SuaraJogja.id - Generasi muda yang santu, menjadi salah satu harapan besar bangsa Indonesia saat ini. Unggah-ungguh di Yogyakarta pun menjadi hal yang perlu dijaga kelestariannya di tengah perkembangan teknologi serta situasi saat ini.
Tak dipungkiri, masuknya budaya dari luar ke Indonesia sedikit menggeser bagaimana anak muda harus bersikap. Meski tata krama masih ada, hal itu mulai sedikit pudar terlihat di tengah masyarakat.
Salah satu komunitas sepeda tinggi atau perkumpulan Pit Dhuwur Yogyakarta melihat pentingnya generasi muda bersikap di tengah perkembangan teknologi yang ada.
Mengayuh sepeda tinggi bukan berarti untuk pamer, melainkan untuk mengetahui keadaan sekitar orang dengan sudut pandang yang lebih luas. Harapannya, pengendara lebih bijak dan arif melihat situasi dan tetap merendah ketika berkumpul di tengah masyarakat.
Kemunculan Pit Dhuwur Yogyakarta berawal dari 2006 silam. Setelah Gunung Merapi memuntahkan lava pijarnya dan seiring dengan kebangkitan trauma serta ekonomi warga, Pit Dhuwur ini muncul.
"Awalnya untuk melakukan sirkus di Jogja. Saat itu hanya digunakan untuk hiburan oleh teman kami yang biasa dipanggil Mas Kampret. Seiring berjalannya waktu, banyak pandangan negatif soal sirkus, terutama penyiksaan terhadap binatang. Meski bukan kami yang dimaksud, tetapi keberadaan sepeda tinggi di Yogyakarta menjadi vakum," ujar Koordinator Sepeda Tinggi Yogyakarta Arip Buwono, ditemui SuaraJogja.id, Minggu (24/1/2021).
Komunitas atau perkumpulan sepeda tinggi ini kali pertama hanya beranggotakan 10 orang. Masing-masing orang memiliki sepeda tinggi mulai dari tinggi 1-2 meter.
Kemunculan kampanye bersepeda di Yogyakarta, salah satunya Jogja Last Friday Ride (JLFR), pada 2010 kembali menghidupkan komunitas tersebut. Memang awal kemunculannya hanya sebatas hiburan. Lambat laun filosofi dari bersepeda tinggi ini muncul.
Bersepeda dengan tinggi mencapai 2 meter misalnya. Pengendara bisa mengukur jarak tinggi dan bagaimana harus menghormati orang lain saat menggunakan akses jalan. Berada di ketinggian bukan untuk menunjukkan posisi yang tinggi diatas bak penguasa.
Baca Juga: Mengenal Komunitas Pit Dhuwur atau Sepeda Tinggi Jogja
"Kita memang mengkampanyekan bersepeda sehat di Jogja. Selain itu kita harus ngajeni kiwo tengen [menghormati kanan-kiri] saat mengayuh sepeda ini," ujar Arip.
Bersepeda bersama-sama dilakukan juga untuk menguatkan sikap gotong royong. Hal itu menjadi maksud agar generasi muda terutama anggota sepeda tinggi, memahami makna saling menguatkan dan menghormati satu sama lain.
Keberadaan sepeda tinggi di Jogja makin tenar. Hingga kini, ada sekitar 200 anggota. Kebanyakan anggota berada di wilayah Bantul.
Ketertarikan anggota untuk bergabung, tidak lain karena mengendarai sepeda tinggi cukup menantang. Kelihaian mengendarai sepeda tinggi bisa dilakukan hanya dalam satu pekan.
Dalam komunitas yang ada di Jogja, batas ketinggian sepeda berkisar 1-2 meter, maksimal 3 meter. Di atas angka itu, pemilik sepeda disarankan untuk memendekkan.
Bukan tanpa alasan, berkendara dengan ketinggian di atas 3 meter tentu membahayakan pengendara, termasuk bisa mengganggu orang yang ada di sekitar saat berkendara. Keselamatan paling penting di dalam komunitas ini.
Berita Terkait
-
Mengenal Komunitas Pit Dhuwur atau Sepeda Tinggi Jogja
-
Viral Bule di Jogja Dagang Mi Ayam, Harga Semangkok Mulai 7 Ribuan
-
Rekomendasi 10 Hotel Ternyaman di Jogja, Ini Tarif dan Alamat Lengkapnya
-
Komentari Surat Pemecatan, Sri Sultan Sebut Gusti Prabu Makan Gaji Buta
-
Berjualan Wedang Ronde di Usia Senja, Nenek Ini Sukses Buat Salut
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Puncak AXIS Nation Cup 2026 Segera Tiba, Tim Futsal SMA Terbaik Siap Adu Kekuatan
-
JKT48, Bernadya, dan Inul Daratista Satu Panggung di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang