Chandra Iswinarno | Husna Rahmayunita
Selasa, 03 Desember 2019 | 07:00 WIB
Ilustrasi Abdullah Purwodarsono. [Suara.com/Rendra]

SuaraJogja.id - “Masa kejayaaan Djaka Lodang terjadi saat zaman judi buntut atau togel di awal 1990-an. Saat itu, banyak orang yang meramalkan bacaan demi peruntungan hingga oplah mencapai 20 ribu per minggu”

SEORANG pria setengah baya berjalan mendekatiku dari arah lorong rumah yang berada di Jalan Patehan Nomor 29 Kota Yogyakarta saat kusambangi pada Rabu (14/8/2019) pagi. Kala itu, waktu masih menunjukan sekira pukul 10.30 WIB, saat tangannya yang mulai keriput menjabat tanganku.

Sementara di sisi depan rumah, dua perempuan nampak tersenyum kepadaku. Sejurus kemudian, langkah kakiku terarah ke satu tempat di sudut rumah yang disebut sebagai ruang kerja Abdullah Purwodarsono, pendiri majalah berbahasa Jawa, Djaka Lodang.

Pintu ruangan tersebut pun diketuk pria yang menyambutku di pagi itu. Sesaat setelah mengetuk pintu dan memasuki ruangan, terlihat pria tua berkacamata memakai baju batik dan peci sedang duduk di atas kursi kayu.

Melihat kedatanganku, pria yang berusia lebih dari setengah abad itu langsung melipat surat kabar yang sedang dibaca dan meletakkannya di atas meja kayu di hadapannya. Ia nampak nyaman di dalam ruang berukuran 2,5 x 2,5 meter berdinding putih yang sesak dengan tumpukan buku, kertas dan beberapa kursi kayu kosong menghadap ke mejanya.

Hampir setiap hari, mulai Senin hingga Jumat, Abdullah menghabiskan waktu di sana untuk membaca dan mengoreksi tulisan redaksi yang dicetak di lembaran kertas berbekal bolpoin bertinta merah sebelum dimuat dan diterbitkan tiap Sabtu.

“Semua tulisan saya koreksi baik dari redaksi atau kontributor, jadi tidak sempat nulis seperti dulu. Tulisan ini boleh dimuat kalau sudah saya beri tanda,” ungkap Abdullah sembari tersenyum kepadaku.

Pria berusia 89 tahun itu cukup dikenal sebagai perawat bahasa Jawa yang dilestarikannya melalui bacaan Djaka Lodang. Berdiri resmi sejak sejak 1 Juni 1971, Djaka Lodang 'terpaksa' didirikan, lantaran Abdullah didesak oleh teman-temannya untuk mendirikan perusahaan sendiri setelah dianggap ingin mengusai perusahaan sebelumnya.

Sosok pensiunan guru yang sempat mengajar di SMA Negeri 2 Yogyakarta itu mengaku gelisah dengan pekerjaannya dan ingin mencari pengalaman baru. Langkah itu pun dimulainya pada awal 1970-an.

“Saya merasa kecil saat bertemu Pak Lurah karena saya hanya seorang guru. Guru kan sering didoakan muridnya sakit biar enggak ngajar. Ya tho?” celotehnya.

Setelah itu, ia rajin mengirim tulisan ke kantor majalah Kembang Brayan, satu majalah berbahasa Jawa di Yogyakarta. Berkat tulisannya itu, ia diterima bekerja dan berhasil meningkatkan oplah menjadi 3.000 eksemplar selama tiga bulan berturut-turut.

Namun, kejayaan Kembang Brayan tak bertahan lama. Lantaran mendadak, Kembang Brayan bangkrut setelah uang perusahaan habis digunakan untuk kepentingan pribadi pemiliknya.

Diminta Mendirikan Perusahaan

Terdengar pintu ruang Abdullah menutup seperti ada orang yang membukanya tapi nyatanya hanya tiupan angin.

“Teman-teman minta saya mendirikan perusahaan sendiri, lah modalnya dari mana orang saya cuma pegawai negeri,” Abdullah melanjutkan obrolan sembari mengenang kegelisahannya dahulu.

