- Firdhailsa Cintora, seorang ibu tunggal di Salatiga, gigih berjuang menjadi pedagang makanan sejak tahun 2024.
- Ia memanfaatkan aplikasi BSya dari BCA Syariah untuk mengelola transaksi keuangan usaha dan menabung tanpa potongan admin.
- Keberhasilan usahanya dalam menjual dimsum membantu ia mencukupi kebutuhan hidup serta merencanakan masa depan anaknya.
Begitupun dengan perencanaan hidupnya sejauh mengurus anak termasuk mengatur keuangan, baik dari hasil jualan dan juga kerja kerasnya di sekolah.
Sejauh mengarungi kehidupannya, nasabah BCA Syariah ini tak jarang menggunakan kemudahan produk layanan tempatnya menyimpan uang.
Terlebih lagi, sebagai penjual makanan, transaksi jual beli selalu ia lakukan lewat bank. Apalagi di era digital saat ini, transfer lewat gawainya sangat membantu dengan memanfaatkan BSya, aplikasi yang dimiliki BCA Syariah.
Firdha mengaku terbantu dengan fitur yang disediakan bank tersebut. Biaya transfer antar bank salah satu yang meringankan dia.
Baca Juga:Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja
Seperti yang banyak diketahui orang, transfer sesama nasabah tak dikenakan biaya sepeserpun. Mitra usahanya pun menggunakan bank yang sama sehingga memangkas pengeluarannya.
Sebagai seorang ibu tunggal, Firdha akan menyiapkan masa depan anaknya, begitupun dengan masa depan di hari tuanya.
Tak Kenal Menyerah
Tak hanya memasak pagi buta, ia pun juga menjual makanan di sebuah kedai makanan yang ada di pinggir Kota Salatiga.
Tapi sebelum menemukan kedai yang membuatnya bertahan saat ini, ia berjibaku dengan peluh keringat serta puluhan resep makanan untuk membuat menu terbaik yang ia tawarkan.
Baca Juga:Minyakita Meroket, Jeritan Hati Penjual Angkringan Jogja: Naikkan Harga Gorengan Takut Tak Laku
Bakpau mini berisi coklat dan keju pernah ia buat. Ia titipkan di toko frozen food, tetapi tak begitu laku karena beberapa pelanggan mengeluhkan cara penyajiannya yang terlalu ribet.
![Firdhailsa Cintora, pedagang makanan ringan saat mengirim barang jualannya di warung jajanan pasar. [Suara.com/Baktora]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/30/97977-pedagang-dimsum-2.jpg)
Tak mau menyerah, ia pun pernah membuat masakan pizza. Namun pembuatan pizza tersebut mengeluarkan cost yang tinggi sehingga biaya dan keuntungannya tak sebanding, jika diteruskan justru buntung di tiap pekannya.
Lagi-lagi perempuan lulusan UKSW Salatiga ini tak mau berhenti hanya karena pizza-nya tak berhasil. Ia pun membuat corndog. Makanan viral dari Korea Selatan itu pun ia jajakan.
Beruntung banyak pelanggan yang cocok dengan rasanya hingga dititipkan di toko makanan beku. Namun, bagi perempuan yang berbakat di dunia masak-memasak ini, satu menu tentu tak cukup, masih banyak menu yang dapat dieksplor lagi.
Gayung bersambut, kegigihannya menawarkan menu makanan hasil olahan rumahan ini akhirnya pecah telur di sebuah kedai. Awalnya ia ditawari apakah bisa membuat menu tambahan untuk kedai tersebut.
Firdha berusaha memutar otak mencari menu yang tepat. Melihat menu makanan yang disukai pelanggan kedai adalah makanan China, ia pun mencoba membuat dimsum.