Abu yang turun terbawa oleh angin masih terasa hangat, bercampur dengan kerikil dan material lain dari dalam perut Merapi. Suara erupsi yang terdengar begitu membisingkan dan menyakitkan telingat. Begitu juga kilatan di puncak Merapi yang terlihat di antara abu tebal yang terus turun.
Bahkan ketika peristiwa itu terjadi, petugas pos pengamatan di Kaliurang sempat mundur karena kondisi abu dan tremor dengan durasi panjang. Ditambah dengan amplitudo yang overscale.
Walaupun sempat kembali lagi ke PGM Kaliurang, namun kondisi yang masih belum kondusif memaksa para petugas untuk mundur lagi. Bahkan hingga beberapa minggu mereka tidak bisa kembali ke PGM Kaliurang.
"Jelas kita tidak mengharapkan lagi kondisi seperti itu terjadi lagi. Saat itu padahal sirine sudah kita bunyikan tapi awan panas lebih cepat dari pada apa yang sudah disiapkan. Jadi apa boleh buat, tapi yang penting tanda bahaya itu sudah kita informasikan," ucapnya.
Baca Juga: Pantau Mitigasi Merapi, Pemkab Akan Tambah Fasilitas di Pengungsian Turi
Keluarga sudah paham
Membagi waktu antara tugasnya mengamati aktivitas Gunung Merapi selama 24 jam dan waktu untuk kehidupan pribadi menjadi tantangan tersendiri bagi Heru. Namun ia lebih memilih untuk menikmati waktu yang ada secara mengalir saja.
"Bagi waktu mengalir secara alami saja. Ya memang kadang jarang pulang karena tigas, tapi yang pentinh di rumah sehat semau. Tugas ini juga menyangkut nyawa orang lain juga, jadi ya memang berat. Keluarga sudah memahami itu," tuturnya.
Disebutkan Heru, dalam seminggu mungkin hanya sekitar dua hari saja ia bisa berada di rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Sisa waktunya dihabiskan untuk bertugas di PGM Kaliurang.
Heru yang sebenarnya adalah asli orang Kota Jogja ini, sudah berpindah untuk ikut menetap bersama sang istri di Ngawen, Klaten, Jawa Tengah. Walaupun hanya bertemu sebentar dengan keluarga tapi waktu pulang dan melihat semua keluarganya sehat itu, kata Heru merupakan momen yang membahagiakan.
Baca Juga: Volume Naik, Kubah Lava Gunung Merapi Sudah Capai 4.600 Meter Kubik
"Kalau waktu pulang terus mau berangkat lagi biasanya istri menyiapkan bekal sederhana. Saya sudah puluhan tahun di sini jadi keluarga paham dan mendukung," ucapnya.
Berita Terkait
-
Tradisi Sadranan di Boyolali: Jaga Kerukunan Jelang Ramadan
-
Pelaku Penusukan Sandy Permana Bukan Tetangga yang Ramah Menurut Warga
-
Sandy Permana Ditusuk, Warga Ungkap Kebiasaan Korban Sebelum Kejadian
-
Tanpa Kejanggalan, Keseharian Sandy Permana Sebelum Tewas Ditusuk Diungkap Orang Dekat
-
Sebelum Tewas Ditusuk, Sandy Permana Sempat Tegur Pelaku Gara-gara Kebiasaan Mabuk
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
-
7 Rekomendasi HP 5G Murah Terupdate April 2025, Mulai Rp 2 Jutaan
Terkini
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan
-
Libur Lebaran di Gembira Loka, Target 10 Ribu Pengunjung Sehari, Ini Tips Amannya
-
Arus Lalin di Simpang Stadion Kridosono Tak Macet, APILL Portable Belum Difungsikan Optimal
-
Kunjungan Wisatawan saat Libur Lebaran di Gunungkidul Menurun, Dispar Ungkap Sebabnya
-
H+2 Lebaran, Pergerakan Manusia ke Yogyakarta Masih Tinggi