru saja melakukan pengecekan di Girimulyo untuk melihat penanganan kebutuhan air, termasuk dropping air.
Baca Juga:Dapur Warmindo di Sleman Meledak, Tiga Pegawai Terpental Keluar Warung
"Kalau di Bantul, kawasan Geger dan wilayah atas Parangtritis juga mengalami kondisi kering," ujarnya.
Menurut Ruruh, kondisi kekeringan yang berkepanjangan ini membuat status siaga darurat kekeringan akan diperpanjang hingga akhir November 2026 mendatang. Hal ini untuk mengantisipasi potensi kekeringan yang terus berkepanjangan.
BPBD DIY memperkirakan hujan baru mulai muncul pada pertengahan hingga akhir November, 2026. Bahkan ada prediksi hujan baru akan terjadi pada awal Desember 2026.
"Sejumlah wilayah DIY masih harus melewati periode kering dalam beberapa pekan ke depan namun lokasi yang butuh dropping air masih bisa terpenuhi dengan baik," katanya.
Ruruh menambahkan, kekeringan di DY tidak hanya soal sulitnya mendapatkan air. Lahan yang mengering juga dikhawatirkan menjadi bahan bakar yang mudah tersulut, terutama ketika masyarakat masih melakukan pembakaran sampah atau aktivitas lain yang memunculkan api.
Baca Juga:Tangani Korban Bencana, PABI Akui Dokter Bedah Masih Terkendala Persebaran yang Belum Merata
Ruruh menyebut Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo sebagai wilayah yang memiliki potensi kebakaran lahan lebih tinggi karena kondisi wilayahnya relatif kering. Bahkan, pemicu kebakaran bisa berasal dari hal-hal sepele.
Karenanya masyarakat diminta mewaspadai potensi kebakaran. Sebab dari data BPBD, angka kebakaran di DIY cukup tinggi. Yang mencapa 369 kejadian. Jumlah ini terdiri dari 232 kejadian kebakaran hutan atau lahan dan 137 kejadian kebakaran bangunan.
Dari kejadian tu, 1 orang korban meninggal dunia, 14 orang mengalami luka-luka dan 3 orang terpaksa mengungsi. Kerugian kebakaran mencapai Rp7,35 Miliar.
Puntung rokok, pembakaran sampah hingga pembakaran sisa daun menjadi sejumlah aktivitas yang harus diwaspadai. Api yang ditinggalkan dalam kondisi lahan kering dan diterpa angin dapat dengan cepat menjalar.
"Pemantiknya itu hal-hal yang kecil, tetapi kalau ini tidak disadari masyarakat bisa menimbulkan bakaran yang meluas," ujarnya.
"Seperti puntung rokok, pembakaran sampah, pembakaran lahan atau sisa-sisa daun yang kemudian menimbulkan kebakaran karena dengan angin ditinggal sama yang membakar sehingga ini menimbulkan kebakaran di lahan," katanya.