Pria yang memiliki tujuh orang putra itu lantas menyebut nama almarhum Koeswandi, seorang pimpinan percetakan ternama di Yogyakarta pada 1970-an. Keduanya kemudian bersepakat mendirikan yayasan bernama Kartika Sakti pada April 1971 untuk membuat terbitan media massa sendiri. Berawal dari modal sendiri, keduanya kemudian membagi tugas, rencananya Abdullah yang akan mengurus redaksi dan Koeswandi bertanggung jawab bagian produksi.

“Modalnya murni dari kami berdua, enggak banyak kok saat itu. Tapi saya sempat jual gelang istri untuk beli kursi dan meja kayu,” kelakar Abdullah.

Rapat demi rapat dijalani hingga muncul ide menerbitkan majalah dengan nama Sum Kuning. Bukan tanpa alasan muncul nama tersebut. Diakui Abdullah, Sum Kuning tengah menjadi perbincangan hangat dan berita nasional di tahun 1970-an.

Kisah Sum Kuning yang dikenal sebagai gadis penjual telur asal Godean berparas ayu berakhir tragis, lantaran disandera dan diperkosa anak-anak pejabat.

“Jadi kalau kita jual majalah di jalanan sambil teriak-teriak Sum Kuning... Sum Kuning... pasti orang tertarik. kan dia sedang ramai diberitakan,” kata Abdullah sembari menyunggingkan senyum.

Sayangnya, ide tersebut tak mendapat persetujuan aparat dengan alasan kemanusiaan. Abdullah dan Koeswandi lantas mengadakan rapat kembali untuk mengganti nama majalah, hingga tercetus nama Djaka Lodang yang diadaptasi dari karangan Pujangga Jawa, Rangga Warsita.

Bersepakat dengan nama baru, Abdullah lantas mengurus perizinan ke Serikat Perusahaan Pers (SPS), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Yogyakarta dan pusat. Kala itu, Abdullah mengaku sempat mendapat kendala saat meminta persetujuan PWI pusat yang saat itu terpecah menjadi dua, yakni kubu BM Diah dan Rosihan Anwar.

Saat mengajukan perizinan dari PWI, Abdullah mengaku kesulitan mendapat tanda tangan BM Diah. Namun akhirnya dia beruntung, karena mendapat bantuan dari Menteri Penerangan Boediardjo yang dikenalnya sejak di Yogyakarta.

“BM Diah sulit untuk diganggu. Jam istirahatnya kan pukul 13.00, ya harus jam itu. Untung di PWI Pusat ketemu Menteri Penerangan dan jadinya dapat bantuan. Yang tadinya dijanjikan Senin, Jumat sudah jadi,” katanya.

Uniknya, Abdullah yang belum kembali pulang dari Jakarta ke Yogyakarta, malah mendengar adanya kabar akan terbit majalah Djaka Lodang. Berita tersebut sempat membuat gempar Yogyakarta. Adalah HM Samawi yang menyebarkan isu tersebut, melalui pemberitaan di Koran Kedaulatan Rakyat.

HM Samawi bukan orang baru buat Abdullah. Mereka pernah berada dalam satu penginapan yang sama saat berada di Jakarta dan menjadi teman curhat Abdullah.

Pemimpin Redaksi sekaligus Pemimpin Umum Djaka Lodang Abdullah Purwodarsono (kiri) dan Redaktur Pelaksana Suhidriyo. [Suara.com/Husna]

Sekali Terbit Sempat Kena Sindir, Tapi Berjaya di Zaman Judi Buntut

Meluncur di pasaran, tak seketika mendapat sambutan baik dari para pendahulu. Pengalaman itu pula yang menyambut Djaka Lodang saat kali pertama meluncur.

Protes melalui tulisan dalam koran mingguan Pelopor Yogya bertajuk: ‘Hidup dari perpecahan dalam perpecahan, didominasi parpol tertentu dan dibiayai Jenderal Surono Rp 200.000’, pun dituai Djaka Lodang di masa awalnya melangkah.

Banyak yang mengira Djaka Lodang berhubungan dengan kepentingan politik, karena hadir bertepatan di masa tenang Pemilu yang digelar kali pertama pada masa Pemerintah Orde Baru di Tahun 1971. Selain itu, kehadiran Djaka Lodang kerap dikaitkan dengan kelompok. Pun dikaitkan dengan perpecahan yang dialami 'saudara tuanya', Kembang Brayan.

Bukannya kesal, Abdullah justru senang dengan pemberitaan 'miring' tersebut. Bagi Abdullah, pemberitaan tersebut adalah iklan gratis yang bisa menaikkan pamor Djaka Lodang.

