SuaraJogja.id - Apa yang terlintas dalam pikiran masyarakat awam ketika melihat seekor ular masuk ke rumahnya? Kemungkinan besar mereka akan mengira ular tersebut berbahaya dan jika tidak segera diambil tindakan dapat berakibat fatal bagi setiap orang yang ada di rumah tersebut.
Tindakan dari setiap orang tidak akan selalu sama dalam menghadapi ular yang masuk ke rumah mereka. Namun tidak jarang ditemui beberapa orang yang dengan secara sadar membunuh hewan melata tersebut karena dianggap terlalu berbahaya jika dibiarkan hidup.
Di sinilah Sioux kemudian berperan. Komunitas pecinta ular yang kini telah menjadi yayasan ini hadir di tengah masyarakat bukan untuk semata-mata menyelamatkan ular yang masuk ke rumah warga tapi memberikan edukasi terkait dengan ular itu sendiri.
Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia, Aji Rachmat Purwanto, sedikit berbagi cerita kepada SuaraJogja.id tentang awal mula ia dan tiga orang rekannya memutuskan untuk menekuni bidang edukasi ular di Indonesia ini hingga misi besar yang diemban oleh Sioux di tengah masyarakat.
Aji menjelaskan sebelum Sioux terbentuk, ia bersama delapan temannya salah satunya Heru Gundul yang merupakan pembawa acara kenamaan dari program 'Jejak Si Gundul' lebih dulu membuat sebuah komunitas yang juga tak jauh dengan ular yakni komunitas pramuka pecinta reptil di Yogyakarta bernama Natrix Scout di tahun 1998.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, komunitas tersebut akhirnya harus ditutup.
Tidak lama setelah itu, tepatnya pada 23 November 2003 di Jakarta hadirlah Sioux, yang kata Aji, merupakan kelanjutan dari Natrix. Pasalnya maksud berdirinya Sioux sendiri adalah sebagai penerus misi dari Natrix namun dengan skala yang lebih besar, jika sebelumnya hanya di Jogja kali ini Sioux merambah seluruh Indonesia.
"Sioux sendiri nama salah satu suku Indian di Amerika. Dalam bahasa Indian, Sioux artinya ular," kata Aji saat ditemui SuaraJogja.id di Shelter Yayasan Sioux Ular Indonesia, Kretek, Bantul, beberapa waktu lalu.
Rintis Komunitas bersama Heru Jejak si Gundul
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Minggu 18 Oktober 2020
Aji mengatakan ide awalnya memang lebih banyak kepada edukasi yang akan dilakukan kepada masyarakat. Fokusnya bukan ke lembaga konservasi, komunitas reptil atau malah pecinta ular apalagi bisnis jual beli.
"Kita lebih fokus mengubah paradigma negatif masyarakat tentang ular. Jadi kita adakan pelatihan-pelatihan tentang ular, lalu edukasi, penelitian sampai akhirnya berkembang sampai ke rescue. Tahun 2012 kita menjadi sebuah yayasan yang kebetulan saya menjadi ketua. Sedangkan teman-teman pendiri lainnya berbagi tugas ada yang menjadi dewan pengawas dan pembina sampai sekarang," ujarnya.
Aji sendiri mulai tertarik dengan ular sekitar periode tahun 1996-1997 setelah belajar bersama Mas Gundul 'Jejak Si Gundul'. Ia melihat bagaimana Mas Gundul dapat dengan mudah berinteraksi dengan ular cobra yang notabene sangat berbisa.
"Akhirnya setelah saya tanya-tanya ternyata ada hal menarik yang saya dapat bahwa tidak semua ular itu berbahaya. Lalu kita putuskan untuk buat komunitas untuk edukasi tentang ular, tadinya hanya menyasar kelompok-kelompok pramuka saja," ucapnya.
Pengalaman Aji yang sudah bertahun-tahun mendalami tentang ular dibuktikan dengan beberapa kesempatan yang ia dapatkan untuk berkeliling Indonesia dari Aceh hingga Papua guna memberikan edukasi masyarakat terkait dengan ular. Selain itu Aji juga pernah diminta untuk mengisi beberapa program televisi terkait dengan petualang dan ular.
Dari situ Aji dan teman-teman lainnya yakin bahwa misi utama Sioux adalah untuk edukasi bukan sekadar rescue atau penyelematan saja. Menurutnya, justru malah rescue ini bagian kecil dari tindakan nyata di lapangan namun misi besarnya adalah mengubah paradigma negatif masyarakat tentang ular itu sendiri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
IHSG Tembus Rekor Baru 9.110, Bos BEI Sanjung Menkeu Purbaya
-
7 Rekomendasi HP Baterai Jumbo Paling Murah di Bawah Rp3 Juta, Aman untuk Gaming
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
Terkini
-
Hakim Cecar Raudi Akmal soal Pengaruh Anak Bupati di Kasus Dugaan Korupsi Pariwisata Sleman
-
Raudi Akmal: Informasi Hibah Pariwisata Disampaikan Langsung oleh Sekda
-
Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
-
3 Saksi Dihadirkan dalam Sidang Lanjutan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman, Ada Raudi Akmal
-
Inden Sejak Bayi, SD Muhammadiyah Sapen Jadi Sekolah Paling Diincar di Yogyakarta