SuaraJogja.id - Slamet Juniarto (42 tahun) ditolak warga karena bukan muslim. Ini bukan pertama kali kasus intoleransi muncul di Yogyakarta.
Slamet Juniarto mencari kontrakan untuk ditinggali bersama istri dan keempat anaknya. Dari sebuah marketplace, Slamet Juniarto memperoleh informasi kontrakan di Pedukuhan Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul, Yogyakarta.
"Saya masuk tanggal 30, hari Sabtu," kata Slamet ketika ditemui di kontrakannya, Kamis (04/04/2019).
Slamet Juniarto sudah memberitahukan bukan muslim kepada pemilik rumah, Suroyo. Suroyo tak mempermasalahkan hal tersebut. Ia juga mengatakan ada seorang warga non muslim lain tinggal di kampungnya.
Setelah menyetujui nilai kontrak senilai Rp 4 juta, Slamet Juniarto pun mantap tinggal di Imogiri. Slamet Juniarto bahkan membayar kontan biaya kontrakan tersebut.
Pada 30 Maret, Slamet Juniarto memindahkan barang-barangnya dari kontrakan awal di Notoprajan, Ngampilan, Yogyakarta. Setelah semua barang dipindahkan, ia menemui ketua RT setempat sembari membawa dokumen yang diperlukan. Slamet Juniarto diantar oleh seorang tetangga.
"Biasa yang mengantar kan yang punya rumah kontrakan. Tapi karena tinggalnya jauh, di dusun lain, jadi saya diantar tetangga," kata dia.
Begitu bertemu ketua RT, Slamet Juniarto mendapati adanya persyaratan yang menyatakan warga nonmuslim dilarang tinggal di kampung tersebut. Ia pun meminta kebijakan dari Ketua RT, mengingat ia sudah membayar kontan kontrakan itu seharga Rp 4 juta setahun. Slamet Juniarto juga sudah memindahkan barang-barangnya.
Ketika itu, Ketua RT mengatakan tak bisa mengambil keputusan. Slamet Juniarto mengatakan, seharusnya Slamet Juniarto datang bersama pemilik rumah. Ia juga mempertanyakan awal kontrak itu terjadi.
Baca Juga: Salib Dipotong hingga Tolak Sedekah Laut, 4 Kasus Intoleransi di Yogyakarta
"Saya bilang ke Pak RT kalau saya sudah menanyakan, saya nonmuslim, apa tidak apa-apa. Katanya enggak masalah," ujar Slamet Juniarto.
Merasa tak mampu memberikan keputusan, Ketua RT mempertemukan Slamet Juniarto dengan pemimpin atau tetua kampung tersebut. Slamet Juniarto secara diam-diam juga merekam pembicaraan tersebut. Sayangnya, ia tetap tak mendapatkan solusi.
Slamet Juniarto pun mencoba menemui Kepala Pedukuhan untuk meminta kebijaksanaan. Namun, Slamet Juniarto tak bisa bertemu.
"Saya terus kirim aduan ke sekretarisnya Ngarso Dalem via Whatsapp. Saya pikir daripada lama, sudah saya kirim saja," kata dia.
Laporan tersebut ditindak lanjuti oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul. Mediasi pertama menghasilkan keputusan untuk tetap menolak Slamet dan keluarganya tinggal di Dusun Karet.
Slamet Juniarto tak bisa menerima keputusan tersebut. Kemudian, dilakukan mediasi kedua yang menyatakan Slamet boleh tinggal di tempat itu selama 6 bulan. Pertemuan itu juga memutuskan peraturan yang melarang nonmuslim tinggal di Dusun Karet dicabut.
Berita Terkait
-
Salib Dipotong hingga Tolak Sedekah Laut, 4 Kasus Intoleransi di Yogyakarta
-
Slamet Jumiarto Ditolak sebab Bukan Muslim, Setara: Stop Eksklusi Minoritas
-
5 Fakta Menarik Konser Jikustik Reunian, Wajib Tahu Nih!
-
Hubungkan Petani Lokal dan Konsumen, Panen.id Hadir ke Yogyakarta
-
Yogyakarta Bakal Punya Museum Penerbangan Terbesar se-Asia Tenggara
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Teror May Day di Jogja: Mahasiswa Dikeroyok Preman Diduga Ormas, HP Dirampas Saat Rekam Aksi Brutal
-
Kawal Kasus Little Aresha, Orang Tua Korban Dorong Penambahan Pasal Berlapis dan Hak Restitusi
-
Siklus Megathrust Pulau Jawa Tinggal 30 Tahun, Pakar Kegempaan Ingatkan Kesiapsiagaan DIY
-
Niat Keluar Cari Sasaran, Komplotan Remaja Bacok Pemuda di Jalan Godean Sleman
-
Efisiensi Anggaran Bikin Pekerja Seni di Jogja Kelimpungan, Berburu Hibah demi Bertahan Hidup