SuaraJogja.id - Kepala Pedukuhan Karangtengah Kidul Puryono mengaku tak bisa menolak para perantau yang pulang ke daerah asalnya, termasuk ke kampungnya, Karangtengah Kidul RT 07, Kalurahan Margosari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. Oleh karena itu, pihaknya hanya menginstruksikan jajarannya untuk memantau para pendatang di masa wabah COVID-19.
Puryono memerintahkan, pendatang yang masuk daerahnya harus melakukan isolasi secara mandiri, minimal hingga 14 hari, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun begitu, sempat ada warga yang tidak melaporkan diri ke pihak desa atau puskesmas bahwa dia memang datang dari luar kota. Pihaknya berinisiatif melakukan pendataan melalui komunikasi yang ada dengan ketua RT dan RW setempat.
"Kami tidak resah, tapi tetap berjaga-jaga karena memang ada warga yang tidak percaya adanya virus COVID-19 ini, dan ada juga yang percaya. Namun kami tetap edukasi kepada siapa pun," ujarnya.
Ia menuturkan bahwa beberapa orang pendatang dari luar kota yang singgah di desanya mayoritas untuk pulang ke rumah orang tuanya. Hanya satu orang yang punya rumah di situ lalu setelah sekian lama pulang kembali.
Terkait dengan larangan bagi pemudik yang sudah telanjur ditulis di banner dan dipasang warga di pintu masuk desa, pihaknya mengatakan akan mengganti imbauan tersebut agar lebih terdengar halus. Jika sebelumnya bertuliskan larangan, maka nanti akan dituliskan menjadi imbauan untuk warga yang telanjur mudik.
"Karena kami juga tidak bisa melarang atau bahkan mengusir orang-orang dari kota yang mungkin sudah telanjur mudik karena tidak bisa makan di kota karena dibatasi aksesnya, jadi kami beri pengertian saja. Semoga warga yang datang juga menaati aturan yang ada," tegasnya.
Warga Karangtengah Kidul sendiri dalam seminggu terakhir sudah melakukan penyemprotan disinfektan secara swadaya di area desa dan tempat-tempat berkumpul warga, seperti masjid dan pos ronda. Desa juga sudah meniadakan salat Jumat di masjid dan beberapa kegiatan yang berpotensi mengumpulkan banyak orang.
Ia menuturkan, kendala saat ini adalah ketersediaan obat atau bahan baku untuk pembuatan disinfektan, yang makin susah didapat. Namun untuk saat ini, pihaknya mengaku masih memiliki stok untuk penyemprotan yang akan dilakukan lagi pekan depan.
Ditemui terpisah, Wakil Ketua RT 07 Sugiyo mengatakan, memang ada penyemprotan secara mandiri dari hasil iuran warga yang digunakan untuk membeli bahan-bahan utama pembuat disinfektan.
Baca Juga: Kampung di Semarang Mulai Lockdown Mandiri karena Takut Corona
"Ya itu bisa dibilang donasi dari warga, jadi memang dapatnya tidak seberapa, cuma untungnya cukup untuk membeli kebutuhan disinfektan," terang Sugiyo.
Ia menjelaskan bahwa warga juga sudah diberi sosialiasi terkait imbauan pemerintah, baik untuk sosial distancing atau tidak berkumpul dengan banyak orang untuk sementara waktu. Masyarakat pun mendukung serta menerapkan imbauan tersebut dalam kegiatan sehari-hari.
"Ya semoga semuanya bisa jadi normal kembali, virusnya bisa hilang," harapnya.
Berita Terkait
-
Wali Kota: Warga dari Zona Merah Covid-19 Jangan Pulang Kampung ke Solo
-
Update Corona di Jogja: PDP Bertambah Jadi 175 Orang
-
Gugus Tugas Sleman Kurangi Jam Buka Toko Modern dan Akan Evaluasi ODP
-
Omzet Turun karena COVID-19, Pemilik Bakpiaku: Kesehatan Prioritas Kami
-
Sudah Tak Ada Pengunjung, Pemkab Kulon Progo Belum Tutup Objek Wisata
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi