- Jaringan Orang Muda Indonesia di Yogyakarta mengkritik keras penunjukan Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo menjelang COP31 di Turki.
- Generasi muda mendesak pemerintah menghentikan industri ekstraktif perusak lingkungan serta menolak solusi palsu yang memperpanjang energi fosil.
- Aliansi pemuda menuntut pelibatan aktif dalam kebijakan iklim demi menyelamatkan keselamatan masyarakat serta masa depan generasi mendatang.
SuaraJogja.id - Menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-31 (COP31) di Antalya, Turki, 9–20 November 2026, Jaringan Orang Muda Indonesia melontarkan kritik keras terhadap penanganan krisis iklim. Mereka menilai forum iklim internasional itu semakin kehilangan esensi, sementara kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial terus membayangi kehidupan masyarakat.
Terlebih adik kandung Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo yang disebut memiliki perkebunan sawit yang merusak hutan justru ditunjuk jadi Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi dan memimpin delegasi Indonesia dalam konferensi tersebut meski dinilai turut berkontribusi terhadap krisis iklim.
"Kami sudah tidak percaya lagi pada COP31 yang diisi orang-orang yang justru merusak alam," ujar fasilitator National Youth Jamboree dari Jaringan Orang Muda Indonesia, Krayon Ahmad Zulfikar dalam National Youth Jamboree yang mempertemukan 31 anak muda Indonesia dari 18 propinsi di Yogyakarta, Kamis (29/10/2026).
Krayon menyatakan, mereka sebagai generasi muda tidak ingin sekadar menjadi penonton ketika keputusan yang menentukan masa depan mereka dibuat oleh para elite politik. Sebagai generasi yang akan hidup kedepannya, mereka mestinya dilibatkan dalam mengambil kebijakan krisis iklim, kerusakan lingkungan, demokrasi, persoalan sosial-ekonomi, hingga tantangan gerakan anak muda.
Baca Juga:Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY
"Yang kami inginkan adalah orang-orang tua ini mau mendengarkan kami karena satu hal bahwa masa depan itu milik kami dan generasi setelah kami. Bukan generasi mereka yang sedang duduk nyaman naik private jet, menyumbang emisi karbon dan merusak lingkungan," tandasnya.
Menurutnya, konferensi iklim internasional itu berisiko kehilangan makna apabila hanya menghasilkan janji dan komitmen tanpa perubahan nyata di lapangan. Padahal kerusakan alam, kebakaran hutan dan bencana alam yang terjadi di Indonesia diakibatkan kebijakan elite yang tidak memikirkan keberlangsungan.
Karenanya anak-anak muda dari berbagai daerah mendesak pemerintah Indonesia, DPR RI, serta delegasi Indonesia di COP31 untuk mengambil langkah konkret dalam menghadapi krisis iklim.
Mereka menuntut penghentian solusi palsu yang mengatasnamakan penanganan krisis iklim, tetapi justru memperpanjang ketergantungan terhadap energi fosil, memperluas eksploitasi sumber daya alam, atau mengabaikan hak masyarakat.
"Kami mendesak penghentian pemberian izin dan dukungan investasi bagi industri ekstraktif dan eksploitatif yang terbukti merusak lingkungan, melanggar hak masyarakat, atau mengancam keberlanjutan ruang hidup," ungkapnya.
Baca Juga:11 Pengasuh Day Care Little Aresha Divonis Maksimal 3 Tahun, Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa
Krayon mengatakan, penghentian izin pertambangan dan perkebunan yang bersifat ekstraktif serta eksploitatif juga jadi isu yang mestinya dibahas dalam forum-forum besar. Apalagi banyak kekhawatiran anak muda dari berbagai daerah terhadap perluasan eksploitasi sumber daya alam (SDA).
Selain itu isu pengesahan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat, penghentian kriminalisasi terhadap pembela HAM dan lingkungan, serta pengusutan tuntas kejahatan ekologis mestinya juga diungkap ke permukaan bukan malah dibinasakan.
"Kami meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terbukti terlibat dalam perusakan dan pencemaran lingkungan, termasuk kasus kebakaran hutan dan lahan serta kerusakan kawasan hutan," tandasnya.
Krayon menuturkan, dari diskusi yang mereka lakukan, banyak dari anak muda yang gelisah akan dampak persoalan lingkungan yang berbeda-beda di setiap daerah. Ia mencontohkan pengalaman seorang peserta dari Kalimantan yang menceritakan kesehariannya menghadapi asap.
"Ada kawan-kawan dari Kalimantan, ada salah satu kawan yang bahkan dia bercerita, oh ternyata ini rasanya kabut di Jogja, karena kami setiap hari menghirup asap," tuturnya.
Karena itulah mereka mendesak elite lebih memiliki empati untuk segera mengatasi masalah iklim dan kerusakan alam yang sudah sangat masif saat ini. Sebab bagi mereka, krisis iklim bukan sekadar perdebatan mengenai angka emisi atau target penurunan karbon.