Pada masa awal kehadirannya, Djaka Lodang memilih berkantor di Taman Hiburan Rakyat (THR), Yogyakarta yang saat itu dijadikan terminal. Bukan tanpa sebab lokasi tersebut dipilih di masa-masa awal membangun citraan majalah tersebut.

“Setahun kita berkantor di THR. Orang yang naik turun bus pasti lihat ada Kantor Djoko Lodang kan kalau di sana. Jadi mereka bisa beli,” katanya.

Kemunculan Djaka Lodang kala itu pun masih berupa tabloid delapan halaman. Jenis huruf yang dipilih pun disusun menggunakan huruf Anset atau huruf tangan yang bagi banyak orang bisa menarik perhatian, meski cukup rumit.

“Huruf tangan itu yang ditata satu per satu. Disusun dari kotak A, kotak B, kotak C, terus diikat. Rumit. Dan hurufnya harus beli di Pangudi Luhur Muntilan, Magelang,” ungkap Abdullah sembari menirukan huruf tangan.

Sebagai media massa yang baru terbit, Djaka Lodang memiliki satu rubrik unggulan yang hingga kini tetap legendaris, Jagading Lelembut. Rubrik yang memuat cerita mistis dan mitos ini langsung digandrungi pembaca Djaka Lodang kala itu dan bertahan hingga kini.

Banyak orang menaruh perhatian dengan cerita dalam rubrik tersebut. Bahkan, konon rubrik bertema horor ini menjadi yang pertama di dunia pers Indonesia.

Dari tabloid delapan halaman, Djaka Lodang bertransformasi menjadi selembar koran dan puncaknya berubah menjadi majalah di akhir 1978.

Obrolan dengan Abdullah masih berlanjut, namun perhatianku tertuju dengan majalah Djaka Lodang yang tergeletak di sudut mejanya, Aku meminta izin untuk mengambil dan melihat bagian sampul. Ada tulisan Aksara Jawa persis di bawah judul Djaka Lodang.

Abdullah menjelaskan, tulisan itu merupakan slogan Djaka Lodang berbunyi, 'Ngesti Budi Rahayu, Ngungak Mekaring Jagad Anyar' (Berusaha mencari keselamatan tanpa tertinggal informasi baru). Tulisan itu pula yang mewakili filosofi Djaka Lodang untuk terus eksis sembari memberikan informasi kepada pembaca.

Sejak awal terbit, Djaka Lodang tak hanya menarik perhatian warga lokal Yogyakarta, tapi juga pejabat di luar pulau. Abdullah bercerita, Bupati Serdang Bedagai kala itu, Sukirman, menjadi pelanggan setia karena rajin memesan 25 eksemplar tiap minggu.

“Bapak Sukirman itu juga pernah main ke kantor dua kali. Biasanya majalah yang dibeli dibagikan ke para staf mulai dari dalang, dinas pariwisata, untuk membahas hal menarik di rumah dinas,” katanya bangga.

Pelanggan Djaka Lodang di luar kota biasanya memang berasal dari kalangan transmigran. Sementara untuk area Yogyakarta, pemerintah kota pun sempat menjadi pelanggan untuk dibagikan ke sekretaris desa, namun hanya bertahan satu tahun.

Hingga akhirnya, masa kejayaan Djaka Lodang pun hadir setelah 18 tahun berdirinya, majalah tersebut memanen kejayaan bersamaan dengan zaman judi buntut di akhir 1980-an. Kala itu, oplah pembaca mencapai 10 ribu hingga 20 ribu per minggu. Banyak orang yang membeli hanya untuk membaca tafsir demi peruntungan

“Tulisan-tulisan di sini diramal katanya cocok. Saya enggak tahu caranya gimana, cocoknya di mana. Tapi banyak yang cari. Zaman waktu itu memang rodho edan (sedikit gila).”

Jagading Lelembut menjadi rubrik yang digemari di Majalah Djaka Lodang sejak kali pertama beredar. [Suara.com/Husna]

Namun, seketika raut wajah pria yang sempat menjadi anggota DPRD Yogyakarta itu berubah saat disinggung tentang oplah Djaka Lodang saat ini. Sambil menggelengkan kepala, diakuinya sekarang Djaka Lodang hanya bisa menjual kurang dari 3.000 majalah tiap minggunya kepada sejumlah agen dan pelanggan setia.

