Galih Priatmojo | Muhammad Ilham Baktora
Minggu, 02 Februari 2020 | 20:30 WIB
Driver ojol bernama Enrico jadi korban kebrutalan klitih yang terjadi Sabtu (31/1/2020) kemarin di Jalan Kabupaten. [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja]

"Saya beberapa kali beroperasi malam kerap melihat polisi patroli, kadang ada yang melintasi Jalan Kabupaten, ada juga di daerah Kalibawang. Jadi melihat kasus saya di Jalan Kabupaten, saya pikir pelaku ini sudah mengetahui lokasi mana saja yang tak dilalui patroli polisi. Jadi seperti kucing-kucingan. Saya malah sempat berpikir pelaku-pelaku ini seperti terorganisir, karena sudah sering polisi bertindak namun masih muncul lagi pelaku-pelaku itu," prediksi Enrico.

Akibat kejadian klitih tersebut, Enrico kini terpaksa harus terbaring di RSA UGM. Kelopak matanya nampak bengkak, dua helai perban menempel dari pinggir bibir sisi kanan hingga menutup leher sebelah kanan.

"Lukanya panjang dari pinggir bibir sampai leher belakang bagian kanan. Dokter memberitahu ada banyak jahitan. Pundak saya juga terkena barang yang katanya benda tajam," ucapnya menunjukkan beberapa jahitan di wajah.

Kejadian yang menimpa Enrico itu mengundang prihatin sesama driver ojol. Hal ini seperti yang diungkapkan Yulianto. Keluarga driver ojek daring asal Bligo, Ngluwar, Magelang yang beroperasi di Sleman, DIY bahkan pernah jadi korban klitih.

Anak semata wayangnya, Bagus Rifki saat itu menjadi korban penganiayaan setelah mendapat hantaman batu dari pelaku yang diduga masih duduk di bangku SMA, 5 November tahun lalu.

"Anak saya yang menjadi korban klitih saja, saya sudah pusing sekali. Disamping khawatir dengan masa depan anak, biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan juga banyak. Bahkan jika penganiayaan seperti ini, BPJS tak bisa membantu," keluhnya.

Yuli harus membuat laporan kasus penganiayaan itu untuk meminta bantuan dan dari beberapa lembaga bantuan lain. Ia pun sangat berharap pemerintah daerah dan kepolisian bisa menindak secara serius atas kasus klitih yang meresahkan tersebut.

"Mbok yo pemerintah itu bisa lebih perhatian kepada warga yang terkena penganiyaan ini terutama karena ini kan butuh biaya besar untuk pengobatannya. Karena dari perusahaan kami (Gojek) hanya ada BPJS, tapi BPJS itu tak bisa membantu biaya untuk korban penganiayaan. Seharusnya kejadian seperti ini (klitih) harus diselesaikan secara tuntas. Karena kami yang juga bekerja malam hari juga akan was-was saat akan beroperasi," terang Yuli.

Ketua Komunitas Koordinasi Antar Driver Online (KADO) Yogyakarta, Adi Setyawan mengatakan bahwa Yogyakarta sudah darurat Klitih. Pasalnya tak hanya anak remaja yang menjadi korban. Driver ojolpun juga jadi sasaran.

Baca Juga: Tak Cuma Instagramable, Ngopi Makin Syahdu di "Hutan Mini" TUGU LOR Jogja

"Yogyakarta kembali jadi darurat Klitih setelah kasus yang menimpa rekan kami Enrico. Jadi kami tidak tahu apa-apa, sedang dalam tugas untuk menghidupi diri tapi malah kena penganiyaan ini. Jika kecelakaan, memang jelas karena mungkin keteledoran driver. Tapi jika penganiayaan itu, ada unsur kesengajaan untuk melukai orang-orang, tapi kenapa driver ojol yang jadi korban," kata Adi.

Pihaknya membeberkan tahun 2020 ini, pihaknya sudah mendapat tiga laporan dari komunitasnya terkait kasus kejahatan di jalan raya yang korbannya driver ojol. Pertama di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, lalu Jalan Kabupaten, Gamping, Sleman dan terkahir di Nanggulan, Kulonprogo.

"Komunitas kami juga bergerak memperhatikan keselamatan pengemudi. Sudah ada tiga kasus yang kami terima tahun ini. Harusnya ini jadi perhatian bersama terutam pihak kepolisian," kata dia.

Adi yang juga relawan untuk rekan driver online ketika mengalami musibah mengatakan koordinasi dengan pihak aparat pernah mereka lakukan. Namun hingga kini belum sepenuhnya keselamatan driver terjamin.

"Jadi kami hanya bisa berharap kepada polisi. Memang keselamatan menjadi pribadi masing-masing driver, tapi Yogyakarta yang kami nilai darurat Klitih, harusnya polisi lebih giat lagi untuk melakukan tindakan," tambahnya.

Terkait kasus yang menimpa Enrico para driver ojol yang tergabung dalam komunitas KADO sedang berupaya untuk menggalang dana.

Load More