Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo
Jum'at, 11 September 2020 | 15:27 WIB
Andri, salah satu penyintas gangguan jiwa yang kini tergabung di Yayasan Imaji saat ditemui SuaraJogja.id, Jumat (11/9/2020). [Kontributor / Julianto]

"Untungnya anak saya itu paham kalau ditanya alamat rumah. Kalau tidak, ndak tahu nasibnya seperti apa sekarang anakku," tambahnya.

Gangguan kejiwaan yang dialaminya itu belakangan disadari sang suami. Karena beberapa hal ganjil itu sang suami kemudian mengajaknya konsultasi ke psikiater hingga akhirnya divonis mengalami Schizophrenia yaitu penyandang sakit kejiwaan level terparah.

Mendengar kabar tersebut, Andri yang tak percaya merasa diri seperti tengah disambar petir di siang bolong. Dara yang pernah berkuliah di jurusan psikologi itu pun merasa heran dengan kenyataan yang ada.

"Sejak saat itu, aku harus rutin meminum obat dari dokter. Tidak boleh bolong-bolong," ungkapnya.

Baca Juga: Kontak dengan Warga Positif Corona, Empat Pamong di Gunungkidul Dikarantina

Andri mengaku, gangguan jiwa yang dialaminya tak lepas dari pengalaman buruk yang dialaminya saat belia dulu. Ia mengaku pernah mendapat kekerasan seksual hingga menjadi obyek bullying dari teman-temannya. Bahkan pandangan buruk itu pun tak usai hingga ia beranjak dewasa.

Kini, ia sudah bisa melalui masa sulitnya tersebut. Selain minum obat secara rutin, ia juga aktif berkegiatan terutama mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membuka usaha ecoprint hingga menulis buku. Ia juga rutin melakukan olahraga dengan ikut aerobik, karena dengan olahraga bisa menstabilkan hormon kejiwaannya.

Kontributor : Julianto

Load More