Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Kamis, 12 Desember 2019 | 10:04 WIB
Seorang perempuan mengacungkan tangan tandan penolakan. Ilustrasi pelecehan seksual. [Shutterstock]

SuaraJogja.id - Kejadian tak mengenakkan dialami seorang warga Yogyakarta ketika tengah menikmati waktu bersantai dengan temannya di Alun-Alun Utara Yogyakarta, Rabu (11/12/2019) malam. Ia dan temannya dilecehkan seorang pria yang sengaja memamerkan alat vital di tempat umum, atau dikenal dengan ekshibisionis.

Peristiwa ini diceritakan korban, yang adalah seorang perempuan berinisial AA (23), di Twitter. Melalui utas yang dibagikannya, AA mengungkapkan kejadian tersebut sembari memperingatkan masyarakat untuk waspada terhadap pelecehan seksual ekshibisionis.

"Hati-Hati Pelecehan Seksual "Ekshibisionis". 11/12/19. Alun-Alun Utara Yogyakarta. Temen-temen mungkin pernah mengalaminya, tapi tidak berani speak up atau malu untuk bercerita/melawan. Baru saja malam tadi saya dan teman saya menikmati suasana Jogja di Alun-Alun Utara," tulis AA.

Awalnya, ungkap AA, ia dan temannya, yang juga perempuan, sedang duduk sambil mengobrol di tengah lapangan di depan Keraton Yogyakarta. Kemudian seorang pria tiba-tiba berjalan mendekat, lalu berhenti tak jauh dari AA dan temannya sambil berdiri memandangi mereka berdua.

Tak lama kemudian, pria itu mengeluarkan kemaluannya dan melakukan masturbasi di bawah jaket yang ia pakai. Menyaksikan hal tersebut, AA langsung menelepon Polres Jogja sembari mengawasi pelaku supaya tidak kabur.

Begitu empat petugas kepolisian datang ke lokasi, kata AA, pelaku panik dan mengubah posisi tangannya ke dalam jaket. Polisi pun mengatakan akan mengondisikan pelaku dengan cara yang tidak mengundang perhatian banyak orang.

Namun, sebelum polisi bertindak, pelaku sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan lapangan, sehingga AA dan temannya bertanya-tanya dengan sikap polisi dalam menangani pelecehan seksual yang menimpa mereka.

"Pelaku tersebut pergi keluar dari lapangan. Dan beberapa menit kemudian petugas kembali ke pada kami dan bertanya, "Sekarang maunya gimana mbak?" Seketika saya bingung, lah pelakunya pergi," jelas AA.

AA sempat berharap, polisi segera menangkap pelaku dan memberinya efek jera, tetapi yang terjadi sebaliknya, menurut AA, tindakan polisi sangat santai, tak sesuai harapan, dan kini justru membuat AA makin kahwatir.

"Ini yang membuat saya heran, pelaku dibiarkan pergi. Padahal kondisi kami jelas takut, semalam teman saya langsung gemetar, takut, pusing, dan mual," kata AA saat dihubungi SuaraJogja.id, Kamis (12/12/2019).

"Pelaku bisa dendam dan melakukan aksi lain kalau sampai lihat kami lagi," lanjutnya.

Di samping itu, AA, sebagai seorang aktivis pariwisata di Jogja, juga mengkahwatirkan keselamatan warga Jogja dan pengunjung yang berwisata ke Jogja.

"Itu sudah merusak citra kota pariwisata Jogja ini juga," ujarnya.

Saat ini AA berharap, polisi menjelaskan cara melapor yang lebih baik jika kejadian serupa terulang dan segera ditangani polisi.

"Saya pengin dapat penjelasan dari aparat untuk memberikan edukasi pada masyarakat cara pelaporan yang lebih bijaknya seperti apa ke depannya kalau semisal ada kejadian hal yang sama lagi. Lalu tindakan apa yang akan dilakukan aparat," kata AA.

"Karena pelaporan yang semalam itu hanya membuat kami makin resah, dan menurut kami membiarkan orang tersebut pergi begitu saja bukan pilihan yang terbaik," imbuhnya.