SuaraJogja.id - Maraknya aksi unjuk rasa di sejumlah daerah, termasuk di DIY yang menolak Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) sejak beberapa hari terakhir dikhawatirkan menjadi pemicu munculnya klaster baru penularan COVID-19. Massa yang datang dari berbagai tempat sulit dilakukan tracing bila nantinya muncul kasus positif COVID-19.
"Unjuk rasa juga bisa berkontribusi munculnya klaster baru dan akan susah tracing karena kita tidak tahu mereka datang dari mana saja," ungkap ahli epidemiologi DIY, Hamam Hadi di Kampus Alma Ata, Selasa (30/06/2020).
Padahal kurva penambahan kasus positif di Indonesia, menurut Hamam masih cukup tinggi pada saat ini. Pelonggaran kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pemerintah daerah di masa pandemi ini membuat kasus positif naik cukup signifikan.
Rektor Alma Ata itu mencatat, pelonggaran kebijakan PSBB di sejumlah daerah pada pertengahan Juni 2020 lalu membuat kasus positif COVID-19 di Indonesia bertambah sekitar 700-1.000 orang per hari. Padahal sebelum ada pelonggaran, kasus positif COVID-19 yang muncul sekitar 400-600 per harinya. Bila dibiarkan maka kasus positif bisa mencapai 1.500-2.000 per hari.
Indonesia sampai saat ini masih kesulitan menekan angka penularan COVID-19. Padahal pada 28 April 2020 lalu kurva pasien positif COVID-19 harusnya sudah mencapai puncak. Namun ternyata hingga 18 Mei 2020, kasusnya justru semakin naik. Kondisi serupa terjadi hingga periode 29 Mei 2020 dan terakhir 28 Juni 2020.
"Kalau sudah begini, pemerintah harus tegas dalam melakukan on-off policy. Kalau memang muncul kasus [covid-19] baru yang signifikan akibat pelonggaran kebijakan yang diperketat lagi. Jangan karena pelonggaran, warga jadi lalai, bahkan berkerumun seperti unjuk rasa sehingga meningkatkan jumlah kasus secara signifikan," ujarnya.
Hamam menambahkan, pemda maupun pusat harusnya bisa mencontoh sejumlah negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia dan Singapura yang bisa menekan angka positif COVID-19 melalui penerapan on-off policy. Bahkan Jepang dan Korea Selatan (korsel) yang berhasil menangani COVID-19 karena tegas menerapkan kebijakan tersebut.
Jangan sampai kejadian di Amerika Serikat, Iran, Saudi Arabia dan Brazil juga terjadi di Indonesia. Pelonggaran kebijakan di Iran, Saudi Arabia dan Brazil serta maraknya aksi unjuk rasa di Amerika Serikat memicul munculnya kasus-kasus baru COVID-19 secara signifikan.
Akibat kebijakan di sejumlah negara tersebut, angka kasus positif COVID-19 di dunia tembus 150 ribu per hari saat ini hingga total kasusnya sudah mencapai lebih dari 10 juta orang.
Baca Juga: Jumlah Penumpang Kereta Daop 6 Jogja Terus Alami Peningkatan
"Sekarang ini 1 juta kasus COVID-19 baru di dunia hanya terjadi dalam kurun waktu delapan hari saja. Hal ini berbeda dari beberapa bulan lalu ketika 1 juta kasus COVID-19 muncul dalam kurun waktu tiga bulan," tandasnya.
Karenanya Hamam berharap selain on-off policy, tracing secara efektif juga bisa dilakukan. Kalau perlu pemerintah juga melakukan pembaruan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih kompeten. Isu resuffle kabinet yang mengemuka setelah Presiden Joko Widodo mengkritik para menteri pun perlu didukung.
"Orang-orang yang kerja dalam penanganaan covid-19 sudah lelah. Empat bulan terakhir pasti dirasakan seperti empat tahun. Tidak ada energi baru untuk bisa mengubah keadaan. Karenanya jangan menunggu korban[covid-19] lebih banyak lagi, lebih baik mengganti orang-orang yang lebih tepat di bidangnya," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi