Pengalaman Erupsi 2010
Pria kelahiran 19 Juni 1964 itu, menceritakan pengalamannya menaiki puncak Gunung Merapi beberapa hari sebelum erupsi dahsyat 2010 terjadi. Hal itu dilakukan guna mendapatkan data terkait perkembangan aktivitas Gunung Merapi saat itu.
Heru menuturkan saat itu [2010], aktivitas vulkanik Gunung Merapi didominasi oleh gempa dalam. Seolah ada sesuatu yang terus bergerak ke permukaan.
Disebutkan Heru, memang kala itu naik ke kawasan Merapi sudah menjadi rutinitas untuk mengukur dan menghimpun data secara periodik sebelum letusan terjadi. Namun pada suatu saat beberapa hari sebelum letusan terjadi Heru dan beberapa rekan yang mencatat data tersebut merasa ada kejanggalan.
Baca Juga: Pantau Mitigasi Merapi, Pemkab Akan Tambah Fasilitas di Pengungsian Turi
"Sebelum meletus 2010, kita ragu-ragu, kok sepertinya kemungkinan bakal ada sesuatu yang berbeda dengan letusan-letusan sebelumnya. Ternyata ya memang, dari evaluasi erupsi 2010 tidak seperti erupsi di periode sebelumnya," ungkapnya.
Heru menyebut setidaknya ada tujuh orang yang dulu sempat ikut naik ke puncak Merapi sebelum erupsi 2010. Baik untuk mengukur dan mencatat data atau memperbaiki peralatan yang ada.
Pada saat itu, lanjut Heru, kondisi puncak Merapi sudah membentuk kawah baru. Artinya jalur bukaan yang ada menunjukkan potensi bahaya bakal mengarah ke tenggara. Selain itu gempa sudah mulai terasa sering apalagi saat ia berada di puncak.
"Di puncak waktu itu ya rasanya sudah terkoyak gitu. Getaran gempanya sudah kuat. Ya manusiawi, adanya berdoa saja. Itu hanya beberapa hari kurang dari satu minggu sebelum letusan," ucapnya.
Dijelaskan Heru, selain melakukan pengamatan dan pemantauan secara langsung. Kegiatan beresiko dengan naik ke puncak Merapi saat itu juga untuk mengambel beberapa sampel gas gunanya supaya mengetahui kandungan yang ada di dalamnya.
Baca Juga: Volume Naik, Kubah Lava Gunung Merapi Sudah Capai 4.600 Meter Kubik
Proses pengambilan gas pun bukan perkara mudah. Perlu kecermatan ekstra dan waktu yang tidak sebentar. Sebab selain berada di bibir kawah gunung api yang aktif tentu juga tidak bisa diprediksi kapan erupsi itu akan muncul.
Berita Terkait
-
Tradisi Sadranan di Boyolali: Jaga Kerukunan Jelang Ramadan
-
Pelaku Penusukan Sandy Permana Bukan Tetangga yang Ramah Menurut Warga
-
Sandy Permana Ditusuk, Warga Ungkap Kebiasaan Korban Sebelum Kejadian
-
Tanpa Kejanggalan, Keseharian Sandy Permana Sebelum Tewas Ditusuk Diungkap Orang Dekat
-
Sebelum Tewas Ditusuk, Sandy Permana Sempat Tegur Pelaku Gara-gara Kebiasaan Mabuk
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo
-
Jalur Selatan Alami Lonjakan, Polres Kulon Progo Lakukan Buka Tutup Jalur Utama
-
Okupansi Hotel Anjlok 20 Persen di Momen Lebaran, Permintaan Relaksasi PHRI Tak Digubris Pemerintah
-
Gembira Loka Zoo Hadirkan Zona Cakar, Pengalaman Baru untuk Pengunjung Berjalan Bersama Satwa Buas
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan