SuaraJogja.id - Lereng Gunung Merapi masih berkabut. Sementara mentari masih malu-malu menyinari rindangnya tumbuhan yang ada di sekitar petilasan rumah Mbah Maridjan.
Para abdi dalem Keraton sudah bersiap dengan pakaian lengkap. Ada juga para relawan, anggota TNI, Polri hingga beberapa masyarakat yang sudah berkumpul bersama sambil sesekali menyeruput teh atau kopi untuk menghangatkan badan.
Bukan tanpa alasan mereka berkumpul di petilasan rumah Mbah Maridjan tersebut. Tradisi labuhan Gunung Merapi menjadi alasan utama mereka berkumpul bersama pagi ini.
Tradisi labuhan Merapi ini sendiri bukan hal asing bagi masyarakat di lereng Merapi. Tradisi ini digelar oleh Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dalam rangka memperingati tingalan jumenengan dalem atau dipahami sebagai ulang tahun kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Namun ada yang membedakan dalam tradisi labuhan Merapi kali ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 menjadi pembeda yang utama dalam pelaksanaan tradisi kali ini.
Tahun ini hanya ada 30 orang yang merupakan abdi dalem Keraton dan para pendamping juru kunci saja yang akan mengaturkan ubarampe itu di Bangsal Sri Manganti atau lokasi labuhan tersebut.
"Iya betul. Jadi mengingat saat ini masih masa pandemi Covid-19 dan juga kondisi Gunung Merapi yang masih Siaga [Level III]. Jadi yang bisa naik dan diwajibkan naik hanya orang 30 orang [abdi dalem] saja. Selain itu tidak boleh naik," kata Juru Kunci Merapi Mas Wedana Suraksohargo Asihono atau akrab dipanggil Mas Asih, kepada awak media, sebelum prosesi labuhan dimulai, Senin (15/3/2021).
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.41 WIB, para abdi dalem mulai bergerak dari petilasan rumah Mbah Maridjan, juru kunci Merapi terdahulu tepatnya, di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan. Sebelumnya ubarampe yang dibawa abdi dalem itu sudah disemayamkan terlebih dulu di Pendopo Kinahrejo selama satu malam untuk didoakan.
Ubarampe itu sendiri berupa kain yakni yang disebut sinjang cangkring, sinjang kawung kemplang, semekan gadhung, semekan gadhung melati, semekan banguntulak, kampuh poleng ciut, dhestar daramuluk, paningset udaraga Masing-masing kain tersebut sejumlah satu lembar.
Baca Juga: Sepekan Ini Merapi Muntahkan 12 Kali Awan Panas dan 226 Kali Lava Pijar
Ubarampe tersebut sudah tersusun rapi dan dimasukkan ke dalam peti berwarna merah dengan ukuran sekitar 30 x 15 sentimeter. Nantinya sesuai rencana, sesampainya di Sri Manganti akan dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh Juru Kunci Merapi Mas Wedana.
Abdi dalem dan para pendamping terus melangkah menapaki jalan menanjak menuju ke Bangsal Sri Manganti. Memerlukan waktu yang tidak sebentar dalam melakukan perjalanan itu.
Tentunya perjalanan menuju tradisi itu tidak hanya memerlukan waktu, tapi juga tenaga yang kuat. Baik kuat secara fisik maupun mental.
Mas Asih, memastikan bahwa 30 orang abdi dalem dan para pendamping tersebut sehat baik jasmani maupun rohani. Pasalnya hal itu penting untuk tetap menjaga prosesi labuhan berjalan dengan lancar dengan segala kondisi yang ada.
"Mental juga harus kuat. Mungkin nanti di atas ada suara guguran lava dan lain sebagainya. Jadi jangan nanti sudah sampai sana malah bingung, takut dan lain sebagainya. Itu nanti takutnya malah nanti mengganggu labuhan," terangnya.
Mas Asih berharap semua orang yang terlibat dalam labuhan ini selalu diberikan keselamatan. Terlebih dengan kondisi yang masih dilanda pandemi Covid-19 dan status Gunung Merapi yang Siaga (Level III).
Berita Terkait
-
Disaksikan Wisatawan, Keraton Jogja Gelar Labuhan di Pantai Parangkusumo
-
Prosesi Labuhan di Pantai Parangkusumo
-
Banjir Lahar Hujan Merapi Penuhi BOD VII dan 4 Berita Terpopuler SuaraJogja
-
Sempat Masuk ke Kali Boyong, Lahar Hujan Merapi Mulai Penuhi BOD VI
-
Sepekan Ini Merapi Muntahkan 12 Kali Awan Panas dan 226 Kali Lava Pijar
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
Terkini
-
Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan
-
Belajar dari Gempa 2006, Jogja Memang Istimewa dalam Menangani Bencana
-
20 Tahun Gempa Jogja Mulai Terlupakan, Ancaman Megathrust Masih di Depan Mata
-
Berkas Kasus Daycare Little Aresha Rampung Pekan Depan, Rekonstruksi Tertutup Menyusul
-
Efisiensi Anggaran Paksa Seniman Bertahan Mandiri, Pemda DIY Prioritaskan Agenda Pusat