SuaraJogja.id - Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama dinyatakan meninggal dunia Rabu (9/9/2020) Pukul 13:05 di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading. Semasa hidupnya, Jakob pernah tinggal di Yogyakarta untuk menempuh pendidikannya di Universitas Gadjah Mada.
Selesai mengikuit kursus B-1 Ilmu Sejarah, Jakob melanjutkan pendidikan tingginya di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Jurusan Ilmu Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM pada tahun 1961.
Tidak hanya menyandang status sebagai mahasiswa di salah satu kampus terbaik di Indonesia tersebut. Jakob juga pernah mendapatkan kesempatan untuk menyandang gelar Honoris Causa di bidang Komunikasi dari UGM pada tahun 2003.
Dalam pidato promosinya untuk mendapatkan gelar tersebut, Jakob mengemukakan bahwa pencarian makna berita serta peyajiannya merupakan pekerjaan rumah dan tantangan media massa saat itu dan di masa depan.
Jakob adalah penerima gelar Honoris Causa ke 18 dari UGM. Promotor Prof Dr Moeljarto Tjokrowinoto dalam penilaiannya menyatakan bahwa jasa dan karya Jakob dalam bidang jurnalisme pada hakikatnya merefleksikan jasa dan karyanya yang luar biasa dalam bidang kemasyarakat dan kebudayaan.
Di mata karyawannya, pria kelahiran Magelang, 27 September 1931 ini adalah sosok yang bisa memanusiakan karyawan lainnya. Jakob dinilai tidak pernah menonjolkan status dan kedudukannya. Ia berpegang teguh pada nilai Humanisme Transedental.
Idealisme dan falsafah hidupnya sendiri telah diterapkan dalam setiap bisnis Kompas gramedia yang mengarah pada satu tujuan utama, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Kepekaan Jakob pada masalah manusia dan kemanusiaanlah yang kemudian menjadi spiritualitas harian Kompas.
Sebelum terjun menjadi seorang wartawan, Jakob terlebih dahulu bekerja sebagai seorang guru. Ia pernah mengajar di SMP Mardi Yuwana Cipanas, Sekolah Guru Bagian B (SGB) Lenteng Agung Jagakarsa dan SMP Van Lith Jakarta.
Profesinya sebagai seorang guru merupakan impiannya sejak kecil. Sebagai anak pertama dari 13 bersaudara, Jakob memiliki cita-cita untuk menjadi guru seperti yang diperankan ayahnya.
Baca Juga: Bantul Siapkan Skenario Pembukaan Sekolah, Setiap Pekan Layani Konsultasi
Ayah Jakob, Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo merupakan seorang pensiunan guru Sekolah Rakyat di Sleman. Selanjutnya, Jakob memulai karirnya sebagai seorang jurnalis di Majalah Penaburan Jakarta.
Pada tahun 1963, bersama dengan rekannya, Almarhum Petrus Kanisius Ojong, Jakob mendirikan sebuah majalah bernama Intisari. Dimana majalah tersebut menajdi cikal bakal Kompas Gramedia. Hingga saat ini Kompas Gramedia berkembang menjadi bisnis multi-industri.
Meski sukses sebagai seorang pengusaha dengan beragam industri yang berhasil dibangun Kompas Gramedia, namun Jakob tidak pernah melupakan identitasnya sebagai seorang wartawan. Baginya wartawan adalah profesi, sedangkan pengusaha adalah keberuntungan.
Sebelum meninggal dunia, Jakob sempat dirawat secara intensif di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading. Dokter yang menanganinya menyampaikan karena penyakit bawaan yang sudah diderita dan usia yang tak lagi muda mengantarkan pria berkacamata itu pada persitirahatan terakhirnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kawal Kasus Little Aresha, Orang Tua Korban Dorong Penambahan Pasal Berlapis dan Hak Restitusi
-
Siklus Megathrust Pulau Jawa Tinggal 30 Tahun, Pakar Kegempaan Ingatkan Kesiapsiagaan DIY
-
Niat Keluar Cari Sasaran, Komplotan Remaja Bacok Pemuda di Jalan Godean Sleman
-
Efisiensi Anggaran Bikin Pekerja Seni di Jogja Kelimpungan, Berburu Hibah demi Bertahan Hidup
-
Tim Hukum Peduli Anak Pemkot Jogja Bidik Pidana Korporasi hingga Pembubaran Yayasan Little Aresha