SuaraJogja.id - Seiring dengan mengganasnya pandemi Covid-19, aktivitas sekolah pun dialihkan menjadi online dari rumah masing-masing. Sejumlah guru di Jogja menuturkan pengalamannya selama mengajar dari rumah masing-masing.
Hal ini seperti diungkapkan oleh Yeti Islamawati. Selama empat bulan lebih menjalani aktivitas mengajar dari rumah, ia merasakan kerepotan yang luar biasa. Guru Bahasa Indonesia di MTs Negeri 6 Sleman ini harus sesekali menomorduakan anak-anaknya saat sedang mengajar siswa dari rumah.
"Anak-anak saya bilang masa muridnya dulu? Anaknya belum selesai. Apalagi anak kan tahunya WFH itu seperti orang tuanya sedang libur kan, padahal kan enggak," ucap pengampu literasi ini kemudian tertawa kecil, Selasa (7/7/2020).
Bukan hanya dinomorduakan saat mengajar, melainkan juga kedua anak Yeti harus terpaksa mengerjakan tugas agak belakangan ketimbang teman-teman sekolahnya.
"Teman-temannya [mengerjakan] pagi, dia baru abis dzuhur baru mengerjakan," ungkapnya.
Mengampu siswa kelas VII sebanyak lima kelas, Yeti kadang merasakan dilema dalam mendidik. Karena anak dan siswa sama-sama amanah baginya.
"Tapi kan kalau sedang mengajar itu tidak bisa disambi ya, harus fokus," terangnya.
Bagi perempuan kelahiran 20 Desember ini, pembelajaran jarak jauh atau sekolah online lebih melelahkan ketimbang belajar langsung (tatap muka).
Karena guru dituntut harus siap 24 jam. Pasalnya, ada anak-anak yang kedapatan tugas dan mengumpulkannya pada pagi hari, siang, dan malam hari.
Baca Juga: Jelang Pilkada Sleman, 678 Penyelenggara Pemilu akan Jalani Rapid Test
"Dan biasanya japri (percakapan jalur pribadi) satu-satu. Karena kalaupun pakai video, tidak semua paham, jadi harus menjelaskan," kata dia.
Kendala lainnya, ada siswa yang tidak online saat ia sedang mengajar. Penyebabnya, ada yang tiba-tiba telepon genggamnya habis kuota internet, ada juga bergantian gawai dengan saudaranya di rumah, ada pula yang terkendala sinyal buruk.
"Kalau dipikir enak ya kerja dari rumah. Padahal kalau sudah di depan laptop, sedang KBM begitu, tidak bisa disambi. Sambil racik-racik [persiapan memasak] gitu enggak bisa," ucapnya.
Yeti menambahkan, saat aktivitas sekolah online ia tetap harus menjawab pertanyaan siswa dan aktivitas mengajar lainnya.
"Kecuali setelah mengajar, sambil momong gitu bisa. Masalahnya ketika mengajar online itu, imbasnya bukan hanya sewaktu online, tapi butuh waktu koreksi. Tidak mungkin memberi tugas tapi tidak dikoreksi, tidak dinilai," ungkap Yeti.
Jam kerja Yeti juga seakan bertambah dengan harus menanggapi beragam tagihan umpan balik dari wali murid.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Sembilan SPPG di DIY Terancam Ditutup Permanen, Satu SPPG Langganan Keracunan Ditutup
-
Tak Punya Anggaran, Sektor Kebudayaan Jogja Ikut Tergerus, TBY Pangkas Event dan Kurator
-
Jogja Fashion Week 2026: Panggung Kreativitas dan Regenerasi Desainer Muda
-
Bentangkan Merah Putih 1.000 Meter, Serukan Rakyat Masih Bersatu di Tengah Persoalan Bangsa
-
Hari UMKM Nasional, BRI Peduli Perkuat UMKM Desa Brilian melalui Pendampingan Berkelanjutan