SuaraJogja.id - Seorang driver ojek online, Enrico Kristanto harus dilarikan ke Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (1/2/2020) pukul 03.20 WIB usai mengalami luka cukup serius di bagian wajah karena terkena bacokan.
Pria yang tinggal di Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul tersebut merupakan satu dari sekian korban penganiayaan tanpa motif atau lebih dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dengan sebutan klitih. Akibat bacokan di bagian wajahnya, ia harus menjalani operasi.
Awalnya pria 40 tahun ini hanya menjalani tugas seperti hari-hari sebelumnya. Menerima orderan penumpang dan mengantarkan mereka ke tempat yang dituju sesuai aplikasi di dalam gawainya.
Pukul 03.00 wib, Enrico masih bekerja di tengah pagi buta, mengantarkan seorang penumpang. Tepat di Jalan Kabupaten, Trihanggo, Gamping, Kabupaten Sleman, dari arah utara Jalan Kabupaten, melaju seorang pengendara motor. Tak jelas apakah satu ada dua orang, namun orang tak dikenal tersebut mengayunkan sebuah senjata tajam hingga mengenai wajah Enrico.
"Serasa muka saya dihantam sebuah benda keras. Seketika saya oleng dan menepi. Untung penumpang saya langsung memegangi badan saya. Posisi sudah miring dan hampir jatuh, setelah saya sadar, bibir kanan saya hingga leher sebelah kanan mengeluarkan banyak darah. Rasanya perih sekali," ungkap Enrico ditemui SuaraJogja.id di RSA UGM, Minggu (2/2/2020).
Pihaknya melanjutkan, keadaan yang sepi membuat penumpang bergegas mencari bantuan. Warga yang masih berada di sekitar TKP, mendekati Enrico dan membawa pria asal Depok, Jawa Barat ini ke RS terdekar.
"Mata saya sudah berkunang-kunang, rasanya setengah sadar. Saya merasa berada di atas motor diapit oleh dua orang warga. Setelah itu saya sudah tak ingat apa-apa lagi," jelas Enrico yang sulit berbicara jelas.
Meski demikian pihaknya mencoba membeberkan kronologi kejadian yang dia alami pada Sabtu pagi buta tersebut.
Pria yang dirawat di ruang Bima 4 RSA UGM itu mengaku sengaja mencari penumpang di tengah malam karena untuk menambah penghasilan.
Baca Juga: Tak Cuma Instagramable, Ngopi Makin Syahdu di "Hutan Mini" TUGU LOR Jogja
"Saya freelance di Yogyakarta, jadi dari siang sampai subuh itu kerja. Siang sampai sore freelance, lalu malamnya sekitar pukul 21.00, saya narik (bekerja) ojek sampai jam 05.00, hal itu dilakukan semata-mata untuk mencukupi kebutuhan hidup. Saya harus membayar BPJS baik saya dan juga orang tua," ungkapnya.
Ia mengaku saat itu mulai keluar untuk ngojek sekitar pukul 21.00. Ia saat itu mendapat orderan dari Stasiun Tugu.
"Saya mulai narik itu pukul 21.00, nah setiap pukul 00.00 aplikasi di-restart dan poin nanti kembali ke angka semula. Jadi tidak mengejar poin, saya mengejar penumpang. Karena pukul 00.00 sampai 05.00 banyak penumpang terutama dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Ya jika badan saya kuat untuk bekerja malam, hari itu saya terima orderan penumpang di sana (Stasiun Tugu)," katanya.
Disinggung mengapa memilih Jalan Kabupaten untuk mengantar penumpang, Enrico mengaku karena memang sejalur dengan lokasi rumah penumpangnya. Namun begitu ia tak berprasangka buruk ketika melintas di jalan tersebut.
"Dasarnya saya memang berani untuk melintasi jalan itu (Kabupaten) karena masih ada penerangan. Biasanya juga lewat daerah itu namun tak pernah mengalami kejadian seperti ini. Malah kemarin Sabtu terkena musibah klitih ini" keluhnya.
Enrico sedikit menyayangkan peristiwa yang dialami. Sebab meski polisi telah sering melakukan patroli, masih saja terjadi kejadian penganiyaan tak bermotif itu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Bedah Buku 'Muslim Ahmadiyah dan Indonesia' di UKDW Yogyakarta: Bukti Resiliensi dan Cinta Tanah Air
-
Penjualan Hewan Kurban di Sleman Lesu, Pedagang Keluhkan Penurunan Omzet
-
Petani Jogja Makin Terjepit! Biaya Angkut dan Karung Mahal Gegara BBM Naik, Kesejahteraan Merosot
-
Diduga Keracunan Makanan Pamitan Haji, 43 Warga Sleman Alami Diare dan Demam
-
Menyambut Derby DIY di Super League Musim Depan, Bupati Sleman: Hilangkan Rivalitas Tidak Sehat