SuaraJogja.id - Misteri yang menyelimuti kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan (39), semakin pekat.
Pihak keluarga, yang meragukan kesimpulan awal penyelidikan, kini secara tegas menuntut keadilan dengan mendesak dilakukannya rekonstruksi ulang dan otopsi lengkap terhadap jenazah.
Melalui kuasa hukumnya, Nicolay Aprilindo, keluarga menyatakan ada sederet kejanggalan yang membuat mereka tak bisa menerima begitu saja narasi kematian Arya Daru.
Mereka meyakini, kebenaran sesungguhnya masih tersembunyi di balik tabir yang belum sepenuhnya disingkap oleh aparat.
"Kami dari pihak penasehat hukum keluarga akan meminta kepada pihak kepolisian untuk melakukan rekonstruksi ulang kemudian otopsi lengkap dari almarhum untuk mengetahui penyebab kematian," tegas Nicolay kepada awak media, Sabtu (23/8/2025).
Desakan ini bukan tanpa alasan. Keluarga menyoroti temuan zat kimia dalam tubuh Arya yang dinilai sangat ganjil.
Hasil pemeriksaan toksikologi sebelumnya memang mendeteksi adanya kandungan Paracetamol di otak serta CTM (chlorpheniramine) pada ginjal, lambung, darah, dan urin korban.
Namun, temuan ini justru memicu kecurigaan mendalam.
Menurut keterangan keluarga, Arya tidak pernah memiliki riwayat alergi dan tidak pernah mengonsumsi obat jenis CTM. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar yang belum terjawab.
Baca Juga: Kakak Ipar Arya Daru Ungkap Kondisi Istri: Minta Masyarakat Kawal Kasus dengan Empati
"Dalam tubuh almarhum ditemukan CTM dengan ada satu obat lagi paracetamol. Almarhum tidak memiliki alergi apa-apa, tidak pernah mengkonsumsi CTM. Menurut keterangan istrinya," ujar Nicolay.
"Dari mana CTM itu masuk dan berapa kadarnya? Sampai sekarang belum pernah diungkapkan."
Keluarga bersikeras otopsi yang lebih menyeluruh mutlak diperlukan. Mereka ingin organ-organ vital seperti ginjal, hati, paru-paru, dan jantung diperiksa mendalam untuk memastikan kandungan obat secara presisi dan mengungkap penyebab pasti kematian sang diplomat.
"Kalau otopsi lengkap itu harus diambil ginjalnya, hatinya, parunya, jantungnya, sehingga mengetahui kandungan obat apa yang ada dalam CTM itu dan apa yang berada di dalam tubuh korban," ungkap Nicolay.
Luka Lebam dan Bibir 'Nyonyor' Perkuat Dugaan
Kejanggalan tak berhenti pada temuan obat. Kondisi fisik jenazah saat ditemukan juga menjadi sorotan tajam keluarga. Adanya luka-luka lebam di sekujur tubuh dianggap tidak konsisten dengan skenario bunuh diri.
"Kemudian satu hal lagi yang perlu kami sampaikan adalah dikatakan bahwa terjadi luka-luka lebam, masa almarhum bunuh diri dengan melukai tubuhnya dahulu menghajar tubuhnya dahulu sampai lebam," tandas Nicolay, menyuarakan keraguan keluarga.
Pihak keluarga bahkan memiliki bukti foto yang semakin memperkuat dugaan adanya tindak kekerasan. Kondisi bibir jenazah yang bengkak atau 'nyonyor' menjadi salah satu bukti kunci yang mereka sodorkan.
"Dan ada beberapa bukti foto yang kami dapatkan dari keluarga almarhum. Kelihatan bibir mayat itu nyonyor. Nah ini kan perlu didalami sehingga tahu persis penyebab kematian itu," sambungnya.
Sebelumnya, Arya Daru Pangayunan ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dengan kondisi wajah tertutup plastik dan terlilit lakban.
Pihak kepolisian, setelah melakukan serangkaian penyelidikan, menyimpulkan tidak ditemukan adanya unsur pidana dan menduga Arya meninggal karena bunuh diri.
Namun, kesimpulan ini ditolak mentah-mentah oleh pihak keluarga yang kini berjuang mencari keadilan dan mengungkap kebenaran di balik kematian tragis sang diplomat.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Tensi Tinggi! Jose Mourinho Boikot Konferensi Pers Jelang Real Madrid vs Benfica
-
Gunung Dempo Masih Waspada, Warga Pagaralam Diminta Jangan Abaikan Imbauan Ini
-
Alfamart-Indomaret Tak Boleh Ekspansi, Kopdes Merah Putih Prabowo Takut Tersaingi?
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
Terkini
-
Waktu Buka Puasa di Jogja Hari Ini 24 Feb 2026: Cek Jadwal Magrib dan Doa Lengkap!
-
Saling Jaga di Tengah Keterbatasan: Rutinitas Kakak Beradik Mencari Rezeki Demi Keluarga Sejak Dini
-
7 Fakta Pencurian Tabung Gas LPG 3 Kg di Jogja: Maling Babak Belur Dihantam Stik Golf
-
Sinergi Lumbung Mataraman dan Badan Gizi Nasional: Petani Punk Gunungkidul Siap Pasok Dapur MBG
-
Dishub Kota Yogyakarta Ingatkan Pasar Ramadan Tetap Prioritaskan Fungsi Jalan