Meskipun jauh dan harus menempuh medan yang cukup sulit namun ia mengaku sama sekali tidak pernah mengajukan diri untuk pindah mengajar di tempat lain yang jaraknya lebih mudah dan lebih dekat dari rumahnya.
Sarmidi mengaku pernah mendapatkan tawaran untuk pindah ke SD di kawasann Purwosari. Dan iapun langsung mengecek kondisi SD yang berada di Kapanewon Purwosari tersebut. Namun niatnya untuk pindah ia urungkan karena merasa di SD N Gunung Gambar lebih membutuhkannya.
"Di sana itu gurunya sudah lebih banyak dan memadai. Kalau di sini kekurangan guru. Sehingga saya tak jadi pindah," ungkapnya.
Selama 21 tahun mengajar di SD N Gunung Gambar tersebut ia mengalami beberapa kecelakaan dan 2 kali cukup parah. Kecelakaan pertama yang cukup parah ketika dirinya tertimpa pohon yang roboh di Kapanewon Ngawen.
Baca Juga: Minta Guru SD Penyebar Hoaks Presiden Israel Disanksi Berat, PDIP: Biar Jera!
kecelakaan kedua ada di Jalan Palbapang Brosot, di mana ia terlibat kecelakaan beruntun dengan 4 sepeda motor lainnya. Di kecelakaan beruntun tersebut, Sarmidi mengaku tulang belikatnya sebelah kiri patah sehingga memaksanya dirawat di rumah sakit beberapa pekan.
Kepala Sekolah SD N Gunung Gambar Purno Jayusman mengungkapkan, meskipun medan yang ditempuh cukup sulit, namun sebagian besar guru di SD tersebut sangat betah mengajar di SD N Gunung Gambar. Seperti dirinya yang merasa sangat terkesan dengan sikap para siswa yang masih sangat menghormati guru dan memposisikan guru menjadi bagian dari keluarga mereka.
Satu satu sekolah yang melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) selama pandemi Covid-19
SD Negeri Gunung Gambar berdiri sejak tahun 1986 atau sudah berusia 35 tahun ini terletak di Pedukuhan Gunung Gambar, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul sebuah wilayah terpencil jauh dari ibu kota Kabupaten.
Secara Geografis berada di pegunungan Zona Batur Agung Utara wilayah Gunungkidul. Murid muridnya berasal dari tiga Pedukuhan, dari Kapanewon Ngawen, yaitu Pedukuhan Gunung Gambar dan Pedukuhan Kampung, serta dari Pedukuhan Pringombo, Kapanewon Nglipar.
Baca Juga: Terancam Sanksi, Guru SD di Jaksel Menyesal Sebar Hoaks Eks Presiden Israel
"Kami kesulitan melaksanakan pembelajaran daring. Kami memutuskan untuk tetap melaksanakan sistem pembelajaran tatap muka di masa Pandemi. Kendala geografis yang minim sinyal internet menjadi pertimbangan utama," tutur Jayus.
Berita Terkait
-
Liburan ke Gunungkidul? Jangan Sampai Salah Pilih Pantai! Ini Dia Daftarnya
-
35 Tahun Mengabdi, Guru SD di Inggris Dipecat karena Lelucon Akan 'Pukul' Murid
-
3 Gempa Berkekuatan Lebih dari Magnitudo 5 Guncang Indonesia Kurang dari Sehari
-
Tertangkap usai Aksinya Viral! Guru SD di Tangerang Banting Balita Gegara Merengek saat Diajak Keliling Naik Motor
-
Kenali Ciri-Ciri Rip Current, Arus Kuat Pantai Drini yang Seret Belasan Siswa SMP Mojokerto
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
Terkini
-
Cerita UMKM Asal Bantul Dapat Pesanan dari Amerika di Tengah Naiknya Tarif Impor Amerika
-
Diserbu 110 Ribu Penumpang Selama Libur Lebaran, Tiket 50 Perjalanan KA YIA Ludes
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo
-
Jalur Selatan Alami Lonjakan, Polres Kulon Progo Lakukan Buka Tutup Jalur Utama
-
Okupansi Hotel Anjlok 20 Persen di Momen Lebaran, Permintaan Relaksasi PHRI Tak Digubris Pemerintah