“Saya bukannya nglokro (menyerah), era memang sudah berbeda. Ini bukan salah siapa-siapa. Segala macam cara sudah dilakukan tapi kita kurang tenaga. Susah cari pekerja yang bisa berbahasa Jawa,” keluh Abdulllah lirih.

Penetrasi dunia digital tak bisa dipungkiri membuat Djaka Lodang sulit menemukan kejayaannya kembali, meski tetap memesona di kalangan pembaca setia. Majalah yang dua tahun lagi berusia setengah abad ini pun masih berusaha eksis di tengah kuasa media online.

Pun bila diketik di mesin pencari Google, ada web djokolodang.co.id tapi laman itu seperti kosong di sana-sini. Hanya ada beberapa bacaan yang diunggah sejak beberapa bulan lalu, lagi-lagi karena kurang tenaga. Setelah Koeswandi meninggal di Tahun 2002, Abdullah yang dulu fokus memimpin redaksi, kini rangkap jabatan menjadi pemimpin perusahaan.

Masa-masa sulit Djaka Lodang diakui Abdullah dimulai sejak 2015 silam. Kala itu, oplah menurun sementara 16 pekerja dari bagian redaksi, produksi tenaga pracetak dan administrasi harus tetap dihidupi.

Seiring dengan itu, beberapa agen yang menjadi tombak penjualan majalah tak bisa membayar sesuai waktunya. Selain itu, persoalan generasi pembaca juga turut menambah peliknya Djaka Lodang bertahan, lantaran banyak kehilangan pelanggan setia karena tutup usia.

Kini, Djaka Lodang praktis hanya mengandalkan pelanggan dan agen, tidak ada iklan atau sponsor dari luar maupun pemerintah. Rintisan untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah sebenarnya pernah dilakukan pada 1990. Saat itu, Djaka Lodang sempat diajak kerja sama Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dan berpartisipasi dalam program Koran Masuk Desa (KMD). Sayangnya itu hanya bertahan setahun.

Harapan untuk mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Yogyakarta sempat menjadi tumpuan besar Djaka Lodang agar bisa bertahan di era modern. Lantaran di Tahun 2014, Djaka Lodang sempat dianugerahi penghargaan pelestari budaya dan mendapat hadiah Rp 15 juta bersama majalah Jawa lainnya seperti Jampi Asli dan Omah Dhuwur.

Namun sayang, penghargaan itu kini hanya menjadi pajangan yang hanya bisa untuk dikenang di ruang kerja Abdullah.

“Ya kalau pemerintah mau memberi perhatian, ya syukur alhamdulillah. Tapi kita enggak bisa berharap banyak,” kata Abdullah.

Optimisme Redaksi

Seiring sinar matahari yang mulai menyengat di siang itu, Abdullah mengantarkanku keluar ruangan. Selepas itu, ia kembali ke tempat nyamannya. Empat kursi di ruang redaksi masih kosong karena waktu menunjukan jam istirahat karyawan. Aku memilih keluar sejenak sembari mencari angin di halaman Djaka Lodang yang sepi dari kendaraan.

Tampilan dalam Majalah Djaka Lodang yang masih menyajikan rubrik serupa sejak tahun 2003 silam. [Suara.com/Husna]

Sejak tahun 1990, Djaka Lodang berkantor di bangunan dekat Alun-Alun Kidul Kota Yogyakarta. Bila dilihat dari luar, bangunan ini menua bersama pendiri dan pekerja Djaka Lodang. Tak sulit bagi siapa pun menemukan kantor Djaka Lodang.

Selang 15 menit, aku menemui Suhidriyo, Redaktur Pelaksana Majalah Djaka Lodang. Dengan ramah, Suhidriyo mempersilakanku duduk di hadapannya, di ruang redaksi yang bersebelahan dengan ruang kerja Abdullah.

Sambil tersenyum, pria 66 tahun itu mengaku resmi menjadi Redaktur Djaka Lodang sejak 2013. Sebelumnya Suhidriyo berprofesi sebagai guru. Semasa mengabdi menjadi guru, ia hanya menjadi kontributor lapangan yang kerap mengirim tulisan sejak 1985.

Beda dulu beda sekarang, kini ia hanya mengisi beberapa rubrik yang ada di Djaka Lodang. Lantaran, tulisan di rubrik lainnya lebih banyak diisi oleh rekan-rekannya dan kontributor. Pun misal menulis, ia lebih sering membahas berita international sesuai ketertarikannya.

Diakuinya, siapa saja bisa mengirimkan tulisan ke Djaka Lodang tak terkecuali mereka para pejabat, dalang, dosen atau siswa sekolah yang jago menulis dalam Bahasa Jawa. Nantinya akan ada apresiasi tertentu bagi mereka yang tulisannya dimuat.

Meski majalah tradisional, Djaka Lodang terus melakukan inovasi khususnya dengan variasi tulisan dan rubrikasi. Bukan hanya Jagading Lelembut, cerita pendek (cerkak) atau cerita bersambung, beberapa tahun lalu juga dimuat dalam rubrik Tembang Dolanan.

“Inovasi tentu dilakukan sesuai perkembangan zaman meski tidak mengubah bentuk majalah. Seperti waktu lalu, kita coba kasih Tembang Dolanan ternyata banyak yang suka,” katanya.

Suhidriyo lalu menawarkanku segelas air mineral sebelum melanjutkan obrolan. Suasana menjadi hangat bersama iringan lagu Koes Plus yang terdengar lirih melalui perangkat komputer yang berada di meja paling ujung ruang redaksi.

Sembari aku meminum air mineral, Suhidriyo bercerita tentang keyakinannya mengenai eksistensi Djaka Lodang yang hidup di tengah era modern. Suhidriyo yang sesekali terlihat membenarkan posisi kaca matanya itu yakin Djaka Lodang bisa tetap eksis. Lantaran, mereka begitu memegang peranan para pelanggan yang setia membeli.

“Banyak koran di Jawa Tengah yang tiba-tiba hilang karena tidak punya pelanggan, hanya dijajakan setiap hari. Kami mengandalkan pelanggan. Kekuatan ada di pelanggan, jadi setiap minggu kita rajin untuk mempertahankan kepercayaan mereka."

Suhidriyo mengatakan, Djaka Lodang punya beragam strategi untuk bisa bertahan di tengah gempuran dunia daring. Terpenting, mereka menjunjung tinggi unsur otentik, unik dan klasik yang tidak dimiliki media lain. Karena untuk bersaing secara kompetitif dirasa cukup sulit.

“Berjuang di zaman serba online ini memang susah. Tapi kita punya punya unsur otentik dan klasik yang tidak dimiliki media lain. Itu yang kita pegang."

Selain itu, Redaksi Djaka Lodang berusaha menyasar generasi muda dengan melibatkan para guru. Tak jarang, mereka menggelar pelatihan lewat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau seminar di berbagai kota agar para guru bisa membagikan ilmu dan karya yang dimiliki kepada siswa.

“Mereka antusias dengan cara ini. Karya yang bagus biasanya kami muat sehingga bisa dijadikan bahan ajar atau modal kenaikan pangkat. Mereka pun semacam syiar kepada siswa-siswanya tentang majalah Jawa Djaka Lodang."

Dengan strategi itu, Djaka Lodang tetap dikenal sebagai majalah Jawa yang tidak hanya kekunoan tapi juga bisa bersaing di zaman kekinian.

Usai berbincang di Markas Djaka Lodang, aku kemudian pamit dengan pendiri dan redaksi Djaka Ladang. Saat melangkahkan kaki ke pintu keluar, pandanganku tiba-tiba tertarik menuju seorang wanita dan bocah yang tengah mengobrol dengan petugas administrasi.

Kucoba menunggu mereka di teras, tak lama keduanya keluar sembari membawa tiga majalah Djoko Lodang. Wanita itu bernama Naning, ia sengaja mampir ke kantor untuk membeli Majalah Djaka Lodang yang akan terbit Sabtu (17/8/2019).

“Beli Djaka Lodang karena ayah saya yang veteran kebetulan kemarin diwawancarai. Dapat kabar dari tetangga kalau kakung sudah viral. Jadi keluarga di Jakarta minta dibelikan. Jadi saya ke sini beli lagi sekaligus buat arsip di rumah,” ungkap wanita yang tinggal di Pakem, Sleman itu.

Meski begitu, Naning juga menggemari bacaan Djaka Lodang khususnya rubrik unggulan dalam majalah 50 halaman itu.

“Paling senang ya Jagading Lelembut, menarik itu ceritanya,” katanya.

Harapan Pembaca Setia Djaka Lodang

Enam hari berlalu setelah menyambangi kantor majalah Djaka Lodang, tepatnya pada Selasa (20/8/2019), aku menemui seorang pembaca setia majalah itu.

Rumah di Jalan Gambir No. 140 c, Deresan, Yogyakarta seperti yang telah disebutkan menjadi tujuanku kali ini. Mendekati bagian halaman rumah, nampak seorang pria sudah menunggu di depan teras kamar kos yang sengaja disewa sebagai kantor mungil.

Salah satu pelanggan setia Majalah Djaka Lodang Purwadi yang juga merupakan Dosen Sastra Jawa Universitas Negeri Yogyakarta menunjukan koleksinya. [Suara.com/Husna]

Dialah Purwadi (48), Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Purwadi mengaku sejak 2003 menjadi pelanggan tetap Djaka Lodang. Meski begitu, saat kuliah diakuinya Djaka Lodang sudah begitu populer di Yogyakarta.

Setiap minggu ada orang yang mengantarkan majalah itu ke rumahnya. Selesai dibaca, majalah itu pun ditawarkan kepada tamu yang berkunjung. 

Bagi Purwadi, Djaka Lodang merupakan aset budaya Jawa karena menjadi satu-satunya media berbahasa Jawa yang masih eksis di Yogyakarta.

Purwadi ingat betul, konten Djaka Lodang kali pertamanya berlanggganan di tahun 2003, tak jauh berbeda dengan saat ini. Rubrik unggulan tetap ada, hanya beberapa tambahan saja untuk keluaran terbaru.

Meski begitu, Purwadi mengaku tidak begitu menggemari rubrik Jagading Lelembut. Dia justru menyukai rubrik yang membahas Sastra Jawa sesuai bidang keahliannya. Baginya hal itu lebih menarik, bahkan ia berharap Djaka Lodang bisa memperbanyak bahasan semacam itu.

“Ya kalau bisa perbanyak ajaran tentang sastra Jawa,” kelakar Purwadi yang menyilangkan satu kakinya di atas sofa.

Di tengah obrolan, Purwadi tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Selang semenit, ia kembali dengan membawa buku berbentuk besar. Ternyata buku besar itu merupakan kumpulan kliping dari media cetak yang memberitakan kegiatan dan karyanya.

Pada setiap lembar terakhir buku itu, muncul potongan Majalah Djaka Lodang. Nyatanya, ia rajin mengirimkan tulisan dan sudah beberapa kali diliput. Ia mengaku dengan cara tersebut bisa membantu melestarikan budaya Jawa, terlepas dari profesinya sebagai seorang dosen, penulis buku dan dalang.

“Saya sudah sering diberitakan sejak beberapa tahun lalu, khususnya saat jadi dalang di pagelaran wayang,” katanya kepadaku.

Lantaran itu, ia berharap Djoko Lodang bisa terus eksis di dunia modern ini meski kehadirannya bersaing dengan media online. Pun, ia berharap Pemprov Yogyakarta bisa menunjukkan kepedulian dengan majalah Djaka Lodang. Misalnya, menurut Purwadi, dengan memberikan bantuan lewat APBD untuk menjamin kelestarian salah satu aset budaya itu.

“Djaka Lodang bisa tetap eksis kalau Sultan mau turun tangan atau setidaknya menjadi pelanggan yang setiap minggu bisa beli majalah ini. Pasti itu bisa meningkatkan oplah. Ya tho?” tanya Purwadi.

Purwadi lantas menunjukkan pemberitaan terkait dirinya yang belum lama ini diberitakan Djaka Lodang. Saat itu, ia kedatangan Kazunori Toyota, Budayawan asal Jepang yang gemar dengan Kebudayaan Jawa. Mereka melakukan diskusi dan belanja buku bersama.

Kini, majalah Djaka Lodang yang terbit setiap hari Sabtu. Masih bertahan dengan ragam rubrik yang disatukan dalam 50 halaman. Mulai dari Cerita sambung, Wawasan Ironing Negara (berita internasional), Nasib Penjenengan (ramalan nasib), Jagading Lelembut, Aksara Hawa, Tembang Dolanan (lagu anak-anak), Geguritan (puisi), Plesiran (berita liburan) dan masih banyak lagi.