Sebanyak 15 karyawan dikerahkan untuk membuat wastafel anti Corona. Dalam sehari, BUMDes Tridadi Makmur menargetkan pembuatan wastafel 10 unit. Jika karyawan lembur bisa sampai 15 unit per hari.
"Awalnya belum bisa mencapai target itu karena belum memiliki pola kerja yang baik. Akhirnya terus kami kembangkan hingga bisa memproduksi 10 unit dalam sehari. Karyawan biasa bekerja dari jam 08.00-22.00 wib. Tapi tidak kami batasi jam kerjanya, ketika dia lembur bisa mencapai 15 unit," ungkap dia.
Wastafel anti Corona dibuat dengan berbagai varian. Fungsi dan cara penggunaannya masih sama ditekan menggunakan kaki.
"Ada tiga varian, paling kecil ukuran 2x4 meter yang paling banyak diminati. Kami hargai sebesar Rp 750 ribu. Varian kedua ukuran 4x4 meter kisaran harga Rp 850-900 ribu. Varian terakhir yang paling besar menggunakan hak tampungan yang besar. Kami hargai Rp 1,2 juta," kata dia.
Baca Juga: Pengakuan Pelajar Pembawa Celurit Jogja: Tak Ingin Dianggap Penakut
Hingga kini pihaknya masih memproduksi wastafel tersebut. Prediksinya hingga Agustus-September, BUMDes masih tetap membuat wastafel.
"Sebenarnya ini hanya momen saja, mungkin setelah Corona hilang dan kembali normal, usaha ini bisa jadi tidak dilanjutkan. Tapi hingga Agustus-september 2020 masih ada permintaan," terang dia.
Kebanyakan permintaan datang dari instansi pendidikan. Pengiriman biasa dilakukan ke wilayah, Sleman, Bantul Jakarta, Jawa Tengah dan sebagaian Jawa Timur.
"Sebelumnya sempat ada permintaan ke Makassar dan Palembang, tapi karena terbentur jarak masih kami koordinasikan lagi," ungkapnya.
Salah seorang pegawai BUMDes, Lumaksono (47) mengakui selama dirinya tak bekerja dua bulan, cukup stress karena tak ada pemasukan. Ketika BUMDes berinovasi dan mendapat pekerjaan membuat wastafel, saat ini dirinya lebih tenang.
Baca Juga: Bawa Celurit Untuk Tawuran, Pelajar SMP di Jogja Terancam Penjara 10 Tahun
"Saya dua bulan bingung mencari pemasukan darimana. Bantuan dari pemerintah juga dapat tapi tak bisa mengover seluruh kebutuhan. Akhirnya saya meminta pekerjaan di BUMDes ini dan ikut membuat wastafel. Alhamdulilah pendapatannya cukup," kata pria yang masih terdaftar sebagai pegawai di Puri Mataram ini.
Berita Terkait
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Libur Singkat, Ini Momen Bek PSS Sleman Abduh Lestaluhu Rayakan Idulfitri Bersama Keluarga
-
Gustavo Tocantins Beri Sinyal Positif, PSS Sleman Mampu Bertahan di Liga 1?
-
Dibayangi Degradasi, Pieter Huistra Bisa Selamatkan Nasib PSS Sleman?
-
Hasil BRI Liga 1: Drama 5 Gol, Persis Solo Kalahkan PSS Sleman
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
Terkini
-
Harga Kebutuhan Pokok di Kota Yogyakarta Seusai Lebaran Terpantau Stabil
-
Tiga Wisatawan Terseret Ombak di Pantai Parangtritis, Satu Masih Hilang
-
Cerita UMKM Asal Bantul Dapat Pesanan dari Amerika di Tengah Naiknya Tarif Impor Amerika
-
Diserbu 110 Ribu Penumpang Selama Libur Lebaran, Tiket 50 Perjalanan KA YIA Ludes
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo