Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana
Sabtu, 16 Januari 2021 | 18:12 WIB
Heru Suparwaka, salah atu pengamat senior yang bertugas di Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Sabtu (16/1/2021). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Abu yang turun terbawa oleh angin masih terasa hangat, bercampur dengan kerikil dan material lain dari dalam perut Merapi. Suara erupsi yang terdengar begitu membisingkan dan menyakitkan telingat. Begitu juga kilatan di puncak Merapi yang terlihat di antara abu tebal yang terus turun.

Bahkan ketika peristiwa itu terjadi, petugas pos pengamatan di Kaliurang sempat mundur karena kondisi abu dan tremor dengan durasi panjang. Ditambah dengan amplitudo yang overscale.

Walaupun sempat kembali lagi ke PGM Kaliurang, namun kondisi  yang masih belum kondusif memaksa para petugas untuk mundur lagi. Bahkan hingga beberapa minggu mereka tidak bisa kembali ke PGM Kaliurang.

"Jelas kita tidak mengharapkan lagi kondisi seperti itu terjadi lagi. Saat itu padahal sirine sudah kita bunyikan tapi awan panas lebih cepat dari pada apa yang sudah disiapkan. Jadi apa boleh buat, tapi yang penting tanda bahaya itu sudah kita informasikan," ucapnya.

Baca Juga: Pantau Mitigasi Merapi, Pemkab Akan Tambah Fasilitas di Pengungsian Turi

Keluarga sudah paham

Membagi waktu antara tugasnya mengamati aktivitas Gunung Merapi selama 24 jam dan waktu untuk kehidupan pribadi menjadi tantangan tersendiri bagi Heru. Namun ia lebih memilih untuk menikmati waktu yang ada secara mengalir saja.

"Bagi waktu mengalir secara alami saja. Ya memang kadang jarang pulang karena tigas, tapi yang pentinh di rumah sehat semau. Tugas ini juga menyangkut nyawa orang lain juga, jadi ya memang berat. Keluarga sudah memahami itu," tuturnya.

Disebutkan Heru, dalam seminggu mungkin hanya sekitar dua hari saja ia bisa berada di rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Sisa waktunya dihabiskan untuk bertugas di PGM Kaliurang.

Heru yang sebenarnya adalah asli orang Kota Jogja ini, sudah berpindah untuk ikut menetap bersama sang istri di Ngawen, Klaten, Jawa Tengah. Walaupun hanya bertemu sebentar dengan keluarga tapi waktu pulang dan melihat semua keluarganya sehat itu, kata Heru merupakan momen yang membahagiakan.

Baca Juga: Volume Naik, Kubah Lava Gunung Merapi Sudah Capai 4.600 Meter Kubik

Heru Suparwaka, salah atu pengamat senior yang bertugas di Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang, Sabtu (16/1/2021). [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

"Kalau waktu pulang terus mau berangkat lagi biasanya istri menyiapkan bekal sederhana. Saya sudah puluhan tahun di sini jadi keluarga paham dan mendukung," ucapnya.

Load More