SuaraJogja.id - Pandemi COVID-19 mengubah banyak aktivitas keseharian masyarakat dan memunculkan kebiasaan baru, di antaranya work from home (WFH) dan school from home (SFH) atau sekolah online.
Nyatanya, kebiasaan baru berinteraksi secara daring sembari menjalankan aktivitas domestik rumah tangga, sekaligus mendampingi anak SFH, tak jarang membuat masyarakat tertekan secara mental.
Misalnya seperti yang dituturkan oleh Rahajeng, warga Pedukuhan Karangsari, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman. Menurut dia, bagi orang tua, terutama yang keduanya pekerja, melaksanakan SFH menjadi tantangan sendiri.
Sebab, kata dia, saat SFH guru hanya sebagai pemberi materi, bukan pendidik, sehingga anak jelas tidak mendapatkan pendidikan karakter.
"Selama ortu bekerja, anak kurang terarah, utamanya kedisplinan menjadi longgar. Anak juga rentan stres karena kegiatan di rumah monoton karena kami tidak selalu bisa mendampingi," ungkapnya, Sabtu (10/10/2020).
Sedangkan tantangan utama bagi ia dan suami, tak lagi sekadar dipusingkan dengan beban pekerjaan, tetapi juga harus dibebani dengan mendampingi anak belajar, yang makin tinggi tingkatan makin sulit.
"Walau mungkin saat pandemi, ada yang harus bekerja lebih berat akibat pengurangan karyawan," ujarnya.
Belum lagi soal kuota, dipastikan alokasi anggaran rumah tangga meningkat. Bukan hanya alokasi SPP siswa, tetapi anggaran membeli kuota juga membengkak, tambah Rahajeng.
Ia berharap, ke depan ada upaya untuk segera menggelar sekolah luring dengan pembatasan dan protokol kesehatan ketat.
Baca Juga: Buat Raperda Corona, Anies Tak Cantumkan Aturan Sekolah Online
Sementara itu orang tua lainnya, Heri Sidik, mengungkapkan, cukup repot baginya dalam mengurus anak-anak belajar di rumah. Bahkan ia mengakui, sebagai orang tua, ia terkadang merasa tertekan dengan kebiasaan baru ini.
"Sempat berpikir kapan ini berakhir, anak-anak bisa sekolah lagi, soalnya anak saya dua. Kadang kerepotan ketika harus lihat panduan dari telepon genggam yang dikirim dari guru masing-masing," ucapnya.
Kendati mengalami hari-hari yang berat, baik Heri dan istri mampu mengatasi persoalan tersebut walaupun efek lainnya adalah, ada pekerjaan lain yang akhirnya tertunda.
Selain itu, kondisi yang ia alami tak sampai membuatnya berkonsultasi dengan psikolog.
"Tapi kalau sesama teman sih pernah, hanya curhat biasa. Berbagi cerita," urainya.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, kondisi mental yang tertekan saat mendampingi anak SFH merupakan gejala umum yang dialami para orang tua di masa pandemi COVID-19.
Berita Terkait
-
Buat Raperda Corona, Anies Tak Cantumkan Aturan Sekolah Online
-
Subsidi Kuota Internet, Optimalkan Pembelajaran Jarak Jauh
-
1,8 Juta Paket Internet Gratis Dibagikan Buat Pelajar dan Guru Madrasah
-
Siswa Dapat Wifi Gratis, Orang Tua: Alhamduillah, Nggak Boros Kuota Lagi
-
Nebeng Ponsel Teman Selama PJJ, Agung Iuran Rp10 Ribu Seminggu Sekali
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kawal Kasus Little Aresha, Orang Tua Korban Dorong Penambahan Pasal Berlapis dan Hak Restitusi
-
Siklus Megathrust Pulau Jawa Tinggal 30 Tahun, Pakar Kegempaan Ingatkan Kesiapsiagaan DIY
-
Niat Keluar Cari Sasaran, Komplotan Remaja Bacok Pemuda di Jalan Godean Sleman
-
Efisiensi Anggaran Bikin Pekerja Seni di Jogja Kelimpungan, Berburu Hibah demi Bertahan Hidup
-
Tim Hukum Peduli Anak Pemkot Jogja Bidik Pidana Korporasi hingga Pembubaran Yayasan Little Aresha