SuaraJogja.id - Pertanian mungkin jadi salah satu sektor yang tidak terlalu disorot dalam pembahasan soal dampak pandemi Covid-19. Namun bukan berarti produksi bahan pangan tetap bisa bertahan di masa sulit ini.
Salah satunya, para petani kopi saat ini mengalami kesulitan dalam memproduksi hasil pertaniannya. Harga kopi yang ditekan sedemikian rupa tak membuat mereka mendapatkan keuntungan yang memadai.
"Produksi [kopi] meningkat, tapi nilai turun karena di masa pandemi harga mengalami tekanan," ujar Ketua Dewan Kopi Indonesia Anton Apriyantono dalam peringatan Hari Kopi Nasional di Yogyakarta, Sabtu (13/3/2021) sore.
Mantan Menteri Pertanian di era pemerintahan SBY ini menyebutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kopi Indonesia pada 2020 lalu mencapai 773,4 ribu ton.
Angka ini meningkat 0,65 persen dibandingkan 2019 lalu yang mencapai 761 ribu ton.
Sementara, total konsumsi kopi dalam negeri mencapai 294 ribu ton pada 2020. Angka ini terus meningkat pada 2021 ini yang mencapai 370 ribu ton.
Namun, petani kopi sampai saat ini masih saja mengalami masalah klasik. Produktivitas petani rendah, hanya mencapai 0,7 ton per hektar per tahun. Padahal Vietnam mampu memproduksi 3-4 ton per hektare per tahun.
"Ekspor kopi pun sebenarnya mengalami kenaikan dari tahun lalu namun lebih banyak pada kopi olahan. Ini yang pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Petani tidak hanya kesulitan dalam produktivitas namun juga transportasi, air dan teknologinya," tandasnya.
Karena itu, Dewan Kopi Indonesia mencoba memberikan berbagai masukan pada pemerintah agar petani kopi tidak semakin dirugikan.
Baca Juga: FKKMK UGM Mundur dari Penelitian Vaksin Nusantara, Ini Penyebabnya
Pemerintah perlu memberikan pendamping bagi para petani agar mereka mampu melakukan cara bercocok tanam dan memanem kopi dengan baik.
Kelembagaan di tingkat petani pun perlu ditingkatkan melalui koperasi atau kelompok lain. Sistem perdagangan pun perlu dikembangkan agar mereka mampu memasarkan produknya secara optimal.
"Bisa saja melalui resi gudang," ujarnya
Sementara, Dekan Fakultas Pertanian UGM Jamhari mengungkapkan, rendahnya produktivitas petani salah satunya disebabkan pohon kopi mereka yang sudah tua, sehingga lahan mereka tidak bisa menghasilkan banyak panen.
Konsep peningkatan produktiitas dan kualitas pun perlu dipikirkan. Dengan demikian harga kopi tidak semakin tertekan dan petani mampu menjaga kualitas kopi selain kuantitas.
"Petani juga perlu dibantu untuk mengatasi berbagai persoalan melalui teknologi," imbuhnya.
Berita Terkait
-
FKKMK UGM Mundur dari Penelitian Vaksin Nusantara, Ini Penyebabnya
-
Komunikasi Tak Jelas, UGM Pilih Mundur dari Penelitian Vaksin Nusantara
-
Kepala Daerah Nurdin Abdullah Korupsi, Pukat UGM Soroti Biaya Politik Mahal
-
Wow, 3 Bidang Studi di UGM Ini Masuk Peringkat Pertama Terbaik se-Indonesia
-
Masyarakat Tak Usah Khawatir Berlebihan Varian Baru Corona B117
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Piala Paku Alam 2026 Bangkitkan Tradisi Pacuan Kuda dengan Balutan Karnaval dan Hiburan Keluarga
-
Fete de la Musique 2026 Digelar di Yogyakarta, 5 Musisi Lokal Meriahkan Kolaborasi Indonesia-Prancis
-
Gejayan Dikepung Massa, Tuntut Penurunan Harga BBM Hingga Tolak MBG dan UU TNI/Polri
-
Diguyur Hujan, Ratusan Mahasiswa dan Elemen Sipil Padati Gejayan Gelar Seruan Bersama
-
IHR: Piala Paku Alam 2026 Akan Digelar di Yogyakarta, Hadirkan Kemeriahan Pesta Karnaval