Scroll untuk membaca artikel
Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Rabu, 02 September 2020 | 17:06 WIB
Bincang-bincang terkait hasil temuan mutasi D614G virus SARS-CoV-2 di Yogyakarta dan Jawa Tengah,yang berdaya infeksi lebih tinggi, bersama pakar dan dekanat FKKMK UGM di ruang Fortakgama, Rabu (2/9/2020). - (SuaraJogja.id/Putu)

Jumlah ini memang jauh lebih kecil dari penelitian di Inggris, yang meneliti lebih dari 93 ribu virus. Sedangkan, dari total 24 virus yang diteliti di Indonesia, sembilan virus di antaranya sudah ada mutasi.

"Dan sepertiga dari sembilan itu ada di Jogja dan Jateng," jelasnya.

Sementara Dekan FKMK UGM Ova Emilia mengungkapkan, penelitian dari UGM tersebut masih awal, tetapi diharapkan dapat dilanjutkan untuk pengembangan vaksin ke depan.

"Ditemukannya mutasi dan angka persentase virus yang bermutasi diharapkan dapat berdampak pada strategi kesehatan masyarakat maupun di rumah sakit," ungkapnya.

Baca Juga: Menristek: Belum Ada Bukti Mutasi Virus Corona Terbaru Lebih Berbahaya

Namun meski pengembangan vaksin terus dilakukan, hal itu bisa saja tidak terlalu efektif karena virus terus bermutasi. Karenanya, imbauan pemerintah untuk menaati protokol kesehatan dinilai lebih efektif untuk menghindari penularan COVID-19.

"Vaksin bila efektif hanya dalam dua bulan, itu tidak ada gunanya, sehingga kita belum tahu, vaksin itu efektif dua tahun maka baru berdaya guna. Karena itu, semua harus mawas diri mengubah cara kita sehari-hari menaati protokol kesehatan," ungkapnya.

Titik Nuryastuti, anggota tim laboratorium diagnostik FKKMK UGM, menambahkan, ditemukannya mutasi D614G di DIY dan Jateng karena memang penelitian yang dilakukan UGM lebih di dua provinsi tersebut. Tim memeriksa 11.250 sampel virus di DIY dan 4.311 virus di Jateng.

Tracing yang gencar di DIY dan Jateng bagi masyarakat disinyalir membuat banyak kasus positif COVID-19 ditemukan. Karenanya, mutasi virus perlu terus diwaspadai karena virus sudah bisa beradaptasi dengan inang.

"Dari jumlah tersebut, yang positif bermutasi 1.088 atau 0,73 persen," ungkapnya.

Baca Juga: Menristek: Mutasi Covid-19 D614G Sudah Dominasi 78 Persen Kasus di Dunia

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More