Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Sabtu, 10 Oktober 2020 | 18:38 WIB
Ilustrasi KBM online - (Unsplash/@anniespratt)

SuaraJogja.id - Pandemi COVID-19 mengubah banyak aktivitas keseharian masyarakat dan memunculkan kebiasaan baru, di antaranya work from home (WFH) dan school from home (SFH) atau sekolah online.

Nyatanya, kebiasaan baru berinteraksi secara daring sembari menjalankan aktivitas domestik rumah tangga, sekaligus mendampingi anak SFH, tak jarang membuat masyarakat tertekan secara mental.

Misalnya seperti yang dituturkan oleh Rahajeng, warga Pedukuhan Karangsari, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman. Menurut dia, bagi orang tua, terutama yang keduanya pekerja, melaksanakan SFH menjadi tantangan sendiri.

Sebab, kata dia, saat SFH guru hanya sebagai pemberi materi, bukan pendidik, sehingga anak jelas tidak mendapatkan pendidikan karakter.

"Selama ortu bekerja, anak kurang terarah, utamanya kedisplinan menjadi longgar. Anak juga rentan stres karena kegiatan di rumah monoton karena kami tidak selalu bisa mendampingi," ungkapnya, Sabtu (10/10/2020).

Sedangkan tantangan utama bagi ia dan suami, tak lagi sekadar dipusingkan dengan beban pekerjaan, tetapi juga harus dibebani dengan mendampingi anak belajar, yang makin tinggi tingkatan makin sulit.

"Walau mungkin saat pandemi, ada yang harus bekerja lebih berat akibat pengurangan karyawan," ujarnya.

Belum lagi soal kuota, dipastikan alokasi anggaran rumah tangga meningkat. Bukan hanya alokasi SPP siswa, tetapi anggaran membeli kuota juga membengkak, tambah Rahajeng.

Ia berharap, ke depan ada upaya untuk segera menggelar sekolah luring dengan pembatasan dan protokol kesehatan ketat.

Baca Juga: Buat Raperda Corona, Anies Tak Cantumkan Aturan Sekolah Online

Sementara itu orang tua lainnya, Heri Sidik, mengungkapkan, cukup repot baginya dalam mengurus anak-anak belajar di rumah. Bahkan ia mengakui, sebagai orang tua, ia terkadang merasa tertekan dengan kebiasaan baru ini.

"Sempat berpikir kapan ini berakhir, anak-anak bisa sekolah lagi, soalnya anak saya dua. Kadang kerepotan ketika harus lihat panduan dari telepon genggam yang dikirim dari guru masing-masing," ucapnya.

Kendati mengalami hari-hari yang berat, baik Heri dan istri mampu mengatasi persoalan tersebut walaupun efek lainnya adalah, ada pekerjaan lain yang akhirnya tertunda.

Selain itu, kondisi yang ia alami tak sampai membuatnya berkonsultasi dengan psikolog.

"Tapi kalau sesama teman sih pernah, hanya curhat biasa. Berbagi cerita," urainya.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, kondisi mental yang tertekan saat mendampingi anak SFH merupakan gejala umum yang dialami para orang tua di masa pandemi COVID-19.

Load More