Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo | Mutiara Rizka Maulina
Senin, 31 Agustus 2020 | 13:47 WIB
Komisioner Komnas Perempuan dan Guru Besar Kajian Gender UIN Sunan Kalijaga, Alimatul Qibtiyah. [Mutiara Rizka M / SuaraJogja.id]

Ketika lulus dari PGA Madiun, perempuan yang baru saja menjabat sebagai Komisioner Komnas Perempuan ini diumumkan memiliki nilai terbaik kedua dari satu sekolahnya. Ketika paman yang membesarkannya hadir, ia mengungkapkan bahwa sayang jika kemenakannya itu tidak bisa melanjutkan pendidikan hingga kuliah.

Namun, keadaan dan himpitan ekonomi menjadi kendala terbesar terwujudnya harapan tersebut. Beberapa hari setelah kelulusan, Alim didatangi oleh Bibinya dari Solo yang menawarinya menjadi baby sitter di Amerika. Mendengar kabar tersebut, Alim sempat kegirangan seolah bisa menghibur kekecewaan karena tidak bisa melanjutkan kuliah.

Bersama dengan bibinya, ia lantas pergi ke Solo untuk mengurus surat-surat yang dibutuhkan termasuk Visa. Alim juga sudah berpamitan ke teman-temannya melalui secarik surat bahwa ia akan merantau ke Amerika. Bibinya bahkan membelikan Alim selimut dan mukena baru sebagai bekal.

Namun, setelah terbang ke Solo untuk megurus Visa, ternyata ia tidak diijinkan pergi ke negeri Patung Liberty tersebut. Sebab, untuk mengirimkan seorang baby sitter ke Amerika dianggap seperti melakukan perdagangan manusia yang harus bekerja selama 24 jam penuh. Meski gagal, namun Alim mendapatkan ganti rugi Rp 50.000.

Baca Juga: Protes UIN Sunan Kalijaga Trending, Akun Twitter Jookoowi Turut Prihatin

Alim mengenang masa lalunya itu, sambil melanjutkan bahwa ia kemudian memutuskan untuk kembali ke Madiun mengambil ijazah di sekolahnya. Ternyata, pamannya juga pergi ke Madiun untuk mengambil ijazah Alim. Teman-teman sekolahnya sudah menangis membaca surat perpisahan dari gadis yang gemar beorganisasi itu.

Selain ijazah, ia juga membawa sepeda kayuhnya yang tertinggal di Madiun. Menunggangi sepedanya tersebut, Alim menempuh perjalanan dari Madiun ke Ngawi. Di rumah pamannya ia menjelaskan bagaimana ia gagal pergi ke Amerika.

Nekat ke Jogja

Setelah itu, Alim masih kembali ke Solo untuk menyelesaikan beberapa urusan administrasi. Sambil membawa ijazah dan sisa uang ganti rugi, Alim teringat saat pelepasan siswa kelas 3 di sekolahnya ada kakak kelas yang menjelaskan mengenai berkuliah di Jogja.

Meski belum mengenal betul tentang seluk beluk kota yang berjuluk Kota Pendidikan itu, Alim nekat naik bus dan duduk di belakang supir dengan harapan bisa melihat plang selamat datang Jogja untuk mengetahui apakah ia sudah sampai di tujuan atau belum.

Baca Juga: Isu Kenaikan UKT Merebak, UIN Sunan Kalijaga Pertimbangkan Hal Ini

Di perjalanan, ia heran melihat orang-orang turun saat kenek bus menyebut kata Janti. Akhirnya ia ikut turun, sambil celingak celinguk melihat kondisi sekitar.

Load More