SuaraJogja.id - Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang sudah membuka saluran siaga (hotline) sejak beberapa waktu lalu. Hal tersebut guna membantu percepatan penanganan pasien Covid-19 yang memang harus segera membutuhkan pertolongan.
Namun hampir sebulan berlalu ada yang tidak biasa dari sambungan hotline milik TRC BPBD DIY tersebut. Panggilan telepon di saluran siaga itu berdering tak henti-henti khususnya jelang hari memasuki waktu petang.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Komandan TRC BPBD DIY Indrayanto. Menurutnya hal ini menjadi sebuah keanehan yang belum pernah dialami sebelumnya.
"Mulai sekitar Juni tanggal 18 lah kalau tidak salah. Kami coba amati dari hotline terutama, kalau sore kok ramai dan kebutuhannya pasti itu, pasti emergensi. Sebelumnya nggak pernah sama sekali," kata Indra kepada awak media, Minggu (25/7/2021).
Indra menjelaskan ada sekitar delapan line saluran siaga yang siap menerima panggilan emergensi tersebut. Namun ketika waktu mulai memasuki sore menjelang petang semua saluran siaga itu mulai berdering bersahut-sahutan.
Penelepon tidak lain adalah kerabat atau malah anggota keluarga pasien Covid-19 yang tengah menjalani masa isolasi mandiri. Kondisi pasien yang mulai menurun secara drastis menjadi alasan mereka berada di sambung telepon itu.
"Sore itulah telepon hotline akan mulai banyak. Paling banyak napasnya terasa sesak, biasanya permintaannya untuk rujukan ke rumah sakit, butuh ambulans atau butuh oksigen, atau atau butuh baliau bisa bertemu dengan dokter siapa ya yang bisa direkomendasikan untuk konsultasi," ungkapnya.
Indra mengakui pihaknya juga memerlukan waktu untuk menyiapkan semua yang dibutuhkan pasien. Koordinasi antara pihak-pihak lain terus dilakukan dengan harapan pasien dapat segera mendapat penanganan lebih lanjut.
Pihaknya bekerja sama dengan teman-teman Public Safety Center (PSC) yang berada di masing-masing wilayah untuk memastikan. Baik dalam urusan obat dan tindakan yang perlu dilakukan saat itu juga dalam kondisi emergensi.
Baca Juga: Pernyataan Sikap UGM, Fokus Kuatkan Solidaritas dan Gotong Royong Hadapi Pandemi Covid-19
"Tapi kan memang linenya juga enggak banyak. Kalau kita di sini itu ada 8 line, itu mesti muni kabeh [pasti berbunyi semua], lalu PSC cuma 2," ucapnya.
Situasi tersebut, kata Indra, akan berbanding terbalik saat waktu masih berada pagi hingga siang hari. Pada waktu-waktu tersebut panggilan yang masuk ke saluran siaga tidak banyak justru cenderung landa.
Walaupun ada telepon yang masuk, itu pun bukan terkait dengan pasien yang kritis atau kondisi emergensi.
Pasien tidak tertolong
Setelah mendapatkan sejumlah telepon di saluran siaga, TRC BPBD DIY pun akan langsung berkoordinasi dengan sejumlah rumah sakit untuk melakukan tindakan lebih lanjut. Jika memang saat itu pasien sudah dalam kondisi kritis atau emergensi.
Namun berdasarkan hasil survei dan asesmen yang telah dilakukan BPBD DIY kepada berbagai rumah sakit menunjukkan kondisi yang hampir serupa. Rumah sakit rujukan Covid-19 sebagai hilir penanganan pasien memiliki kesamaan dari segi ritme atau periode emergensi itu meningkat.
Berita Terkait
-
Pernyataan Sikap UGM, Fokus Kuatkan Solidaritas dan Gotong Royong Hadapi Pandemi Covid-19
-
Soroti Sense of Crisis, FPRB dan Forkom OMS Desak Pemda DIY Percepat Penanganan Covid-19
-
Kematian Meningkat, Satgas Desa Ikut Bantu Pemakaman dan Pemulasaraan Jenazah Covid-19
-
Kasus Meninggal Saat Isoman Tinggi, TRC BPBD DIY: Dorong Pasien Covid-19 Isolasi ke Selter
-
Percepat Testing Covid-19, DIY Tambah 2 PCR Robotik
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
BRI Perkuat Holding Ultra Mikro, Ekosistem Emas Kelola 153 Ton
-
Qlola New Skin Resmi Diperkenalkan, BRI Tingkatkan Pengalaman Digital Nasabah Bisnis
-
Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
-
Fakta Pahit Buruh Pengupas Bawang di Jogja, Kerja Seharian Hanya Diupah Rp3 Ribu
-
Ospek Bukan Ajang Perpeloncoan, Rektor UNY: Perlakukan Mahasiswa Sebagai Raja-Ratu