Selama sepuluh menit pertama film diputar, Aris mengaku masih menangkap kesan alamiah dalam cerita yang disajikan. Namun, pada 10 hingga 15 menit terakhir film diputar, ia merasa cara penyampaian ghibah Bu Tejo terlalu dilebihkan dengan ekspresi pendukung dan sebagainya.
Dimana hal itu, dikatakan Aris bisa menurunkan kualitas film tersebut. Sebab, tanpa disadari dalam pembuatan film itu ada kegiatan yang menyebabkan timbulnya penyampaian nilai negatif yang bersinggungan dengan stereotyping.
Aris menilai kedepannya, penting untuk sutradara dan penulis naskah untuk memperhatikan penyampaian pesan-pesan dalam membuat film agar tidak menimbulkan stereotyping yang bisa menjadi bahan komentar kelompok tertentu.
"Nah ini yang perlu dihindari kedepan soal teknik film. Itu artinya kita perlu mempelajari dari semua komentar yang melibatkan jutaan orang ketika mereka memberikan komentar untuk film tersebut. Disitu saya lihat untuk kedepan sebuah film pendek seperti ini tanpa harus essentializing perempuan," imbuh Aris.
Baca Juga: Kadispar Gunungkidul Ungkap Tantangan Kelola Wisata di Era New Normal
Berikutnya, Aris menyampaikan dalam adegan Bu Tejo mengambil informasi dari internet, sebagai sebuah kritik sosial. Dimana ada poin penting yang disampaikan kepada khalayak untuk berfikir dua tiga kali ketika melihat ke dalam internet.
Kemudian, hal menarik lainnya film ini menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Bu Tejo adalah hal yang benar. Karena kemudian, Dian berrelasi dengan mantan suami Bu Lurah. Dimana calon suaminya berhadapan dengan anaknya dan Bu Lurah adalah sosok yang diserang.
Pada relief Candi Borbobudur yang menggambarkan kegiatan ghibah, orang-orang yang melakukan hal tersebut secara agama berada dalam strata moral terendah. Dalam agama apapun juga, ghibah diletakkan dalam level terendah.
Umur ghibah sendiri menurut Aris sudah ada sejak ribuan tahun lamanya. bahkan mungkin sebelum adanya agama di muka bumi ini sudah ada kegiatan ghibah. Hal tersbeut membuatnya bertanya, kenapa ghibah masih terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Mengutip pernyataan seorang tokoh, Aris mengartikan, bahwa ghibah atau rasan-rasan adalah sebuah keresahan oleh orang-orang tertindas. Namun, pendapat menarik lainnya juga menyebutkan, bahwa ghibah adalah senjata untuk melawan kaum yang lemah.
Baca Juga: Era Adaptasi Kebiasaan Baru, Wisawatan Sleman Perlu Daftar Online
"Ghibah selalu muncul dalam konteks persaingan, dan itu artinya ada persaingan tapi tidak ada jalan keluarnya secara langsung," tukasnya.
Berita Terkait
-
Mengenal 'Yu', Sapaan Umum Wujud Kerukunan dalam Masyarakat!
-
Mengenal 3 Jenis Ghibah: Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
-
Atta Halilintar Bahas Masa Lalu Vanessa Angel Tuai Kritik, Apa Hukum Membicarakan Orang yang Sudah Meninggal?
-
Mengungkap Kekayaan Budaya Indonesia dari Buku Catatan Lapangan Antropolog
-
Ulasan Buku Tempat Terbaik di Dunia, Cerita Antropolog Belanda dari Kawasan Kumuh Jakarta
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Sebut Masjid Al Jabbar Dibangun dari Dana Pinjaman, Kini Jadi Perdebatan Publik
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Yamaha NMAX Kalah Ganteng, Mesin Lebih Beringas: Intip Pesona Skuter Premium dari Aprilia
- JakOne Mobile Bank DKI Bermasalah, PSI: Gangguan Ini Menimbulkan Tanda Tanya
Pilihan
-
Hasil Liga Thailand: Bangkok United Menang Berkat Aksi Pratama Arhan
-
Prediksi Madura United vs Persija Jakarta: Jaminan Duel Panas Usai Lebaran!
-
Persib Bandung Menuju Back to Back Juara BRI Liga 1, Ini Jadwal Lengkap di Bulan April
-
Bocoran dari FC Dallas, Maarten Paes Bisa Tampil Lawan China
-
Almere City Surati Pemain untuk Perpanjang Kontrak, Thom Haye Tak Masuk!
Terkini
-
Viral, Mobil Digembosi di Jogja Dishub Bertindak Tegas, Ini Alasannya
-
Tanggapi Langkah Tarif Trump, Wali Kota Jogja: Kuatkan Produk Lokal!
-
Masa WFA ASN Diperpanjang, Pemkot Jogja Pastikan Tak Ganggu Pelayanan Masyarakat
-
Kurangi Kendaraan Pribadi Saat Arus Balik, Menhub Lepas 22 Bus Pemudik di Giwangan
-
Puncak Arus Balik H+3 dan H+4, 350 Ribu Kendaraan Tinggalkan DIY